Kamis, 07 Maret 2013

Macam macam penyakit pada tanaman kelapa sawit




1. Penyakit Red Ring
Penyakit ini telah menyebar ke semua perkebunan kelapa sawit yang berada di Amerika Tengah dan Selatan, khususnya di Kolombia penyakit ini dilaporkan di San Alberto pada tahun 1984 dan telah  mematikan tanaman kelapa sawit lebih dari 500  ha (Gomez et al., 2005).

Gejala penyakit. 
Daun-daun bagian bawah menguning kemudian menjalar ke daun-daun bagian atasnya, pelepah daun di bagian tengah mengering, patah dan menggantung. Pertumbuhan daun-daun muda terhambat sehingga daun-daun muda yang muncul menjadi kerdil-kerdil (little leaf symptom). Gejala spesifik dapat dilihat bila tanaman yang sakit batangnya dibelah melintang akan terlihat cincin berwarna merah kecoklatan, begitu juga bila pelepah di potong melintang akar terlihat bercak-bercak berwarna merah salmon (Gomez et al., 2005).
Penyebab penyakit ini adalah nematoda Bursaphelenchus cocophilus(sinonim: Radinaphelenchus  cocophilus) dimana nematoda ini dapat ditularkan ke tanaman kelapa sawit lainnya oleh kumbang moncong Rhynchophorus palmarum.
Potensi resiko. Kemungkinan terbawanya nematoda melalui benih hampir tidak mungkin, tetapi nematoda ini dapat hidup pada palma hias seperti Sabal palmetto dan Phoenix canariensis (Desmier de Chenon et al., 2005) ataupun mungkin pada beberapa palma hias lainnya, untuk itu lalu lintas palma hias dari daerah wabah harus diawasi dengan ketat. Serangga vektor yaitu Rhynchophorus di Asia Tenggara tersedia berlimpah.

2. Penyakit Sudden wilt

Penyakit ini dikenal dengan berbagai nama antara lain penyakit ”Marchitez”, Hartrot maupun Fatal wilt. Penyakit ini sebelumnya dikenal sebagai ”Hartrot disease” pada tanaman kelapa pada tahun 1908 kemudian ditemukan pada kelapa sawit di Suriname tahun 1923 dan di Kolombia pada tahun 1963 dan kini telah menyebar di Ekuador, Peru, Venezuela, Brasil, Nikaragua dan Kosta Rika (Desmier de Chenon et al., 2005). Penyakit ini bersifat mematikan (lethal) dan segala umur tanaman kelapa sawit dapat diserang, tetapi yang paling rentan tanaman umur antara 3-5 tahun. Kerugian berupa kehilangan hasil akibat serangan penyakit ini bisa mencapai 80 % (Gomez et al., 1996).

Gejala penyakit. 
Gejala spesifik ditandai dengan perubahan warna daun-daun bagian bawah yang berwarna coklat kemerahan kemudian menyebar ke seluruh daun sehingga tanaman tampak seperti terbakar. Penyakit ini dapat menyerang tandan buah dimana buah kelapa sawit menjadi busuk dan berguguran, selain itu juga terjadi pembusukan pada bunga jantan maupun akar tanaman kelapa sawit. Tanaman yang terserang penyakit ini mengakibatkan kematian setelah 1-2 bulan sejak gejala penyakit pertama kali terlihat (Martinez, 1985). Penyakit ini disebabkan oleh Phytomonas staheli ( Dollet et al., 1996) jenis protozoa berflagela dan sebagai vektornya berupa serangga kepik dari famili Pentatomidae yaitu Linchus spp (Desmier de Chenon et al., 2005).
Potensi resiko. Di Amerika Selatan, Phytomonas dapat hidup pada tumbuhan gulma famili Euphorbiaceae dan beberapa spesies gulma tersebut dijumpai di Asia Tenggara, antara lain Euphorbia heterophylla dan E. hirta dimana kedua gulma tersebut direkomendasikan di perkebunan kelapa sawit sebagai sumber nektar bagi musuh alami terutama parasitoid (Desmier de Chenon et al., 2005). Untuk itu penggunaan gulma tersebut di perkebunan kelapa selalu di monitor.

3. Penyakit Busuk Umbut (Bud rot, Pudricion del cogollo)

Penyakit busuk umbut (Bud rot, Pudricion del cogollo)
Penyakit ini merupakan penghambat utama pengembangan perkebunan kelapa sawit di Amerika Tengah dan Selatan. Kerusakan berat akibat penyakit ini sering dilaporkan di beberapa kebun sawit, sebagai contoh pada tahun 1990 luas perkebunan kelapa sawit di Suriname 5.425 ha tetapi pada tahun 2000 tinggal 40 ha, di Ekuador gejala penyakit ini muncul pada tahun 1992-1993 di tanaman muda di kebun Shushufindi (5000 ha) dan Huashito (5000 ha) dan pada tahun 2000 kedua kebun tersebut telah porak-poranda akibat penyakit ini (Franqueville, 2001). Kerusakan akibat penyakit ini dapat bersifat: mematikan (lethal) terutama dijumpai di Ekuador, Brasil dan Suriname dan yang bersifat tidak mematikan (non-lethal) dimana tanaman kelapa sawit yang menderita akibat penyakit ini dapat pulih kembali, gejala ini dijumpai di Kolombia

Gejala penyakit. 
Penelitian untuk mengidentifikasi penyebab penyakit ini telah dilakukan sejak 25 tahun yang lalu tetapi hingga kini penyebab penyakit ini belum diketahui.  Kontroversi mengenai penyebab penyakit apakah disebabkan oleh faktor biotik (patogen) atau abiotik (gangguan fisiologis) masih terus berlangsung terutama adanya gejala yang bersifat mematikan (lethal) yang diduga disebabkan oleh patogen dan gejala yang bersifat tidak mematikan (non-lethal) dimana dengan perbaikan drainase dan pemupukan berimbang tanaman dapat sembuh kembali (Gomez et al., 2005). Gejala penyakit pertama kali ditandai klorosis pada daun-daun muda yang belum membuka (Swinburne, 1993) kemudian disusul dengan pembusukan daun-daun tersebut dengan tesktur busuk basah yang merambat mengarah pada jaringan meristem titik tumbuh. Bila pembusukan tidak sampai pada titik tumbuh, tanaman dapat bertahan dan sembuh kembali yang ditandai munculnya daun-daun baru yang kerdil.
Potensi resiko. Dalam kasus penyakit busuk umbut yang hingga kini belum dapat ditentukan penyebab penyakitnya namun penyakit ini mempunyai pola penyebaran mirip layaknya penyakit yang disebabkan oleh patogen sehingga penyakit ini perlu selalu diwaspadai penyebarannya.

4. Busuk Pangkal Batang

Penyakit ini memiliki banyak nama di seluruh dunia, tetapi selalu menjadi penyakit yang mematikan pada kelapa sawit. Busuk pangkal batang kelapa sawit disebabkan oleh jamur Ganoderma. Jamur Ganoderma lebih dikenal sebagai obat herbal di China, Korea dan Jepang. Ganoderma tergolong dalam kelas Basidiomycetes, penyebab utama penyakit akar putih pada tanaman berkayu dengan menguraikan lignin yang mengandung selulosa dan polisakarida. Ganoderma dapat tumbuh dengan baik pada media buatan dengan memproduksi organ somatif. Pengisolasiannya dapat dilakukan dengan menanam jaringan sakit atau bagian dari jaringan korteks basidiokarp. Ganoderma yang ditumbuhkan pada media PDA (Potato Dextrose Agar) dapat tumbuh lebih baik daripada yang ditumbuhkan di media MA (Malt Agar), MEA (Malt Extract Agar), CMA (Corn Meal Agar), dan CDA (Czapek’s Dox Agar). Media LBA (Lima Bean Agar) lebih baik dibandingkan RDA (Rice Dextrose Agar), sama dengan PDA.
Penyakit ini memiliki banyak nama di seluruh dunia, tetapi selalu menjadi penyakit yang mematikan pada kelapa sawit. Busuk pangkal batang kelapa sawit disebabkan oleh jamur Ganoderma. Jamur Ganoderma lebih dikenal sebagai obat herbal di China, Korea dan Jepang. Ganoderma tergolong dalam kelas Basidiomycetes, penyebab utama penyakit akar putih pada tanaman berkayu dengan menguraikan lignin yang mengandung selulosa dan polisakarida. Ganoderma dapat tumbuh dengan baik pada media buatan dengan memproduksi organ somatif. Pengisolasiannya dapat dilakukan dengan menanam jaringan sakit atau bagian dari jaringan korteks basidiokarp. Ganoderma yang ditumbuhkan pada media PDA (Potato Dextrose Agar) dapat tumbuh lebih baik daripada yang ditumbuhkan di media MA (Malt Agar), MEA (Malt Extract Agar), CMA (Corn Meal Agar), dan CDA (Czapek’s Dox Agar). Media LBA (Lima Bean Agar) lebih baik dibandingkan RDA (Rice Dextrose Agar), sama dengan PDA.


Gejala awal penyakit sulit diidentifikasi dikarenakan perkembangannya yang lambat dan dikarenakan gejala eksternal berbeda dengan gejala internal. Sangat mudah untuk mengidentifikasi gejala di tanaman dewasa atau saat telah membentuk tubuh buah, konsekuensinya, penyakit jadi lebih sulit dikendalikan. Gejala utama BSR adalah terhambatnya pertumbuhan, warna daun menjadi hijau pucat dan busuk pada batang tanaman (Gambar 2 dan Pada tanaman belum menghasilkan, gejala awal ditandai dengan penguningan tanaman atau daun terbawah diikuti dengan nekrosis yang menyebar ke seluruh daun. Pada tanaman dewasa, semua pelepah menjadi pucat, semua daun dan pelepah mengering, daun tombak tidak membuka (terjadinya akumulasi daun tombak) dan suatu saat tanaman akan mati (Purba, 1993).

5. Busuk Daun

Antraknosa
Penyakit antraknosa merupakan sekumpulan nama infeksi pada daun bibit-bibit muda, yang disebabkan oleh 3 genera jamur patogenik, yaitu Botryodiplodia spp., Melanconium elaeidis dan Glomerella cingulata. Spora dihasilkan di dalam piknidia atau aservuli, menyebar dengan bantuan angin atau percikan air siraman atau hujan (Turner, 1971 dan 1981 ; Barnet dan Hunter, 1972 ; Domsch, Gams dan anderson, 1980). Penyakit ini telah dilaporkan terdapat di berbagai perkebunan kelapa sawit di Indonesia (Turner, 1981 ; Purba dan Sipayung, 1986 ; Purba, 1996d, 1996f, 1997d dan 1999a).

Gejala
Terutama menyerang bibit pada umur ³ 2 bulan. Kadang-kadang dijumpai bersamaan dengan gejala transplanting shock(cekaman pindah tanam). Gejala biasanya dijumpai pada bagian tengah atau ujung daun, berupa bintik terang yang selanjutnya melebar dan menjadi kuning dan coklat gelap. Jaringan sakit selanjutnya nekrosis, bercak meluas dengan batas antara bercakdengan jaringan sehat berwarna kuning.Bercak kadangkala memanjang sejajar tulang daun.

Faktor pendorong
Jarak antar bibit yang terlalu rapat (< 90cm). Keadaan pembibitan yang terlalu lembab.Kelebihan air siraman dan naungan di PA. Pemindahan bibit dari PA ke PU dan penggemburan tanah yang kurang hati-hati.

Pengendalian
Mengurangi penyiraman dan naungan di pembibitan awal, sehingga mengurangi kelembaban. Pemindahan bibit dan penggemburan tanah harus dilakukan dengan hati-hati. Menjarangkan letak bibit menjadi ³ 90 cm. Mengisolasi dan memangkas daun-daun sakit dengan gejala ringan-sedang, selanjutnya disemprot dengan fungisida ziram, thiram, kaptan atau triadimenol dengan konsentrasi 0,1-0,2% dengan pusingan 7-10 hari, atau dengan thibenzol dengan konsentrasi 0,1% dengan pusingan 10-14 hari, daun-daun pangkasan harus dibakar. Memusnahkan bibit yang terserang berat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar