Kamis, 21 Februari 2013

ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PADI VARIETAS CIHERANG DENGAN POLA TANAM JAJAR LEGOWO 2:1 DI DESA DRESIKULON KECAMATAN KALIORI KABUPATEN REMBANG

I. PENDAHULUAN A. Latar belakang Kebutuhan beras sebagai salah satu sumber pangan utama penduduk Indonesia akan terus meningkat seiring pertambahan penduduk dengan peningkatan 1,36 persen pertahun. Dilain pihak terjadi penurunan lahan sawah akibat alih fungsi untuk kepentingan non pertanian, dan produksi sawah irigasi cenderung melandai. Upaya peningkatan Produksi padi dilakukan dengan empat strategi yaitu 1). Peningkatan produktivitas diantaranya melalui SL-PTT 2.)Perluasan areal melalui upaya optimalisasi lahan, 3.)Pengamanan produksi antara lain dengan mengurangi dampak perubahan iklim, pengendalian OPT, pengamanan kualitas produksi dari residu pestisida dan mengurangi kehilangan hasil dan 4.) Kelembagaan dari pebiayaan. Fokus utama peningkatan produktivitas padi tahun 2011 dilaksanakan melalui pendekatan SL-PTT Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) merupakan program pemerintah guna meningkatkan produksi padi secara nasional melalui suatu paket teknologi yang sesuai dan dipilih sendiri oleh petani disertai pendekatan dalam pemecahan masalah dengan bantuan penyuluh pertanian. Pengelolaan tanaman terpadu merupakan suatu usaha untuk meningkatkan hasil padi dan efisiensi input produksi dengan memperhatikan penggunaan sumberdaya alam secara bijak. Adapun Penerapan PTT didasarkan pada empat Prinsip Yaitu: 1. PTT bukan merupakan teknologi maupun paket teknologi, tetapi merupakan suatu pendekatan agar sumber daya tanaman, lahan dan air dapat dikelola sebaik-baiknya 2. PTT memanfaatkan teknologi pertnaian yang sudah dikembangkan dan diterapkan dengan memperhatikan unsure keterkaitan sinergis antar teknologi 3. PTT memeperhatikan kesesuaian teknologi dengan lingkungan fisisk maupun social ekonomi petani 4. PTT bersifat partisipatif yang berarti petani turut serta menguji dan memeilih teknologi yang sesuai dengan keadaan setempat dan kemapuan petani melalui proses pembelajaran. B. Perumusan masalah Padi adalah merupakan salah satu komoditas unggulan pertanian yang menghasilkan bahan pangan berupa beras. Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk maka secara otomatis kebutuhan akan pangan meningkat. Produksi padi sangat berfluktuasi, hal ini di pengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya faktor rendahnya curah hujan, gangguan OPT dan kurangnya penerapan teknologi benih padi unggul bermutu serta teknologi penanganan panen dan pasca panen. Guna lebih meningkatkan produksi padi secara optimal baik kuantitas maupun kualitasnya maka perlu adanya penerapan beberapa inovasi teknologi baru dibidang pertanian diantaranya penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu ( PTT) pada tanaman padi sawah secara benar. A. Tujuan dan Kegunaan Penelitian. Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah:  Menganalisis tingkat pendapatan petani padi di Desa Dresi Kulon Kecamatan Kaliori Kabupaten Rembang  Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat. Antara lain : • Sebagai bahan informasi tentang tingkat pendapatan petani. • Guna membantu petani didalam menganalisis usaha taninya. • Sebagai bahan untuk penelitian lanjutan. II. TINJAUAN PUSTAKA Tujuan dari penerapan PTT adalah untuk meningkatkan pendapatan petani melalui penerapan usaha tani yang cocok untuk kondisi setempat yang dapat meningkatkan hasil gabah dan mutu beras serta menjaga kelestarian lingkungan. Adapun dalam penerapan PTT yang pertama yaitu tidak lagi dikenal rekomendasi untuk diterapkan secara nasional, yang kedua Petani secara bertahap dapat memilih komponen teknologi yang paling sesuai dengan keadaan setempat dan kemampuan petani, yang ketiga Efisiensi biaya produksi lebih diutamakan dan yang ke empat bahwa suatu teknologi saling menunjang dengan teknologi yang lain. Teknologi yang dianjurkan dalam program PTT adalah merupakan teknologi yang dihasilkan oleh lembaga penelitian dan teknologi kearifan yang sudah terbukti unggul untuk lokasi tertentu. Adapun alternativ yang dapat diterapkan adalah sebagai berikut: 1. Varietas unggul baru yang sesuai dengan keraktersitik lahan, lingkungan dan keinginan petani setempat. 2. Benih bermutu (kemurnian dan daya kecambah tinggi) 3. Bibit muda biasanya umur dibawah 25 hari 4. Jumlah bibit 1-3 batang perlubang dan sistem tanam jajar legowo 2:1 atau 4:1 dengan populasi tanaman 250.00 rumpun/ha 5. Pemupukan Nitrogen(N) berdasarkan bagan warna daun ( BWD) 6. Pemupukan P dan K berdasarkan status hara tanah, atau Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) serta pemecahan masalah kesuburan tanah. 7. Bahan organik (kompos jerami 5 ton/ha atau pupuk kandang 2 ton/ha) 8. Pengairan berselang ( Intermittent irrigation) 9. Pengendalian gulma secara terpadu 10. Pengendalian hama penyakit secara terpadu 11. Panen beregu dan pasca panen menggunakan alat perontok. Mengingat terus meningkatnya kebutuhan akan beras yang tidak dapat tercukupi dari produksi dalam negeri, maka upaya peningkatan produksi beras melalui intensifikasi pertanian terus digiatkan, antara lain melalui perbaikan teknik bercocok tanam, penggunaan varietas unggul yang berdaya hasil tinggi serta respon terhadap pemupukan. A. Tanaman Padi Tanaman Padi (Oryza Sativa L) termasuk jenis tanaman semusim, yaitu tanaman yang dapat menyelesaikan satu siklus hidupnya kurang dari satu tahun. Tanaman padi dengan hasil berasnya sampai saat ini masih sebagai sumber karbohidrat terpenting. Tanaman padi dapat hidup dengan baik di daerah beriklim panas yang lembab, yaitu menyangkut; curah hujan, temperatur, ketinggian tempat, sinar matahari, angin dan musim (Siregar, 1981). Pertumbuhan dan hasil tanaman padi di pengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan; yaitu tanah, iklim, biologis, serta faktor sarana produksi, seperti; pupuk, pestisida, varietas padi unggul dan lainnya yang diberikan manusia (Anonim, 1977). Tanaman padi termasuk dalam golongan; Divisio : Spermatophyta Sub divisio : Angioshermae Klasis : Monocotyledoneae Ordo : Graminales Familia : Graminae Genus : Oryzae Spesies : Oryza sativa L Tabel 2.1. Komposisi rata - rata beras pecah kulit dan fraksi - fraksinya (%) Kandungan Beras pecah kulit Beras giling Dedak Lembaga Bekatul Protein (Nx9,95) 7,1 – 13,1 5,6 – 13,3 12,1 –17,2 17,7 – 24,1 12,8 – 16,4 Lemak kasar 1,8 – 4,0 0,2 – 1,1 14,6 – 1,7 15,2 – 23,8 8,8 – 15,3 Serat menu 0,2 – 2,6 0,1 – 0,6 8,7 – 13,1 2,0 – 4,8 2,1 – 5,3 Abu 1,0 – 2,4 0,3 – 0,7 9,0 – 12,2 6,1 – 10,1 5,0 – 9,3 Ekstrak bebas N 74,5 – 90,2 84,0– 93,5 40,9– 49,1 36,2 – 57,3 53,7 – 71,3 Anonim, 1988 Kandungan karbohidrat dalam beras sebagian besar adalah pati dan hanya sedikit protein, selulopsa, hemiselulosa dan gula, antara 85-90 % dari beras kering adalah pati beras (kandungan pentose + 20-25 % dan gula 0,6-1,4 % ) dari beras pecah kulit. Nilai gizi protein beras, dianggap mempunyai nilai gizi yang tinggi diantara protein selulosa lainnya, hal ini disebabkan kandungan lisinnya yang tinggi. Jadi walaupun beras mempunyai kadar protein rendah ( 8,5 % ) tetapi nilai biologik proteinnya tinggi (Anonim,1988) Marfologi suatu tanaman dapat menunjukkan atau menggambarkan produktivitasnya, maka dari suatu usaha untuk menciptakan suatu type tanaman yang ideal. Salah satu bukti kerjasama ahli fisiologi dan pemuliaan adalah ditemukan varietas-varietas baru yang bertypetegak dan respon terhadap pemupukan. Pengenalan terhadap organ atau bagian tanaman tidak dapat dipisahkan dari proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman itu sendiri. Pertumbuhan menyangkut dimensi waktu dan ukuran, oleh karena itu pola pertumbuhan tanaman dapat digambarkan dalam bentuk kurva dan bentuknya adalah Sigmoid. Dalam pertumbuhan sigmoid terdapat 3 bagian dengan memilki cirri-ciri tersendiri yaitu: 1. Fase pertumbuhan eksponensial 2. Fase pertumbuhan linier 3. Fase terdapatnya penurunan laju pertumbuhan sampai terhenti pertumbuhan dan dikuti dengan senescence Pola pertumbuhan padi terdiri dari dua kelompok yaitu Organ Vegetatif dan Organ Generatif. III. KERANGKA PEMIKIRAN. Kerangka Pemikiran Teoritis Pendapatan merupakan balas jasa terhadap setiap faktor produksi, analisis pendapatan mempunyai kegunaan bagi petani maupun pemilik faktor produksi. Dua tujuan utama analisis pendapatan yaitu menggambarkan keadaan sekarang suatu kegiatan usaha dan menggambarkan keadaan yang akan datang dari perencanaan. Suatu usaha dikatakan sukses, apabila situasi pendapatannya memenuhi syarat-syarat; 1 Cukup untuk membayar semua pembelian sarana produksi, termasuk biaya angkutan dan beaya administrasi yang mungkin melekat pada pembelian tersebut. 2 Cukup untuk membayar bunga modal yang ditanamkan, termasuk pembayaran sewa tanah dan pembayaran dana depresiasi modal. 3 Cukup untuk membayar upah tenaga kerja yang dibayar atau bentuk-bentuk upah lainnya untuk tenaga kerja yang tidak diupah ( Soeharjo dan Patong, 1973) Pendapatan petani ada dua yaitu pendapatan total usahatani dan pendapatan tunai usaha tani. Pendapatan total usaha tani merupakan selisih antara penerimaan total dengan beaya total. Pendapatan tunai usaha tani dihitung dari selisih antara penerimaan total dengan beaya tunai 1. Penerimaan Usaha tani Penerimaan usaha tani (Farm Accept) didefinisikan sebagai nilai uang yang diterima dari penjualan semua produk usaha tani ( Soekartawi, et al ,1984 ) Penerimaaan usahatani itu dari semua sumber usahatani meliputi jumlah penambahan inventaris, nilai penjualan hasil, nilai penggunaan rumah dan yang dikonsumsi (Hermanto,1989). Penerimaan usahatani ada dua yaitu penerimaan total usaha tani dan penerimaan tunai usaha tani. Penerimaan usaha tani didefinisikan nilai uang yang diterima dari penjualan produk usaha tani. Penerimaan usaha tani (Total Farm Revenue) adalah nilai uang yang diterima dari penjualan produk usaha tani ditambah nilai untuk konsumsi keluarga. 4. Pengeluaran usaha tani Pengeluaran usahatani terdiri dari pengeluaran tunai dan pengeluaran tidak tunai, Pengeluaran tunai usahatani (Farm Payment) didefinisikan sebagai jumlah beaya yang dikeluarkan untuk pembelian barang dan jasa usahatani. Pengeluaran tidak tunai usahatani adalah pengeluaran yang diperhitungkan yaitu sumber daya untuk petani atau keluarga misalnya pengeluaran untuk penyusutan alat, tenaga kerja dalam keluarga dan sewa lahan (Herbst, 1986) Cara untuk menilai penyusutan suatu barang (Soeharja dan Patong, 1973) Penyusutan = 2W ( n-a+1) n ( n+1) Keterangan: W : Nilai total dikurangi nilai tidak terpakai n : Lama penaksiran a : Tahun pembelian Analisis Imbangan Pengeluaran (R/C Ratio) Salah satu ukuran efisiensi pendapatan adalah Return Cost Ratio atau Imbangan penerimaan. Nilai R/C menunjukkan besarnya penerimaan yang diperoleh dengan pengeluaran satu satuan beaya. Jika nilai R/C > 1 berarti penerimaan yang diperoleh akan lebih besar dari pada tiap unit beaya yang dikeluarkan untuk memperoleh penerimaan tersebut. Jika R/C < 1 maka tiap unit beaya yang dikeluarkan akan lebih besar dari penerimaan yang diperoleh. Alat yang digunakan untuk menganalisis Efisiensi usaha tani adalah R/C Ratio atas beaya total dan R/C atau beaya tunai. IV . METODE PENELITIAN. 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Kelompok Tani Tunggul Wulung, Desa Dresi Kulon Kecamatan Kaliori Kabupaten Rembang. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa lokasi tersebut adalah merupakan salah satu daerah Percontohan Pengelolaan Tanaman Terpadu ( PTT ). Penelitian dilakukan dalam waktu tiga bulan, mulai 1 Desember 2011 s/d 31 Maret 2012. 4.2 Jenis dan sumber data. Jenis data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data skundair. Data primer diperoleh langsung melalui wawancara dengan petani. Data skundair diperoleh dari data Kecamatan dalam angka serta data potensi wilayah Desa Dresi Kulon. 4.3. Metode Pemilihan Responden. Pemilihan responden dilakukan dengan mengambil semua anggota populasi petani peserta kegiatan percontohan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) di Desa Dresi Kulon. 4.4. Pengolahan Data dan Analisis Data Pengelolaan data dilakukan dengan menggunakan alat bantu yaitu kalkulator. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif digunakan untuk melihat kegiatan produksi ditempat penelitian dan berapa hal yang terkait akan di uraikan secara diskriptif dan bila perlu dengan bantuan gambar untuk memperjelas hasil analisis penelitian. Analisis kuantitatif dalam penelitian meliputi analisis pendapatan cabang usaha tani, hubungan penerimaan dan pengeluaran (R/C Ratio) A. Anaisis Pendapatan Usaha tani Usaha tani adalah suatu kegiatan ekonomi yang ditujukan untuk menghasilkan output (penerimaan) dengan input fisik, tenaga kerja dan modal sebagai korbanannya. Penerimaan total adalah nilai produk total usaha tani dalam jangka waktu tertentu. Pengeluaran total usaha tani adalah suatu nilai input yang dikeluarkan dalam proses produksi Pendapatan adalah selisih antara total penerimaan dan total pengeluaran (Soekartawi, et al, 1986.) Rumus penerimaan total, beaya dan manfaat adalah : TR = PY + QY TC = TCC+TUC R = TR-TC Keterangan: TR = Total Penerimaan Usahatani TC= Total beaya Usahatani PY= Harga Output QY = Jumlah Output TFC= Total beaya tetap TVC= Total beaya Variabel. Pengeluaran total dapat dibedakan menjadi dua yaitu pengeluaran tetap dan pengeluaran variable. Beaya variable adalah pengeluaran yang tidak digunakan untuk produksi tertentu dan jumlahnya berubah sebanding dengan besarnya produksi seperti beaya pengeluaran tenaga kerja. Beaya tetap adalah pengeluaran yang tidak tergantung kepada besarnya produksi seperti beaya penyusutan alat-alat pertanian dan pajak. Beaya penyusutan alat-alat pertanian diperhitungkan dengan membagi selisih antara nilai sisa yang ditafsirkan dengan lamanya modal dipakai, metode yang digunakan adalah metode garis lurus. Metode ini digunakan karena jumlah penyusutan alat tiap tahunnya dianggap sama dan diasumsikan tidak laku bila dijual. Rumus yang digunakan adalah, Beaya Penyusutan = Nb-Ns N Keterangan Nb = Nilai pembelian ( Rp ) Ns = Tafsiran Nilai Sita ( Rp ) N = Jangka Usia Ekonomis ( Tahun) Suatu usaha dikatakan efisien secara ekonomis dari usaha lain bila ratio output terhadap inputnya lebih menguntungkan dari usahatani. Return and Cost Ratio (R/C ratio) merupakan perbandingan antara nilai nilai output dan inputnya atau perbandingan antara penerimaan usaha tani dengan pengeluaran usaha tani, setelah diketahui keuntunganannya, kemudian keuntungan dibandingkan dengan menggunakan R/C ratio dengan Rumus: R/C = TR TC Keterangan . TR = Total Penerimaan ( Rp ) TC = Total Beaya ( Rp ) Jika nilai R/C ratio lebih besar dari satu maka usaha tani tersebut layak. Sebaliknya jika nilai R/C ratio kurang dari satu maka usaha tani tersebut tidak layak. Tabel .2 Perhitungan Pendapatan Usaha tani URAIAN JUMLAH FISIK HARGA SATUAN(RP) NILAI ( RP ) Penerimaan 1. Penerimaan tunai 2. Penerimaan tak tunai 3. Total penerimaan 1 2 1+2=3 Beaya Tunai - Pembelian Benih - Pembelian pupuk - Pembelian Pestisida - Tenaga kerja luar keluarga - Pajak Lahan - Sewa Tracktor - Total beaya tunai Beaya tidak tunai - Nilai penyusutan alat pertanian - Nilai tenaga kerja dalam keluarga - Sewa lahan Total beaya Pendapatan atas beaya tunai Pendapatan atas beaya total R/C ratio atas beaya tunai R/C ratio atas beaya total 4 5 4+5=6 3- 4 3- 6 3/4 3/6 Sumber : Hermanto, 1989 V. KEADAAN UMUM DESA DRESI KULON NAMA DESA : DRESI KULON NOMOR KODE : 331 17 09 17 A. Batas wilayah desa UTARA : LAUT JAWA SELATAN : DESA SAMBIYAN BARAT : DESA MOJOWARNO TIMUR : DESA DRESI WETAN B. Luas desa : 568,963 HA Sawah. Pengairan teknis : 205,000 Ha Pengairan ½ teknis : - Pengairan sederhana : 27.000 Ha Tadah hujan : 12,153 Ha Jumlah : 144,153 Ha Tegal : 31,524 Ha Bangunan/ pekar. : 34,034 Ha Tambak : 252,555 Ha Lain-lain : 6,701 Ha C. Jumlah penduduk : 2.103 JIWA Laki-laki : 1053 JIWA Perempuan : 1053 JIWA D. Jumlah tingkat pendidikan Tamat Sekolah Dasar : 228 ORANG Tamat SLTP : 728 ORANG Tamat SLTA : 551 ORANG Tamat AKADEMI : 8 ORANG Tamat Perguruan tinggi : 31 ORANG E. Sstruktur organisasai pemerintahan desa KEPALA DESA : H. HADI SUSANTO SEKRETARIS DESA : MINDARTO KAUR BANG : SUMANI KAUR PEMERINTAHAN : KASNO KAUR KEUANGAN : DJASMANI KAUR KESRA : NGARPANI KAUR UMUM : SUKIRMAN KADUS I : WARLAN KADUS II : M. NURHADI KETUA RW I : M. SUDIMAN RT 01/ RW I : WIDIYANTO RT 02/ RW I : KARNAWI KETUA RW II : SUMARLAN RT 01/ RW II : HARDIMAN RT 02/ RW II : H. SUPARLAN KETUA RW III : SUTARMIN RT 01/ RW III : SUGENG T RT 02/ RW III : SUMARLAN KETUA RW IV : YASIMIN RT 01/ RW IV : SUTENO RT 02/ RW IV : KAMARI RT 03/ RW IV : QOMARI KETUA RW V : JUMARI RT 01/ RW V : MUGIYONO RT 02/ RW V : M. ASROFIN F. Sumber air bersih Sumur gali : 115 UNIT Sumur pompa : 20 UNIT PDAM : 121 PENYALUR Embung : 3 UNIT Depot isi ulang Air : 1 UNIT G. Kelembagaan kelompok tani/gabungan kelompok tani Nama Gapoktan : RUKUN SANTOSO Ketua : M. SUDIMAN Sekretaris : FAROH BUDIANINGSIH Bendahara : JUMARI Manejer : ENDANG MURNI Jumlah anggota : 403 ORANG 1. KelompokTtani Kresno Ketua : JUMARI Sekretaris : SAFARI Bendahara : MUGIYONO Jumlah anggota : 90 ORANG Luas sawah : 75,551 Ha 2. Kelompok Tani Sarutomo Ketua : MOH. NURHADI Sekretaris : PAEMAN Bendahara : SUTENO Jumlah anggota : 93 ORANG Luas sawah : 77, 707 Ha 3. Kelompok Tani Tunggul wulung Ketua : M. SUDIMAN Sekretaris : SURONO, SH Bendahara : TUMARYADI Jumlah anggota : 30 ORANG Luas sawah : 214, 010 Ha 4. Kelompok Tani Ngudi Rahayu Ketua : SUNARTI Sekretaris : ROSYID Bendahara : SUJAT Jumlah anggota : 94 ORANG Luas sawah : 201, 010 Ha 5. Kelompok Wanita Tani Ketua : ENDANG SUSILOWATI, SPd Sekretaris : FARIKA ANDRIYANI, AMd Bendahara : AYU HANDAYANI, SPd Jumlah anggota : 25 ORANG Luas binaan : 50 Ha H. Jenis tanah Jenis tanah Aluvial dengan Topografi datar, pH tanah 6, tinggi tempat 0 - 5 Meter diatas permukaan laut ( DPL ), Struktur tanah ringan , sedang dan berat, untuk struktur tanah yang berat perlu penambahan bahan organik. I. Iklim. Curah hujan rata-rata 1435 mm / tahun , dengan jumlah hari hujan : 83 hh/tahun , jumlah bulan basah 4 bulan ( 100 mm ) dan bulan kering 7 bulan ( 60 mm ) serta bulan lembab 1 bulan ( 60- 100 mm). VI. HASIL DAN PEMBAHASAN Perhitungan Pendapatan Usahatani dalam satu hektar. Uraian. 1.Penerimaan tunai (A) = 6.200 kg x Rp3.300,- Beaya Tunai (B) Pembelian benih = 25 kg x Rp 8.000,- Pembelian Pupuk Urea = 100 kg x Rp 1.800,- SP. 36 = 100 kg x Rp 2.000,- NPK Ponska = 300 kg x Rp 2.300,- Petroganik = 1.000 x Rp 500,- Pestisida = 2 Liter x Rp 75.000,- Tenaga Kerja. Traktor Mencangkul = 10 Orang x Rp 50.000,- Mencabut bibit = 25 Orang x Rp 40.000,- Menanam = 40 Orang x Rp 25.000,- Memupuk = 5 Orang x Rp 40.000,- Menyiang = 30 Orang x Rp 25.000,- Menyemprot = 5 Orang x Rp 40.000,- Panen = 20 Orang x Rp 50.000,- Pajak = Total beaya tunai = (B) Beaya tidak tunai =(C) Tenaga dalam keluarga = 30 Orang x Rp25.000,- Sewa lahan Jumlah beaya tidak tunai Total beaya = ( B+C ) = D Pendapatan atas beaya tunai = (A-B) Pendapatan atas beaya total = (A-D) R/C ratio atas beaya tunai = A/B R/C ratio atas beaya total = A/D Rp 20.460.000,- Rp 200.000,- Rp 180.000,- Rp 200.000,- Rp 690.000,- Rp 500.000,- Rp 150.000,- Rp 700.000,- Rp 500.000,- Rp 1.000.000,- Rp 1.000.000,- Rp 200.000,- Rp 750.000,- Rp 200.000,- Rp 1.000.000,- Rp 150.000,- Rp 7.420.000,- Rp 750.000,- Rp 2.500.000,- Rp 3.250.000,- Rp 10.670.000,- Rp 13.040.000,- Rp 9.790.000,- 2,75 1,91 Berdasarkan analisis hasil usaha tani diatas bahwa, kegiatan Percontohan Pengelolaan Tanaman terapadu (PTT) pada tanaman padi sawah varietas Ciherang dengan Pola Tanam menggunakan sistim Jajar Legowo 2:1 di Kelompok Tani Tunggul Wulung, Desa Dresi Kulon, Kecamatan Kaliori Kabupaten Rembang, memberikan pendapatan atas beaya tunai sebasar Rp 13.040.000,-/Ha dan Pendapatan atas beaya total sebesar Rp 9.790.000,-/ Ha . R/C ratio atas beaya tunai : 2,75 artinya setiap Rp 1,- beaya tunai yang dikeluarkan petani untuk menanam padi sawah, maka akan diperoleh tambahan penerimaan sebesar Rp2,75,- Sedangkan R/C ratio atas beaya total : 1,91 Artinya setiap Rp 1,- beaya total yang dikeluarkan oleh petani untuk menanam padi sawah, maka akan diperoleh tambahan penerimaan sebesar Rp 1,91,- VII. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan . Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa Percontohan usahatani Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi sawah dengan menggunakan Benih Ciherang dan Pola Tanam sistim Jajar Legowo 2:1 di Kelompok Tani; Tunggul Wulung, Desa Dresi Kulon, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang adalah sebagai berikut : Usahatani Percontohan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu padi sawah yang dilaksanakan oleh kelompok tani di desa tersebut memberikan keuntungan, karena diperoleh nilai pendapatan atas beaya tunai sebesar = Rp 13.040.000,- dan nilai pendapatan atas beaya total sebesar = Rp 9.790.000,- Selain itu diperoleh nilai R/C ratio atas beaya tunai sebesar = 2,75 dan nilai R/C ratio atas beaya total sebesar =1,91. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan usaha tani dengan menggunakan teknologi pertanian tersebut mestinya layak untuk dikembangkan di Desa Dresi Kulon. B. Saran. 1. Guna lebih meningkatkan Produksi padi secara optimal, pendapatan petani serta kesejahteraannya, maka Kelompok Tani yang berada di wilayah Desa Dresi Kulon sebaiknya melaksanakan kegiatan Pengelolaan Tanaman terpadu padi sawah dengan menggunakan padi Varietas Ciherang dan sistim pola tanamnya jajar legowo 2:1 2. Peran serta Petani, Kelompok Tani, Gabungan Kelompok tani, Tokoh Masyarakat, Penyuluh Pertanian Lapangan dan Dinas/ Instansi terkait mutlak diperlukan guna lebih mendukung terhadap keberhasilan pertanian khususnya produksi padi. DAFTAR PUSTAKA Anonim, 1982, Vademecum Pertanian tanaman pangan Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Tengah, Semarang -----------, 1988, Vademecum Bimas Volume II, Sekretaris Badan Pengendali Bimas, Jakarta, .....................,2011, Padi Varietas Unggul Sistem Tanam Jajar Legowo,Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah. ..................., 2011, Agribisnis Padi Organik. Badan Koordinasi Penyuluhan Pertanian Provinsi Jawa Tengah. ....................,2011, Pengelolaan Tanaman Terpadu Padi Sawah. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. Jawa Tengah Hadisaputra, Soedarsono, 1975. Pembangunan Pertanian. Departemen Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian UGM, Yogyakarta, Wiratmadja, Soekandar. 1978. Pokok-pokok Penyuluhan Pertanian, CV Yasaguna, Jakarta, Werimon Abraham,1994. Methode Penelitian Sosial, Akademi Penyuluhan Pertanian (APP) Yogyakarta.(mnr)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar