Kamis, 21 Februari 2013

TEKNIK DAN CARA BUDIDAYA JAMUR MERANG

Jamur merang (Volvariella volvaceae), sangat dikenal dan diminati orang dibandingkan jamur lainnya. Keunggulan lainnya adalah, disamping pertumbuhan dan panennya cepat, jamur merang ini dapat diusahakan dalam skala kecil dengan sistim bedengan maupun skala besar, dengan sistim kubung. Untuk membudidayakan jamur ini dalam usaha manapun pada prinsipnya sama, yaitu mempunyai banyak hal yang harus dipersiapkan terlebih dahulu. Pertama yang harus dipersiapkan adalah pengetahuan tentang pengenalan dan perilaku dari jamur itu sendiri, sehingga petani dapat mengetahui tahapan pertumbuhan jamur dan persyaratan tumbuhnya. Kemudian yang kedua ketersediaan lahan,tenaga kerja dan tentu saja modal. Produksinya, merupakan komoditi yang mempunyai prospek untuk dikembangkan baik untuk memenuhi permintaan dalam negeri maupun luar negeri. Permintaan pasar akan jamur merang khususnya Daerah Khusus Ibukota Jakarta sangat tinggi hingga mencapai 150 ton perhari. Pada musim kemarau pasokan jamur merang dari petani biasanya mengalami penurunan hingga 20 ton/hari, sehingga harga jamur merang melonjak tinggi, Jenis jamur yang paling banyak dibutuhkan untuk memenuhi permintaan rumah makan china adalah jamur merang, jamur ini dapat dikonsumsi sebagai campuran masakan misalnya bakso, sup dan masakan lainnya. Kegunaan lain adalah dalam upaya memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, karena mengandung protein, karbohidrat dan vitamin B. Berikut akan dikemukakan suatu petunjuk suatu teknologi mpembuatan jamur merang secara praktis dengan system bedengan dalam skala kecil. PEMILIHAN LOKASI Jamur merang tidak memerlukan cahaya matahari yang terlampau banyak. Pada tempat yang teduh atau dibawah pohon yang rindang dan dibawah tanaman yang merambat sangat baik untuk membuat bedengan. Apabila tempat sudah dipilih, bedengan dibuat dengan arah memanjang dari Timur ke Barat. Jamur tidak menyukai tempat yang tergenang air atau tempat yang terlalau kering. Untuk mengindari genangan air dapat diatasi dengan meninggikan tanah alas bedengan. Sedangkan untuk menghindari kekeringan, dibuat saluran air pada sekeliling bedengan. Badengan harus dibuat kokoh agar tidak mudah roboh. Alas bedengan dibuat dari gundukan tanah, sedangkan pada tanah yang berpasir atau tanah lempung dianjurkan untuk menggunakan alas dari kayu, bambu dan bata. BAHAN BEDENGAN Bahan yang biasa digunakan untuk membuat bedengan adalah jerami padi yang sudah kering, Selain itu daun pisang yang sudah kering juga dapat dipakai. Buatlah ikatan jerami/ daun pisang dengan garis tengah 10 cm atau setengah jengkal. Sebagai tali pengikat dapat digunakan serat pelepah pisang. Potong jerami/ daun pisang yang sudah diikat dengan ukuran panjang 40 cm atau 2 jengkal. Untuk satu bedengan dengan ukuran lebar 60 cm dan panjang 160 cm, terdiri dari 6 lapisan yang memerlukan sekitar 90 ikat jerami/ daun pisang. Bila musim kemarau lapisan bedengan dibuat sebanyak 4 atau 5 sedangkan pada musim penghujan harus lebih banyak. Rendamlah ikatan jerami/ daun pisang yang sudah dipotong tadi kedalam air yang bersih, dan sebaiknya pada air yang mengalir. Perendaman dilakukan selama satu malam.Selanjutnya jerami diangkat dari rendaman, dan tiriskan beberapa saat. CARA MEMBUAT BEDENGAN Bedengan yang telah terbentuk sesuai ukuran tadi dilengkapi dengan parit selebar 20 cm, kedalaman parit 15 cm. Jadi untuk satu bedengan hanya memerlukan lahan 2x1 meter. Sediakan dua potong kayu atau bambu, selanjutnya tancapkan masing-masing ditengah dari tepi kedua bagian lebar alas bedenga tadi. Hal ini dimaksudkan agar jerami/ daun pisang yang disusun tidak roboh CARA MENANAM BIBIT. Penanaman bibit dilakukan setelah lapisan bedengan tersusun rapih, dengan jarak 1/2 jengkal ( 10 cm). Caranya bibit diselipkan atau dimasukkan diujung bedenga. Kerangkan penutup bedengan terbuat dari bambu setinggi satu meter. Setelah kerangkan jadi, tutuplah dengan plastik. Penutupan ini dimaksudkan agar suhu dan kelembaban bedengan dapat terjaga. Penutup hanya boleh dibuka setelah bibit jamur yang ditanam telah berumur 5 hari. PEMELIHARAAN. Penambahan air kedalam saluran air disekeliling bedengan sangat dianjurkan untuk menjaga kelembaban dan untuk mencegah bedengan dari gengguan semut/rayap. Penyiraman dengan air sari beras atau sari buncis setelah 5 hari dimusim kemarau harus dilakukan secara perlahan-lahan. Hal ini dimaksudkan agar benang-benang miselium jamur yang sedang tumbuh tidak rusak karena penyiraman. Sedangkan pada musim penghujan, penyiraman tidak dianjurkan. CARA PEMANENAN Pertumbuhan jamur merang dimulai dari ukuran jarum pentul, kancing, telur dan payung. Jamur merang yang dipanen pada ukuran telur, dalam pemanenan tidak menggunakan gunting/ pisau, karena alat tersebut dapat mengakibatkan pembusukan pada jamur. Cara panen yang baik, hendaknya dilakukan dengan tangan. Caranya batang/ pangkal jamur diputar perlahan-lahan sampai jamur terlepas dari bedengan. Jamur yang sudah dipetik sebaiknya diangin-anginkan diatas tempat terbuka agar supaya tidak lekas rusak. PEMASARAN PRODUKSI. Apabila produksi sudah mencukupi kebutuhan konsumsi, sebagian produknya dapat dijual dipasar-pasar lokal, biasanya laku dengan harga yang cukup tinggi. Untuk memperluas pemasaran hasil produksi. Para petani jamur dapat pula bekerja sama dengan koperasi- koperasi setempat. Semakin tinggi pengetahuan dan keterampilan petani dalam membudidayakan jamur merang, maka semakin tinggi pula hasil yang akan diperoleh. Demikian Teknik Pembuatan jamur merang semoga tulisan ini dapat membantu masyarakat pada umumnya dan khususnya para petani yang ingin membudidayakan jamur merang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar