Tampilkan postingan dengan label TANAMAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TANAMAN. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 April 2013

PESTISIDA NABATI UNTUK PENGENDALIAN HAMA TANAMAN PERTANIAN YANG RAMAH LINGKUNGAN.

Arah dan program pembangunan sekarang ini memberikan petunjuk, bahwa tantangan terhadap aktivitas pertanian Akan semakin kuat dari tahun ketahun. Upaya pembangunan pertanian dilakukan melalui empat cara yaitu, Intensifikasi, Rehabilitasi, diversifikasi dan ektensifikasi. Adapun yang paling penting dalam pembangunan pertanian adalah melalui intensifikasi, secara teknis program ini adalah introduksi varietas unggul penggunaan pupuk berimbang, peningkatan frekuensi tanam, terutama untuk tanaman semusim, perbaikan irigasi dan penggunaan pestisida terutama pada awal program intensifikasi. Salah satu kendala penggunaan pestisida kimiawi dalam program pertanian adalah kendala ekologi. Penggunaan pestisida serampangan atau dosis yang kurang tepat dapat menimbulkan eksplosif hama dan perkembangan lebih lanjut banyak yang ditimbulkan akibat penggunaan pestisida kimia baik secara langsung maupun tidak langsung terjadi resistensi, rezurgensi dan eksplosifnya hama-hama baru. Akibat dampak negative tadi mendorong para ahli berfikr untuk kembali ke produk-produk alami yang khususnya menggunakan bahan tumbuhan sebagai bahan aktif pestisida yang dikenal dengan nama pestisida Nabati. SEBENARNYA APAKAH PESTISIDA NABATI ITU Pestisida nabati adalah ramuan pestisida yang menggunakan bahan aktifnya dari produk tumbuh-tumbuhan. Sebenarnya penggunaan ramuan atau formulasi dari produk alami tumbh-tumbuhah ini sudah sejak lama dikenal oleh petani Indonesia. Menurut Gatot Kartono dan Trihadiyani (1994). Formulasi pestisida nabati dikenal sejak tahun 1909 dan penggunaannya pada tahun 1939, namun perhatian terhadap pestisida nabati ini terhenti ketika pestisida kimia yang mempunyai keampuhan untuk mematikan hama ditemukan, dan setelah terbukti DDT mampu menekan dan mematikan nyamuk sebagai pembawa penyakit malaria yang saat itu merupakan penyakit yang menghantui dunia. Sejak itulah orang berpaling dari pestisida nabati ke pestisida kimia, mereka menganggap sebagi dewa penolong dalam produksi pertanian. Pengalaman pada pengendalian hama tanaman padi, palawija dan sayuran menunjukkan bahwa penggunaan pestisida kimiawi ditingkatkan, ternyata masalah hama masih menjadi kendala dan bahkan semakin merajalela serta menggenaskan, hal ini disebabkan karena ; 1. Hama menjadi kebal terhadap formulasi pestisida kimia. 2. Musuh alami predator dan parasit mati akibat pestisida kimia 3. Hama memperlihatkan rezurgensi terhadap formulasi pestisida kimia. Kecuali hal tersebut diatas timbul dampak negative akibat-akibat penggunaan pestisida kimia antara lain: a. Serangga penyerbuk bunga dan hewan ternak juga ikut mati. b. Polusi udara, air dan tanah tidak dapat dihindarkan. c. Kecelakaan pada manusia dengan terjadinya keracunan kronis, Dari dampak negative penggunaan pestisida kimia tersebut pemerintah merubah kebijaksanaanya dalam masalah penaggulangan hama, yakni dengan menggunakan pestisida lain. Pendekatan menggunakan secara konprenhensif berdasarkan prinsip-prinsip ekologi, Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) yang merupakan tindak lanjut dari kebijaksanaan pemerintah yang memasyarakatkan antara lain pengetahuan yang mendalam tentang interaksi antara komponen–komponen agro ekosistem (Kelompok hama tanaman, musuh alami, agronomi, kondisi cuaca dan factor manusia sebagai pengelola) Pestisida nabati perlu disajikan sebagai alternative substitusi pestisida kimia karena pestisida nabati mempunyai kelebihan antara lain aman terhadap lingkungan, hampir tidak meninggalkan residu, mudah diperoleh serta relative murah harganya. Reaksi pestisida nabati terhadap hama dapat secara kontak, fumigasi dan racun kontak, meskipun reaksinya agak lambat, hal in i cenderung musuh alami memakan lebih cepat. Gejala keracunan hama oleh pestisida nabati adalah terjadinya gerakan serangga yang kurang aktif baik dalam kegiatannya merusak tanaman, bahkan timbulnya kelumpuhan hama itu sendiri. JENIS-JENIS TUMBUHAN SEBAGAI PESTISIDA NABATI. Sekarang para ahli mulai mencari dan meneliti tumbuhahn yang mengandung bahan aktif sebagaai pestisida nabati. Beberapa tumbuhasn yang dapat diperhatikan antara lain mimba (Azadiracta indica), tembakau (Nicotianan tabacum). Tuba (Derriseleptica) dan Mindi (Melbia sp). Karena dari formulasi tumbuhan tersebut dapat mengendalikan bahkan menekan larva penggerek daun dan batang pada berbagai jenis tanaman pertanian. Nicotin pada tumbuhan sangat efektif untuk Aphida dan serangga berbadan lemah lainnya yang menimbulkan gejala kejang lumpuh dan mati ( Matsumura, 1976) Memang secara khusus belum banyak penelitian tentang pengunaan pestisida nabati untuk mengendalikan berbagai jenis hama tanaman pertanian di Indonesia, dapat dilihat dalam table berikut ini. JENIS TUMBUHAN PESTISIDA NABATI NO TUMBUAHN BAHAN AKTIF KETERANGAN 1. Mimba Mimba Ekstrak daun 2. Tuba Derris Ekstrak akar 3. Cikusau Paretmins Ekstrak daun dan batang 4. Cengkeh Eugenol Ekstrak buah dan bunga 5. Gandum Alkaloid Ekstrak umbi 6. Lada hitam Alkaloid Bubuk, buah 7. Vatey trifolia Alkoloid Ekstrak daun 8. Duku Alkoloid Ekstrak kulit buah 9. Mindi Alkoloid Ekstrak daun 10. Arona galabia Alkoloid Ekstrak biji 11. Bengkoang Alkoloid Ekstrak biji 12. Nilam Oil resin Ekstrak biji 13. Jambu mete Oil resin Ekstrak minyak kulit biji 14. Kecubung Oil resin Ekstrak bunga 15 Sawolucin Oil resin Ekstrak biji 16. Kluwih Oil resin Ekstrak biji 17. Temu HItam tumerol Ekstrak rimpang 18. Kencur tumerol Ekstrak rimpang 19. Kunyit tumerol Ekstrak rimpang Konsep penggunaan pestisida nabati cukup besar dan penting sebagai substitusi pestisida kimia, karena mempunyai kelebihan, aman terhadap lingkungan, tidak meninggalkan residu, mudah diperoleh dan harganya relatih murah. Pencarian dan penelitian penggunaan pestisida nabati belum begitu luas, sehingga dapat merupakan peluang bagi peneliti dan agro industry khususnya pestisida nabatai Demikian manfaat penggunaan pestisida nabati yang ramah lingkungan semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi yang memerlukannya(mnr)

SIPUT MURBEI ATAU KEONG EMAS MERUPAKAN SALAH SATU HAMA TANAMAN PADI

Siput Murbei (Pomaceae) mendapat julukan nama ini dikarenakan bentuk telurnya seperti buah murbei dengan warna merah jambu. Disebut juga dengan naman Keong Mas, karana warna cangkangnya yang berwarna kuning keemasan sehingga menarik bagi yang melihatnya, sedang dinegeri asalnya yaitu Amerika serikat siput ini dinamakan Golden Snail Kuhol. Siput murbei termasuk dalam Famili Ampuloracideae Kelas Gastropoda. Filum Molusca. Berbeda dengan siput biasa siput ini selain memiliki warna telur yang berbeda, cangkangnya juga lebih tipis dan lebih rapuh. Berkembang biak lebih cepat dan pesat serta makannya lebih rakus (Herbisor Polivagis). Pada kondisis lingkungan yang sesuai siput ini akan memeprcepat pertumbuhan dan perkembangannya, adapun besar dan ukuran tubuh siput ini dapat mencapai dimater 6-8 cm. PEREKEMBANGAN. Setelah mengadakan perkawinan antara siput jantan dan betina, maka siput betina mampu bertelur 300-500 butir tiap ekor. Induk yang besar bertelur lebih banyak dibandingkan dengan yang kecil. Tiap induk dalam 1 bulan mampu bertelur 15 kali. Telur diletakkan diatas permukaan tanah atau menempel pada batang padi, tanaman pematang atau akar akar pohon agar memeproleh suhu yang tinggi dan sinar matahari, selanjutnya dalam jangka waktu 14-17 hari telur sipu ini sudah mulai menetas. Keong mas ini tiap induk dalam waktu 1 bulan mampu memproduksi telur 4.500 s/d 7.500 butir. Perkembangan lebih cepat bila hidup pada lingkungan sawah yang rawa dengan makanan tersedia cukup banyak dan tidak ada predator bagi telur keong ini seperti ikan, burung, semut atau tikus. Keunikan yang terjadi pada perkawinan keong atau siput ini adalah biasanya dua keong jantan sering mengawini satu keong betina secara bersamaan atau bersama-sama dalam waktu yang sama pula. ASAL MULA SIPUT MURBEI Siput murbei konon kabarnya berasal dari negeri paman sam, di Asia berkembang mula dari Philipinan masuk ke Indonesia dengan tujuan sebagai hiasan pengisis aquarium. Setelah lama kelamaan pemiliknya bosan akhirnya membuang siput ini begitu saja, sehingga berkembang biak di perairan umum. Karena keong ini perkembangannya sangat pesat. Kemudian ada usaha untuk membudidayakan keong ini sebagai bahan makanan ternak atau juga untuk dikonsumsi sebagai lauk pauk. Siput ini ternyata sangat baik dijadikan sebagai pakan ternak khususnya itik atau bebek, lele dumbo dan ternyata mampu meningkatkan produksi telur itik yang sangat signifikan. Keong ini ternyata juga dapat dikonsumsi oleh manusia dalam bentuk menu masakan seperti sate keong, gulai atau pepes keong. Akan tetapi sampai saat ini jumlah pengkonsumsi keong ini masih relatih rendah jumlanya karena belum dikembangkan adanya resep masakan yang lebih menarik bagi konsumen khususnya resep masakan dari keong mas ini. PENYEBARAN. Penyebaran keong mas ini dibantu oleh manusia, lalu lintas air seperti perahu yang membawa telur-telur menempel. Aliran air dan adanya banjir sangat mempercepat proses penyebaran keong ini. Pada perairan yang menggenang sepanjang tahun keong ini sulit dimusnahkan. Bila musim kemarau dating dan persawahan kering siput ini mampu bertahan di tanah dengan bertapa tanpa melakukan aktivitas selama 3-5 bulan. BIla musim hujan datang keong ini hidup kembali dan aktivitas seperti biasanya. Biasanya keong ini berada pada posisis lubang cangkang di atas untuk menahan simpanan air yang ada didalamnya, kemudian menutupnya dengan rapat rapat. KEONG INI BERPOTENSI SEBAGAI HAMA TANAMAN PADI YANG SANGAT MERUGIKAN Karena sifat dari keong ini yang herbifor polifagus, perkembangannya yang sangat cepat dan pesat, mudah beradaptasi dengan lingkungan, maka siput ini sangat potensial sebagai hama perusak tanaman padi atau tanaman kangkung di persawahan. Keong yang berukuran diameter 0,5 -1 cm saja telah mampu memakan tanaman. Bibit dan tanaman muda yang baru ditanam merupakan masa kritis bagi serangan siput ini . Pada populasi 30 ekor/ m2 tanaman padi muda menjadi puso dalam waktu semalam saja. Pada tanaman padi yang sudah berumur cukup dewasa siput ini memakanan tunas -tunas muda, sehingga anakan padi menjadi berkurang. Aktivitas makan, kawin ,migrasi, bertelur lebih banyak dilakukan hama keong ini pada malam hari, karena keong ini tidak tahan terhadap terik sinar matahari yang menyengat. CARA PENGENDALIAN Cara pengendalian siput murbei sampai saat ini masih menggunakan pengendaalian secara mekanis atau fisk yaitu dengan cara menangkap siput-siput tersebut kemudian dikumpulkan, selanjutnya untuk dijadikan pakan ternak seperti itik atau lele dumbo atau bahkan untuk dikonsumsi sebagai lauk pauk dalam bentuk olahan atau masakan sate keong, pepesan keong atau gulai keong dan banyak lagi cara yang lainnya. Demikian tulisan tentang siput murbei yang banyak merugikan petani padi, semoga tulisan ini dapt bermanfaat bagi yang memerlukannya

Senin, 22 April 2013

CARA PENANGGULANGAN SERANGAN HAMA ULAT GRAYAK PADA TANAMAN PADI

Ulat Grayak merupakan salah satu hama yang akhir-akhir ini banyak menyerang tanaman padi. Dahulu ulat ini sering disebut sebagai ulat tentara. Menyerangnya pada malam hari, sedangkan pada siang hari ulat ini bersembunyi dibawah tanaman padi atau di dalam tanah Selain menyerang tanaman padi ulat ini dapat pula menyerang tanaman lain seperti tanaman jagung, gandung dan tanaman sayur-sayuran. Ada tiga jenis ulat grayak yang kita kenal yaitu; Ulat Grayak kelabu (Leucania unipuncta), Ulat Grayak coklat hitam (Spodoptera maurita) dan ulat Grayak bergaris kuning (Laphygma exemta). Masing-masing ulat tersebut mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: 1. ULat Grayak Kelabu (Leucania unipuncta). Ulat ini bertelur dalam kelompok yang terdiri dari 90-230 butir rata-rata 100 butir yang dilindungi oleh suatu substansi yang berwarna putih, diletakkan pada upih atau tangkai daun padi. lama stadium telur 7-9 hari. Larva berwarna kelabu dengan kepala coklat hitam, mempunyai enam instar, stadium larva 28 hari, kepompong umunya berada di dalam tanah dan stadium larvanya mencapai 29 hari atau rata-rata 16 hari. sehingga siklus hidup secara keseluruhan selama 30-36 hari 2. ULat Grayak Coklat Hitam (Spodoptera maurita) Ulat Grayak ini bertelur sebanyak 150-200 butir yang diletakkan berkelompok pada permukaan bawah daun padi atau rumput. Stadium telur 5-9 hari. Larva ulat ini berwarna coklat sampai coklat hitam dan pada punggungnya terdap[at tiga garis yang berwarna lebih muda mempunyai, tingkatan hidup atau instar sampai lima, Stadium larva selama 22 hari, kelompong diletakkan di bagian bawah, berwarna coklat gelap, stadium kepompong 10-14 hari. Sedangkan siklus keseluruhan antara 20 -31 hari. 3. Ulat Grayak bergaris kuning (Laphygma exemta) Pada ulat Grayak ini telur diletakkan pada permukaan daun padi, jumlah telur 150-200 butir yang diletakkan secara berkelompok. Lamanya stadium telur 2-3 hari, larva sampai instar enam lama stadium larvanya 11-12 hari. Pupa umumnya berada dalam tanah, lama stadium pupa 5-10 hari. Sehingga siklus hidup secara keseluruhan selama 20-30 hari. Gejala serangan ulat grayak Ulat grayak coklat hitam, biasanya menyerang pesemaian padi yang sudah tua, semula yang diserang hanya pada bagian pinggirnya saja, akan tetapi kemudian pada seluruh pesemaian akan diserangnya pula. Sedangkan ulat grayak kelabu biasanya menyerang tanaman padi di areal pertanaman. Tanaman padi yang diserang umumnya tanaman padi yang sudah tua, dengan memakan daun daunnya, tangkai daun putus bahkan tanaman padi muda bisa menjadi habis. Ulat Grayak bergaris kuning justeru yang dimakan atau yang diserang tanaman padi yang masih muda. Selaian itu juga ulat ini dapat menyerang tanaman jagung, tebu, padi gogo dan tanaman palawija lainnya. Cara mengatasi serangan ulat grayak Ada beberapa cara untuk mengatasi serangan hama ulat grayak ini antara lain : a. Secara fisik, yaitu dengan jalan mencari ulat-ulat tersebut kemudian ditangkap dan dibunuhnya. Hal ini dapat dilakukan apabila intensitas serangannya masih sangat ringan atau rendah b. Pada saat pertumbuhan pada fase vegetative, lakukan pengamatan di lapangan. apabila dalam pengamatan di dapatkan ulat grayak sebanyak 2 ekor untuk tiap meter persegi, maka pemberantasan dengan menggunakan insektisida harus segera dilakukan. Dalam melakukan penyemprotan ini harus diperhatikan beberapoa hal antara lain: • Lakukan penyemprotan pada saat ulat grayak ini keluar dari tempat persembunyiannya yaitu pada waktu pagi hari atau sore hari. • Ikuti petunjuk-petunjuk yang tertera pada label bungkus insektisida yang digunakan agar tidak terjadi kesalahan dalam pengggunaannya. Adapun insektisida yang dapat digunakan untuk pemberantasan ulat ngrayak ini antara lain; Agrothion 50 EC, Azodrin 15 WSC, Ambush 2 EC. Basudin 60 EC. Bayrusil 250 EC dan insektisida lainnya Demikian cara penanggulangan atau mengatasi serangan hama ulat grayak pada tanaman padi semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi petani yang memerlukannya. (mnr)

Jumat, 19 April 2013

MANFAAT PENGHIJAUAN ADALAH UNTUK PELESTRAIAN SUMBERDAYA ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP

Dalam arti luas penghijauan adalah segala daya upaya manusia untuk memulihkan, mempertahankan dan mengembangkan kondisi tanah beserta semua kelengkapannya. Tergantung kepada kondisi dan peruntukan tanahnya. Penghijauan dilaksanakan melalui berbagai macam bentuk pendekatan dan budidaya, seperti reboisasai di kehutanan, penghijauan di pertanian, peremajaan di perkebunan dan perumputan di peternakan. Semua bentuk kegiatan ini bertujuan untuk menjaga agar tanah dapat berfungsi sebagai unsure produksi, pengatur tata air dan pelindung alam lingkungan HUBUNGAN MANUSIA DENGAN ALAM. Manusia dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan hidupnya, akan selalu memerlukan dan menggunakan sumber-sumber alam. Ada dua penggolongan sumber-sumber alam yaitu: 1. Sumber alam yang berupa hasil tambang, seperti tambang emas, minyak bumi, batu bara dan gas bumi 2. Sumber alam yang berupa tumbuh-tumbuhan dan hewan, seperti pepohonan, rumput, hewan seperti sapi, kerbau, burung-burung, hutan dan ikan. • Hasil-hasil tambang bila diambil secara terus menerus, lama kelamaan akan habis dan manusia tidak berdaya untuk sengaja membuat atau memulihkannya kembali • Sedangkan sumber-sumber alam yang berupa tumbuh-tumbuhan dan hewan, walaupun diambil terus menerus akan dapat tumbuh dan berkembang lagi, apabila dilakukan usaha-usaha pemeliharaan dan pemulihan kembali. • Dengan kata lain kelestarian sumber-sumber alam yang berupa tumbuh-tumbuhan dan hewan, sangat tergantung kepada kegiatan manusia dalam memanfaatkannya. Perladangan dan pengembalaan liar , cara bertani yang salah. Penyerobotan tanah. Penebangan hutan dan pohon dengan semau maunya dan pembakaran di kawasan hutan, merupakan tindakan manusia yang dapat merusakkan kelestarian alam, yang pada akhirnya akan mengakibatkan terjadinya tanah-tanah kritis yang tidak memberikan manfaat bagi manusia, bahkan akan menimbulkan mala petaka. • Adalah kewajiban kita semua bahwa disamping menggunakan sumber alam tersebut kita harus juga memeliharanya dan mencegahnya dari kerusakan. Untuk tujuan inilah kita melaksanakan penghijauan, antara lain dengan membuat teras-teras, melakukan pemupukan dan menanami tanah-tanah gundul serta tanah-tanah kritis lainnya. MANFAAT PENGHIJAUAN Penghijauan yang dilakukan dalam berbagai bentuk kegiatan tersebut, banyak memberikan manfaat bagi kita, baik secara langsung maupun tidak langsung. 1. Manfaat langsung  Dengan menanam tanaman penghijauan seperti lamtoro, akasia, kaliandra dan gamal, kayunya dapat dibuat kayu bakar dan arang. Sedangkan kayu pinus, albasia, sono keling dan mahoni dapat dipakai untuk bahan pembuatan perkakas rumah tangga dan bahan bangunan.  Beberapa tanaman, seperti nangka, mangga, durian, adpokat, rambutan dan petai memberikan hasil yang dapat dikonsumsi dan di jual dipasar  Tanaman penghiujauan yang berupa cengkeh, coklat, kopi, kayu mais, teh, pala dan kelapa hasilnya dapat menambah pendapatan yang tidak sedikit jumlahnya bagi kelurga.  Tanaman penghijauan seperti belimbig dan kayu putih dapat digunakan sebagai bahan ramuan obat-obatan  Hasil rumput rumputan dan daun-daunan dari tanaman tertentu dapat dijadikan sebagai pakan ternak. 2. Manfaat tidak langsung  Pepohonan dan rumput-rumputan melindungi kelestarian tanah dan air. pohon dan pelindung tanah lainnya adalah pengendali air bagi kehidupan kita. Tanam,an yang menutup tanah akan menahan air hjan sehingga air hujan tidak langsung jatuh kepermukaan tanah. Apabila air hujan jatuh langsung ke permukaan tanah, butur-butir tanah akan pecah dan menutupi pori-pori tanah, akibatnya air tidak dapat meresap ke dalam tanah. Air ini akan mengalir dan mengikis serta membawa butir-butir tanah. Peristiwa ini disebut aliran permukaan atau RUN OFF yang apabila jumlahnya besar akan terjadi erosi. Erosi yang berkelanjutan akan menyebabkan pendangkalan sungai. Akibatnya bila musim hujan tiba akan mengakibatkan terjadinya banjir.  Daun-daun yang berguguran akan membentuk lapisan humus yang mampu menyerap air dengan baik dan dapat menyuburkan tanah.  Tanah yang subur dengan air yang cukup akan memberikan hasil yang memuaskan bagi segala jenis usaha tani, yang akan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat tani.  Tersedianya air sepanjang masa dan adanya hasil pertanian yang baik, dapat membuka dan memperluas lapangan pekerjaan baru, yang dapat meningkatkan kesejahteraan social ekonomi masyarakat. Misalnya tumbuhnya perusahaan kerajinanan tangan, industry rumah tangga, usaha perikanan dan pertanian dalam arti luas  Penghijauan yang baik akan memberikan lingkungan hidup yang baik. Pepohonan yang rimbun dapat menciptakan suasana nyaman dan udara sejuk yang pada akhirnya baik untuk kesehatan.  Usaha-usaha dan hasil penghijauan mendorong tumbuh dan kembangnya kerjasama kelompok dan usaha-usaha ekonomi yang dapat menuju timbulnya koperasi dan industry pengolahan hasil pertanian. Semua manfaat penghijauan, baik secara langsung maupun yang tak langsung akan dapat di nikmati oleh semua lapisan masyarakat, penghijauan yang dilakukan terus menerus akan memberikan kesempatan dan lingkungan hidup yang sejahtera. Oleh karena itu laksanakan penghijauan secara sedini mungkin sebelum terlambat demi untuk kepentingan hidup kita dan kehidupan anak cucu kita kelak. Demikian tulisan yang sederhana ini semoga dapat menjadi renungan kita semua sehingga manusia semakin sadar dalam melestarikan sumber daya alam dan lingkingan hidup kita.(mnr)

Sabtu, 13 April 2013

PROSES PEMBUATAN GULA MERAH DARI TEBU SECARA TRADISIONAL

PENDAHULUAN. Gula merah sampai saat ini masih merupakan sumber pendapatan petani dibeberapa daerah di Indonesia. Meskipun coraknya masih banyak yang tradisisonal, akan tetapi tampak adanya usaha peningkatan, baik kualitas maupun kunatitasnya. Kenyataannya bahwa gula merah sejak dulu memang sudah dikenal dan dirasa manfaatnya oleh masyarakat di Indonesia khususnya masyarakat tani tebu di pulau jawa. HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN 1. Pada dasarnya semua jenis tebu dapat diproses menjadi gula merah. 2. Pada umur 7-8 bulan tebu sudah dapat diproses menjadi gula merah. tetapi sebaiknya menunggu sampai dengan umur yang optimal demi meningkatkan mutu dan jumlah hasil nantinya setelah menjadi gula merah atau gula tumbu. 3. Juga berat dan rendemen tebu menentukan hasil akhir dari proses yang terjadi. 4. Alat-alat yang dipergunakan dalam proses pelaksanaanya antara lain: • Gilingan. Alat ini berfungsi sebagai pemeras tebu. Terbuat dari gilingan besi. Batang tebu dimasukkan diantara dua gilingan yang berputar sehingga air tebu dapat terperas sebanyak-banyaknya, Nira ini kemudian ditampung dalam bak penampungan 1 • Alat penggerak. Dahulu alat penggerak masih menggunakan hewan besar seperti sapi atau kerbau, tetapi saat ini telah banyak yang menggunakan motor penggerak. Motor ini menggerakkan gilingan sehingga berputar • Bak Penyaring. Dari bak I nira yang masih kotor disaring dibak penampungan. Bak ini terletak lebih tinggi dari kancah pemasakan serta dihubungkan dengan selang plastic ke bak kancah pemasakan • Kancah pemasakan. Kancah pemasakan biasanya terdiri dari 4-7 buah dalam satu deret. dan umumnya terdiri dari dua deret yaitu deret kanan dan kiri. Kancah ini berguna untuk memasak nira yang dialirkan dari bak penyaring sehingga masak dan siap untuk dibekukan. • Tumbu atau tempat gula. Tumbu dipakai sebagai tempat penampungan nira masak setelah diambil dari kancah. pada tumbu-tumbu ini nira yang sudah dimasak dibiarkan sehinga menjadi beku. PROSES PELAKSANAAN.  Pemanasan. Tebu dimasukkan diantara dua gilingan yang berputar digerakkan dengan generator penggerak. Tebu akan terperas dan nira yang keluar ditampung dalam bak penampungan 1. Nira yang baru keluar dari gilingan ini masih sangat kotor, karena mengandung tanah dan kotoran lainnya sehingga perlu diadakan penyaringan yang diletakkan di dua atau tiga tempat dan berfungsi untuk membersihkan nira sebelum masuk ke kancah.  Pengaliran. Dari bak penyaringan, nira yang telah disaring dialirkan ke kancah-kancah pemasakan melalui selang plastik. Usahakan setelah nira tertampung, segera dialirkan ke kancah pemasakan. Terlalu lama membiarkan nira di udara bebas akan menyebabkan nira bersifat asam dan akan sukar diproses menjadi gula merah.  Pemasakan. Nira yang telah disaring tadi kemudian dimasukkan ke dalam kancah-kancah yang ada dalam satu deret 4-7 buah kancah. Kancah ini terbuat dari besi yang tebal dengan garis tengah + 60 cm -90 cm. Tinggi kancah secukupnya tidak begitu dalam. Jumlahnya disesuikan dengan jumlah lubang dapur 4-7 buah. Penempatannya dibuat sedemikian rupa sehingga tepi kancah hampir rata dengan permukaan atas dari dapur. Setelah satu deretan dapur terisi penuh maka pemanasan dimuali. Bahan bakar yang digunakan adalah sisa-sisa ampas tebu yang telah dikeringkan terlebih dahulu. Pada waktu nira berada dalam kancah, perlu dibersihkan yaitu dengan menggunakan kapur 20 gram untuk, tiap 50 liter nira. Sifat kapur ini adalah mengikat koloid-koloid sehingga akan mengendap atau mengapung. Sedangkan banyak sedikitnya kapur tergantung pada sifat air tebu. Umur tebu, banyak atau sedikitnya kotoran serta kemurnian atau kualitas tebu. BIla dapurnya baik, maka dalam waktu 15-20 menit nira dalam kancah terdepan akan mendidih, kemudian disusul kancah nomer 2, 3 , 4 dan seterusnya. Pada saat ini kotoran kotoran terkumpul terapung-apung bersama gelombang nira, dan kotoran ini harus cepat cepat dibersihakan dengan menggunakan serok yang terbuat dari bambu. Pada waktu mendididh nira akan berbuih dan naik, untuk mencegar agar jangan sampai tumpah perlu dicegah dengan memasang srumbung pada kancah. Srumbungan ini terbuat dari anyaman bambu juga berfungsi sebagai penahan kotoran. Apabila nira pada kancah 1 mulai menyusut, karena penguapan, maka nira pada kancah 2 dituangkan pada kancah 1 demikian seterusnya, sehingga kira-kira 4 kancah akan menghasilkan I kancah gula merah yang jadi. Dalam proses ini semula masakan berwarna putih kekuning-kuningan lambat laun akan berwarna pekat merah tua. Saat ini buih-buih nira akan turun, ini menandakan kalau masakan sudah mulai tua, Nampak juga letusan letusan seperti pada kawah. Suhu pada saat itu dipertahankan + 110 derajat celcius. Lama proses ini kirakira 4 jam, nira ini telah siap menunggu untuk dicetak atau dimasukkan kedalam tumbu untuk pembekuan lebih lanjut. PEMBEKUAN NIra yang telah masak tadi tidak dimasukkan dalam satu wadah tumbu, akan tetapi dibagi dalam 5-6 tumbu, maksudnya adalah agar udara dingin dapat ditekan keluar. Setelah dituang selekasnya diaduk agar cepat dingin dan warnanya lebih putih. Apabila tuangamn 1 telah dingin , masakan berikutnya dituangkan diatasnya demikian seterusnya, sehingga didapatkan gula yang berlapis lapis dalam satu tumbu. Lapisan ini juga tidak boleh terlalu tebal, sebab apabila udara dingin tidak seluruhnya keluar gula akan berongga atau keropos. Demikian teknologi pembuatan gula merah dari tebu semoga dapat bermanfaat bagi petani tebu yang memerlukannya (mnr)

BUDIDAYA MINA PADI SAYURAN TERNYATA SANGAT MENGUNTUNGKAN

PENDAHULUAN. Mina padi adalah suatu usaha memelihara ikan di sawah bersama-sama dengan tananam padi. sehingga mina padi merupakan usaha intensifikasi pertanian, karena pada petak sawah yang sama yaitu usaha tani pada satu tempat dapat ditingkatkan hasilnya yasng berupa padi dan ikan sekaligus. Apalagi bila pada pematang atau galengan sawah itu ditanami sayuran, tentu akan lebih menguntungkan lagi, sebab kita dapat memungut tiga macam sekaligus yaitu hasil padi, ikan dan sayuran dalam satu musim. Maka dari itu perlulah kiranya usaha mina padi dan tanaman sayuran di pematang sawah ini dikembangkan. PERSYARATAN SAWAH YANG BAIK UNTUK MINA PADI • Mina padi baik dilaksanakan disawah dengan pengairan yang lancar sepanjang waktu pemeliharaan ikan. • Sawah harus subur, tidak poreus dan bebas banjir • Merupakan komplek yang luas misalnya minimum 1 Ha, hal ini untuk mempermudah pengawasan serta pemeliharaan bersama, serta mengurangi intensitas serangan hama penyakit. • Letak sawah melandai agar pengaturan air nya mudah • Sebaiknya letak sawah dekat dari perkampungan agar pengawasan dapat lebih terjamin. PERSIAPAN PELAKSANAAN.  Dalam bertanam padi, laksanakanlah teknik sapta usaha tani dengan baik  Persiapan untuk pemeliharaan ikan;  Pematang sawah dibuat lebih kuat dan bebas dari kebocoran. Tinggi pematang paling tidak 25 cm, lebar dasar pematang 50 cm, dan lebar bagian atas 25 cm  Pasanglah potongan bambu untuk pintu pemasukan dan pintu pengeluaran air pada petakan sawah. Pintu air harus diberi saringan agar ikan-ikan tidak dapat keluar atau melarikan diri  Buatlah saluran pada petakan sawah, saluran dapat dibuat mengelilingi petakan sawah, melintang atau membujur petakan sawah Lebar saluran air 40-60 cm dan dalamnya 3-40 cm. pada salah satu ujung saluran dibuat kolam kecil untuk mempermudah penangkapan ikan.  Tanam padi  Sebarkan pupuk dasar sehari sebelum tanam padi  Tanamlah dengan larikan yang rapi setelah bibt padi berumur 3 minggu  Tanaman Sayuran  Kacang panjang ditanam di pematang sawah dengan jarak tanam 40-50 cm dan setiap lubang tanam di isi 3 biji kacang. Bila tanaman kacang panjang telah menjalar, buatkanlah lanjaran setinggi 1,5 meter dan dilengkapi dua baris tali memanjang yang menghubungkan lanjaran satu dengan lanjaran lainnya. PENEBARAN BENIH IKAN • Jenis-jenis ikan yang dapat dipelihara disawah antara lain, ikan mas, ikan Tawes, ikan nila, karper serta ikan mujair. • Penebaran benih ikan dilakukan pada waktu pagi hari.  Usaha pendederan benih ikan. o Penebaran terdiri atas benih ikan kebul ukuran 1-3 cm dipelihara sampai menjadi benih putihan ukuran 3-6 cm, atau ngaramo ukuran 5-8 cm. Padat penebaran 40-60 ribu ekor per hektar. o Bersamaan dengan penebaran benih kebul ini, juga ditebarkan benih putihan sebanyak 2000 - 3000 ekor/hektar. Untuk membantu ikan-ikan kecil dalam menggali atau mencari makanan. o Dalam satu musim tanam padi, dapat dilakukan dua kali usaha pendederan benih ikan. Pertama Penebaran dilakukan 6 hari setelah padi ditanam, dan dipanen pada saat penyiangan pertama. Yang kedua Penebaran dilakukan 3-4 hari setelah penyiangan pertamaa, dan dipanen pada saat penyiangan kedua.  Usahya memperoleh ikan konsumsi o Penebaran ikan dilakukan 5-7 hari setelah padi ditanam. Ukuran benih ikan 2-3 cm dengan padat penebaran +3000 ekor/hektar. Dalam pemeliharaan selama 90 hari, ikan telah mencapai berat +60 gram/ekor o Penebaran ikan dilakukan setelah penyiangan kedua. Ukuran yang ditebarkan 5-8 cm dengan padat penebaran 1500-2000 ekor/ hektar. Dalam waktu pemeliharaan selama 60 hari, ikan telah mencapai berat + 40 gram/ekor PEMELIHARAAN  Selama pemeliharaan , air sawah harus selalu dikontrol , jangan sampai berlebihan atau kekurangan. Perhatikan adanya kebocoran pada pematang sawah.  Pada penebaran ikan yang dilakukan beberapa hari setelah padi ditanam. Pengaturan air disesuaikan dengan pertmbuhan tanaman. Mula-mula kedalaman air cukup 2 cm, kemudian setelah satu minggu dinaikkan sedikit demi sedeikit hingga mencapai kedalaman 5 cm. Sedangkan pada penebaran yang dilakukan setelah penyiangan pertama, sawah harus dikeringkaan dahulu selama 3 hari, kemudian diairi sedalam 5 cm. Setelah seminggu air dinaikkan hingga menjadi 10 cm  Lakukanlah penyiangan dan pemupukan susulan pada tanaman padi.  Agar ikan ikan tidak terganggu , maka penyiangan dilakukan secara bertahap. Tahap pertama penyiangan pada petakan sawah bagian kiri saluran air, tahap berikutnya penyiangan pada petakan sebelah kana saluran air. Dengan demikian maka ikan-ikan dapat berpindah ke air yang jernih.  Untuk mencegah adanya serangan hama dan penyakit tanaman padi, maka dilakukan penyemprotan menggunakan obat obatan yang dianjurkan dengan dosis yang tepat, hal ini agar lebih aman, ikan-ikan ditampung dahulu ditempat penampungan dan setelah kurang lebih 10 hari baru dilepaskan lagi kesawah. HASIL DARI MINA PADI o Kacang panjang sudah dapat dipetik hasilnya pada umur 40 hari setelah tanam hingga menjelang panen padi o Dalam satu musim tanam padi dapat memungut ikan 1-2 kali. Ikan tersebut untuk dikonsumsi atau berupa benih hasil usaha pendederan. o Menurut pengalaman, ternyata usaha mina padi tidak mengurangi hasil padinya bahkan produksi padinya dapat meningkat 3-10 persen, karena dengan mina padi maka akan diperoleh sebagai berikut; - Petani akan lebih rajin mengawasi usaha taninya - Kotoran ikan merupakan pupuk bagi tanaman padi - Ikan dalam mencari makanan membolak balik lumpur sehingga dapat memperbaiki struktur tanah - Ikan karper atau ikan mas akan membantu memakan binatang-binatang kecil yang merupakan hama tanaman padi. PENUTUP Tenyata menanam padi dengan penerapan sapta usaha tani, memelihara ikan bersama tanaman padi serta menanami galengan sawah dengan tanaman sayuran akan memberikan keuntungan ganda bagi petani, sehingga usaha mina padi ini perlu dikembangkan lebih lanjut guna meningkatkan tingkat kesejahteraan petani. Demikian teknologi budidaya mina padi semoga dapat bermanfaat bagi yang memerlukannya (mnr)

TEKNIK DAN CARA BUDIDAYA TANAMAN TEBU

Pendahuluan. Penanaman tebu dilahan sawah pada umunya diusahakan untuk tanaman tebu giling. Pertumbuhan tanaman tebu yang baik dengan kadar gula tinggi disebabkan adanya, Kesuburan tanah, cara pengolahan tanah, pemupukan dan pemeliharaan yang baik, terutama dengan adanya pengaturan pengairan yang baik pula mestinya. Syarat Tumbuh. • Tinggi tempat 0-500 meter dari permukaan laut • Dalam masa partumbuhan sampai umur 8 bulan membutuhkan air yang cukup, menjelang panen menghendaki keadaan kering. • Tanah gembur, subur, dapat menahan air tetapi juga mudah melepaskan air. Persiapan Tanah • Membuat saluran pemasukan dan pembuangan air • Membuat got/ Parit keliling dengan lebar 50 cm dalam 60 cm -75 cm • Membuat got mujur (parit membujur yang letaknya sejajar dengan cemplongan I, lebar parit 30 cm, dalam 50 cm jarak antar got mujur 50-55 meter • Membuat got malang (parit yang dibuat tegak lurus parit membujur). Lebar 25 cm, dalam 30 cm jarak antar got 8-10 meter • Pembuatan lubang tanaman/ cemplongan • Galian 1 dilakuan dengan lempak/lencek/lencus semacam sekop dengan tangkai panjang sedalam 20 cm • Galian II dilakukan dengan garpu gigi 4 sedalam 10 cm, sehingga dalamnya lubang tanaman 30 cm • Lebar lubang tanaman 40 cm. panjang juringan pada tanah ringan 12, 5 meter, pada tanah berat 7,5 meter, jarak antar juringan 1 meter. • Membuat kasuran tanaman; Memasukkan kembali tanah garpuan yang sudah kering setebal 15 cm. BIBIT TEBU. • Stek pucuk, yaitu bagian ujung batang yang panjangnya 2-4 ruas dengan tidak termasuk bagian yang ujung sekali sepanjang 2-3 ruas. • Bibit rajungan, yaitu bibit yang berasal dari tunas batang, yang diperoleh dengan terlebih dahulu tebu bibit dipertanaman diambil stek pucuknya. Kemudian dibersihkan dari pelepahnya . Tunas akan segera tumbuh dari mata tunas yang ada pada batang tebu. • Rayungan adalah sudah dapat diambil pada umur 35-45 hari, panjang 15-20 cm mempunyai daun 4-5 helai, 1 potong bibit terdiri dari 1 ruas dengan sebuah tunas • Bibit bagal, yaitu bibit yang berasal dari batang tebu yang dipotong-potong menjadi stek sepanjang 2 mata ruas PENANAMAN • Penanaman pada musim hujan , bibit dibenamkan sebagian, bila tertimbun tanah seluruhnya bibit bisa menjadi busuk. • Penanaman pada musim kemarau, bibit dibenamkan sedalam 1-3 cm agar bibit tidak menjadi kering karena terkena sinar matahari secara langsung. PEMELIHARAAN • Pengairan; Tanaman tebu yang masih muda kurang lebih 3 bulan membutuhkan air yang cukup, menjelang masa pemasakan atau masa panen pada batas-batas tertentu air tidak diperlukan. • Penyiangan; Penyiangan dilakukan 3-4 kali atau sampai daun tanaman tebu saling menutup • Pemupukan; Pupuk dimasukkan ke dalam lubang pupuk yang dibuat dengan tugal. Lubang pupuk dibuat sejauh 7-10 cm, dari tanaman, dan satu tanaman cukup dibuat satu lubang pupuk dan setelah pemupukan diikuti dengan penyiraman.  Pemupukan I : diberikan pada waktu tanam atau maksimal kurang lebih 7 hari setelah tanam o Dosis pemupukan Za 7 gram/ tanaman/rumpun atau 120 kg/Ha. o TSP 8 gram/tanaman/rumpun atau 160 kg/Ha o KCl 35 gram/lubang pupuk atau 300 kg / Ha.  Pemupukan II Diberikan 30 hari setelah pemupukan kedua, dosis pemupukan sebagai berikut, Za 10 gram/ lubang atau 200 gram/ ha PEMBUMBUNAN Pembumbunan dilakukan empat kali yaitu Bumbun I. dilakukan bersama-sama dengan penyiangan dan setelah tanaman mendapat pupuk II atau pada umur tanaman mencapai 1, 5 bulan. Tenah dikanan kiri lubang tanaman dimasukkan setebal 3-15 cm menutupi kasuran tanaman, agar tanaman cepat beranak. Bumbun II. Dilakukan pada waktu tanaman berumur 2,5 -03 bulan yaitu sesudah ada satu atau dua batang dalam 1 rumpun yang mulai membentuk ruas. Bumbun III. Yaitu dilakukan pada saat tanaman berumur 4, 5 -5 bulan dimana daun tanaman sudah mulai menutup. Bumbun IV. Yaitu dilakukan pada kurang lebih dua bulan kemudian. yaitu dengan terlebih dahulu daun-daun tebu yang sudah tua dan kering dikeletek PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT  Penggerek batang tebu (Diatraea Venosata) Tanda-tanda serangan daun-daun pucuk tampak layu , kemudian kering dan mudah dicabut. Serangan pada tanaman muda menyebabkan matinya titik tumbuh Pemberantasannya. Yaitu dengan menggunakan parasit Trichagrama Sp yang dapat menyerang telur dari penggerek hama tebu ini.  Penyakit Pokkah Bung Tanda-tanda serangan; Stadia I Pada pangkal daun yang baru membuka terlihat gejala keriput. Pada Stadia II . Pada ujung batang yang masih muda terdapat garis-garis merah kecoklatan dan dapat meluas, akibatnya pertumbuhan batang terhambat dan bengkok. Pada stadia III Kerusakan pada titik tumbuh dan terjadinya pembusukan, seterusnya tanaman akan mati. Pemberantasan. Menanam jenis tebu yang tahan terhadap serangan hama penyakit tersebut.  Penyakit Blendok. Tnada-tanda serangan, kalau batang yang sakit dibelah akan terlihat adanya blendok atau gum berwarna kuning atau coklat tua Pemberantasannya. o Tanaman yang sakit harus dibongkar o Parang pemotong bibit atau stek harus didesinfeksi dengan Lysol 5-15 % o Untuk penanaman bibit atau stek sebelumnya harus dimasukkan dalam air panas 52,5 derajat celcius selama 50 menit. PANEN Tanaman tebu sudah dapat dipanen pada umur 11- 14 bulan, pada saat tanaman tebu sudah berbunga, pucuk tanaman dipangkas dan dapat digunakan untuk makanan ternak. Tanah guludan disamping tanaman tebu dicangkul sedalam 20 cm, sehingga pangkal tanaman tebu nampak jelas. Dengan parang, pangkal tanaman tebu dipotong serendah rendahnya. Batang-batang tebu kemudian diikat tiap ikatan kurang lebih 30 batang dan selanjutnya tebu tersebut dibawa ke pabrik gula untuk digiling. Batang tebu yang telah ditebang jangan terlalu lama terkena sinar matahri karena dapat menurunkan renik dan cara budidaya tamana tebu semoga dapat bermanfaat bagi petani yang memerlukannya (mnr)

Jumat, 05 April 2013

TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN MELON DENGAN MULSA PLASTIK

Melon (Cucumis melo) berAsal dari spesies tanaman merambat dari family Cucurbetaceae. Tanaman ini buka asli Indonesia melainkan datang dari berbagai negeri seperti Taiwan, Amerika, Eropa, China dan juga Jepang. Sekitar tahun tujuh puluhan. Di Indonesia perkembangan pertama kalinya di wilayah Jawa Barat yaitu disekitar daerah Bogor. Sedangkan perkembangannya sekarang sudah sampai Jawa Tengah, Jawa Timur dan bahkan sekarang sudah meluas keseluruh penjuru wilayah negeri kita Indonesia. Dibanding semangka atau blewah tanaman melon lebih dekat kepada tanaman blewah. Melon merupakan buah-buahan yang rasanya manis, legit, aromanya harum. Tetapi ukuran buahnya dibanding blewah, buah melon rata-rata lebih kecil akan tetapi lebih sempurna bulatnya dibanding dengan blewah. Sedangkan daging buah melon lebih halus, lebih renyah. Banyak ragam jenis melon seperti Sky Rocket dari Taiwan yang akhir-akhir ini paling laris di pasaran, Karena rasanya lebih manis, legit dan aroma buahnya lebih harum dan lebih segar dibandingkan dengan melon lainnya. Ada juga melon yang berasal dari Amerika serat dari permukaan kulit buahnya yang lebih kecil dan lebih halus dibanding dengan jenis Sky Rocket. Sementara itu melon dari Denmark ada yang dikenal dengan Jenis Hales Best dan Honey Dew, Hales best daging buahnya berwarna merah. sedang Honey Dew warnanya kehijauan dan berkulit mulus. Buah melon selain dikonsumsi dalam bentuk keadaan segar, juga dapat dimanfaatkan sebagai sirup, bahan campuran selai, campuran jus susu dan lainnya. Tanaman melon menghendaki sinar matahari penuh dan hari yang panjang ternyata cukup luwes terhadap iklim suatu daerah, sebab walaupun ditanam di daerah yang tidak memenuhi persyaratan yang diminta masih mau berbuah. Namun untuk bertanam melon tidak hanya menemukan tempat yang subur, pH netral, akan tetapi harus tahu tempat itu bekas ditanami apa. Karena kita tidak ingin tanamannya terkena musibah serangan hama dan penyakit, yang ditinggalkan oleh tanaman sebelumnya. Karena tanaman melon tergolong tanaman manja dan gampang sakit sakitan. kalau sudah terserang hama dan penyakit yang ringan sekalipun, sudah bukan main sulit untuk dikendalikannya. Hal inI yang sering menyebabkan produksi menurun secara drastis. Penggunaan Mulsa Plastik HItam perak Alternatif masukan teknologi yang mampu mengatasi hama penyakit yaitu dengan menutupkan mulsa plastik hiutam perak pada lahan bedengan. Teknologi mulsa plastic telah banyak diterapkan oleh petani melon. plastic tersebut bagian permukaanya berwarna perak metalik dan bagian bawahnya berwarna hitam. penggunaanya dengan menutupkan pada bedengan. Adapun manfaat penggunaan mulsa plastic ini antara lain: 1. Penggunaan pupuk lebih efektif dan efisien. 2. Menjaga suhu udara dan kelembaban udara 3. Mencegah penguapan air yang terlalu cepat 4. Menekan terhadap serangan hama dan penyakit tanaman 5. Mencegah kelongsoran guludan akibat air hujan 6. Mencegah pertumbuhan guilma. Cara penanaman. Pesemaian dibuat sekitar 15 hari sebelum masa tanam. Bedengan pesemaian setiap 10 m2 membutuhkan pupuk organic 30 Kg, TSP 1 Kg, Furadan secukupnya. Kebutuha benih setiap hektarnya + 150 gram. Sebelumnya benih direndam dengan air selama satu jam, kemudian direndam lagi dengan larutan fungisida kurang lebih satu jam. Setelah perendaman benih diangkat dan diletakkan diatas handuk basah yang bersih kemudian ditaruh diruang gelap yang agak tertutup untuk memperoleh suhu ruangan Kurang lenih 25 Derajat Celcius. Suhu ini merupakan suhu yang sangat baik untuk pertumbuhan kecambah melon. Bila benih sudah berkecambah kurang lebih 2 mm dipindah ke kantong plastic (polybag) yang sudah diisi campuran tanah, pasir dan pupuk kandang dengan perbandingan 1;1;1 . Apabila kecambah telah tumbuh menjadi tanaman muda yang sudah berdaun 3-4 helai, barulah dipindahkan kelapangan. Bedengan tanaman dibuat dengan ukuran lebar 300 cm panjang disesuikan dengan situasi dan kondisi setempat. Jarak antara bedengan 40 cm. Pupuk dasar terdiri dari pupuk kandang, 9-10 ton, Za 250 Kg, KCl 100 Kg, TSP 150 Kg per hektar. dicampur pada bedengan sampai merata. Dan tambahkan furadan 10 Kg. Selanjutnya bedengan ditutup dengan mulsa plastic, bagian samping ditutup tanah agar plastic melekat ketanah dengan erat sehingga tidak bergeser. Jarak tanam 60 x 300 cm kemudian dibuat lubang tanam diameternya 10-12,5 cm. selanjutnya dengan menggunakan kaleng yang bagian bibir atasnya digunting seperti gergaji. Kaleng ditekan kebawah dan bagian gergaji terletak dibawah sehingga plastik tergores dan berlubang untuk tempat tanaman melon nantinya. Saat tanam yang baik yaitu pada bulan mei atau Juni, setiap lubang ditanami satu bibit, dan penyulaman dilakukan segera setelah ada bibit yang mati. kurang lebih setelah 7-10 hari penyulaman perlu dilakukan. Pengairan Pengairan dilakukan dengan mengairi selokan-selokan diantara bedengan bedengan. Dalam masa pertumbuhan pengairan dilakukan setiap dua minggu sekali. Pengairan dilakukan bila perlu saja. Sesudah terlihat bunganya penyiraman dikurangi kira-kira selama 2 minggu saja. Hal Ini disebabkan kalau kebanyakan air, buahnya gampang pecah, Begitu sudah mendekati pemetikan, saat usia tanaman sekitar 55 sampai dengan 65 hari atau satu hari sebelum panen siraman betul-betul harus dihentikan, hal ini agar saat pengambilan buah tanah tidak terlampau becekr dan buah terasa manis serta tahan lama. Pupuk susulan pertama diberikan lebih kurang umur 15 hari setelah tanam dengan dosis 25 Kg Za, 25 Kg Urea, 100 kg TSP. Pupuk susulan kedua sekitar 4-5 minggu setelah tanam dengan dosis 50 kg Urea, 50 kg Za, dan 50 Kg KCl per hektar yang dibenamkan disekitar tanaman dengan jarak minimal 15-20 cm dari tanaman. Pemangkasan Dalam bertanam melon perlu adanya pemangkasan. Pemangkasan dilakuakn kalau udara cerah dan kering, sehingga bekas luka tak diserang oleh jamur. Pemangkasan dilakukan ketika tanaman sudah mengeluarkan 7-8 helai daun, yang dipangkas paling awal adalah cabang sekunder yang dekat tanah, caranya dengan menyisakan dua helai daun dan selanjutnya cabang cabang sekunder yang tumbuh kemudian dipangkas dengan menyisakan dua helai daun juga. Kalau batang utama sudah mencapai 20 - 25 mata ruas, baru dilakukan pangkasan pucuknya. Untuk memperoleh hasil yang lebih baik kita bisa melakukan penyerbukan sendiri yang caranya sebagai berikut: Setelah bunga betina mekar, serbuk sari dari bunga jantan diambil dengan kuas kecil yang halus, Kemudian oleskan pada putik bunga betina secara merata dan dilakukan secara pelan-pelan dan hati-hati. Penyerbukan dilakukan pada pagi hari dan paling lambat jam delapan pagi harus sudah selesai dalam menangani perlakuan penyerbukan. Penyerbukan ini dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh hasil yang maksimal. Pengendalian hama Penyakit. Hama yang penting yang menyerang tanaman melon antara lain. Aphis, Tungau merah, lalat buah, Ulat daun, kumbang daun, caranya yaitu diberantas dengan Insektisida Lannate Dibrom 8 E, Bayrusil 25 EC, Malathion Kelihan. Sedangkan penyakit layu, busuk akar, karat dapat disemprot dengan menggunakan Benlate, Menzate dan lainya. Setelah tanaman melon sudah berumur 55-65 hari maka tanaman sudah mulai dapat dipanen, yaitu kalau sudah ada tanda-tanda retak pada tangkai buah, garis pemisah antara tangkai dengan buahnya tampak begitu jelas, aroma buah sudah menusuk , urat nampak lebih tegas, kalau kulit buah berurat dan jika buahnya ditepuk dengan jari tangan akan berbunyi keras. Demikian teknik dan cara budidaya tanaman melon dengan menggunakan mulsa plastic perak hiutam semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi yang memerlukannya. (mnr)

CARA PENGENDALIAN PENYAKIT ANTRAKNOSE ATAU PATHEK PADA TANAMAN CABE MERAH

Penyakit pathek atau antraknose merupakan salah satu organisme pengganggu tanaman utama pada tanaman buah-buhan pada umumnya, dan khususnya pada tanaman cabe merah. Penyebab penyakit pathek ini berasal dari golongan jamur/ cendawan yang diiderntifikasi namanya Colleto trichum spp dan Gloesporoides spp. Jamur akan berkembang dan mampu menimbulkan penyakit bila kelembaban lingkungan > 85 % dan suhu temperatur mencapai 32 derajat celcius. Kerusakan akibat penyakit pathek dalam waktu relative singkat dapat mengakibatkan buah cabe rusak sehingga dikenal pula sebagai penyakit otomatis sehingga buah cabe tidak mempunya nilai ekonomis lagi. Pada lahan yang draenasenya tidak baik dan banyak genangan air disekitarnya pertanaman cabe, maka hal ini akan sangat mendukung terhadap perkembangan penyakit ini. Gejala awal penyakit pathek pada tanaman cabe ditandai dengan adanya lekukan pada buah dengan warna yang sama dengan warna buahnya, selanjutnya lekukan tadi akan jelas terbentuk dengan warnanya berubah, ada yang berwarna kecoklatan atau hitam yang bagian atasnya ditumbuhi benang-benang halus (aservulus) hitam atau kemerah-merahan. Hal inI tergantung dari jenis jamurnya. Buah yang terinfeksi penyakit pathek ini bijinya tidak boleh dijadikan sebagai benih (seed born). Penyakit Pathek ini juga mengakibatkan matinya pucuk atau ranting tanaman yang berlanjut pada seluruh daun kering dengan warna seperti jerami. Cara pengendaliannya. • Melakukan perendaman biji dalam air panas sekitar 55 derajat celcius selama 30 menit atau perlakukan dengan fungisida sistemik yaitu golongan triazole dan pyrimidin 0,05 – 0,1 % sebelum benih ditanam atau bisa juga menggunakan agen hayai. • Penyiraman fungisida atau agen hayati yang tepat pada umur 5 hari sebelum pindah tanam • Memusnahkan bagian tanaman yang terinfeksi, namun perlu diperhatikan saat melakukan pemusnahan, tangan yang telah menyentuh sebaiknya diusahakan tidak menyentuh tanaman yang sehat atau buah yang sehat, dan sebaiknya dilakukan menjelang pulang, sehingga kita tidak terlalu banyak bersinggungan dengan tanaman yang masih sehat • Pergiliran tanaman dengan tanaman lain yang bukan family solaneceae atau bangsa terong-terongan atau tanaman inang lainnya, misanya tanaman pepaya, karena berdasarkan penelitian IPB pathogen pathek pada pepaya dapat menyerang cabai pada areal pertanaman cabe. • Penggunaan fungisida fenarimol, triazole, klorontalonil khususnya pada periode pematangan buah dan terutama saat curah hujan cukup tinggi. Fungisisda diberikan secara bergilir untuk satu penyemporotan dengan penyemprotan berikutnya, baik yang menggunakan fungisida sistemik maupun fungisida kontak atau bisa juga golongan keduanya. • Penggunaan mulsa hitam perak, karena dengan menggunakan mulsa ini sinar matahari dapat dipantulkan pada bagian bawah permukaan daun atau tanaman sehingga kelembaban tidak begitu tinggi. • Menggunakan jarak tanam yang lebar yaitu sekitar 65 -70 cm dan ditanam secara zig zag, hal ini bertujuan untuk mengurangi kelembaban dan sirkulasi udara cukup lancar, karena jarak antar tanaman semakin lebar, keuntungan lain buah cabe akan tumbuh lebar dan besar. • Penggunaan pupuk Nitrogen tidak boleh terlalu banyak, misal pupuk Urea, Pupuk Za ataupun pupuk daun dengan kandungan Nitrogen yang tinggi. • Penyiangan atau santisai gulma atau rumput penggangu hal ini bertujuan agar supaya kelembaban berkurang dan tanaman semakin tambah sehat. • Menaman cabe tidak boleh dekat dengan tanaman cabe yang sudah terserang lebih dahulu oleh penyakit Pathek, ataupun tanaman inang lainnya yang telah terinfeksi. • Pengelolaan draenase yang baik dimusim penghujan. Agen hayati yang seing digunakan dalam pengendalian pathek adalah Actinoplanes, Alkaligenes, Agrobacterium dan lainnya. Demikian teknik dan cara pengendalian penyakit pathek pada tanaman cabe merah semoga dapat bermanfaat bagi yang memerlukannya.(mnr)

TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN JAGUNG HYBRIDA DAN KOMPOSIT

Pada saat ini komoditas jagung sangat potensial dan mendapat prioritas untuk dikembangkan. Selain sebagai sumber karbohidrat dan protein, jagung juga merupakan bahan baku utama industri pakan ternak dan industrI lainnya dan merupakan komoditas penting dalam upaya diversifikasi pangan guna mempertahan ketahanan pangan di Indonesia 1. Syarat tumbuh. Jagung pada umumnya ditanam didaerah dataran rendah baik ditegalan, disawah tadah hujan maupun sawah irigasi, namun tanaman ini masih dapat tumbuh pula pada daerah dengan ketinggian antara 1000 m - 1800m dari permukaan laut (DPL) • Tanah yang dikehendaki yaitu tanah berstekstur lempung, lempung berdebu, lempung berpasir, struktur gembur pH antara 5,5 – 7,5 dan kemiringan lahan < 8 % • Iklim, iklim yang dikehendaki yaitu intensitas sinar matahari 100%, curah hujan 100 -200 mm/bulan, ketinggian tempat 0 -1300 meter dari permukaan laut (DPL), temperatur 24-34 derajat celcius, tipe iklim A-E ( Oldeman) • Cara penanaman • Benih, varietas unggul jagung berpotensi produksi tinggi 10-12 ton pipilan kering/ Hektar. a) Mutu Benih, kriteria benih yang bermutu adalah sebagai berikut: o Daya tumbuh tinggi > 80 % o Murni secara fisik dan genetik o Sehat, bernas dan mengkilat dari hasil panenan baru (belum lama disimpan) o Tumbuh serentak dan cepat. b) Jumlah benih yang dibutuhkan. Kebutuhan benih per hektar dapat dihitung dengan rumus Sebagai berikut: 100 100 100 S B = 10.000 -------- X -------- X ----------- X -------- X T P Q R 100 B : Benih yang dibutuhkan ( gram ) P : jarak antar barisan (cm) Q : jarak rumpun dalam barisan R : Daya tumbuh benih (angka %) S: Bobot per 100 biji (gram ) T: Jumlah benih perlubang. Anjuran benih jagung per hektar yaitu Untuk varietas komposit : 30 Kg /Ha, sedangkan untuk hibrida : 20 kg /Ha 1. Pengolahan tanah. • Pengolahan tanah sempurna Tanah dibajak dan dicangkul 2 kali sedalam 20-25 cm, gulma dan sisa tanaman dibenamkan , tanah digaru sampai rata. Waktu pengolahan tanah minimal satu minggu sebelum tanam Bila waktu tanam mendesak, pengolahan tanah hanya pada barisan tanaman saja selebar 60 cm dengan kedalaman 20-25 cm • Minimum tillage tanah yang peka erosi ( bertekstur ringan ) dilakukan konservasi tanah dan sedikit pengolahan tanah, bila waktu tanam mendesak pengolahan tanah hanya pada barisan tanaman saja selebar 60 cm dengan kedalaman 20-25 cm. • Tanpa pengolahan tanah ( pada lahan sawah yang tanahnya ringan) Menggunakan herbisida 2-3 liter untuk memberantas gulma. Tanah dicangkul hanya pada lubang petanaman . perlu ditambahkan mulsa untuk mengatasi erosi dan menekan tumbuhnya gulma. 2. Penanaman. Untuk jagung komposit, benih dimasukkan sebanyak 2 biji per lubang ke dalam tugalan sedalam 3-5 cm , untuk jenis hibrida 1 biji per lubang. 3. Penyulaman dan penyiangan. • Penyulaman dilakukan 7 hari setelah tanam • Penjarangan pada umur 2-3 minggu • Pembumbunan pada umur 3-4 minggu pada saat penyiangan. 4. Pengairan Kebutuhan air pada tanah pertanaman jagung cukup sampai kapasitas lapang. Dan diadakan pembuatan saluran air untuk mengatasi kekeringan dan genangan air. 5. Penyiangan. Keterlambatan penyiangan 1 hari saja pada awal pertumbuhan akan menurunkan hasil 1 %. Penyiangan dilakukan 2-3 kali. Penyiangan dilakukan sebelum pemupukan susulan urea. 6. Pemupukan. Pupuk alam /pupuk kandang , kompos/ pupuk hijau diberikan sebanyak 15-20 ton/Ha pada saat pengolahan tanah. Dosis pupuk buatan, Urea : 300 Kg/Ha, SP 36 100 kg/Ha dan Pupuk KCl : 50 Kg / Ha Waktu pemupukan. Pupuk dasar 1/3 bagian urea. Seluruh pupuk SP 36 dan KCl diberikan pada saat tanam, dan 2/3 bagian Urea diberikan satu bulan setelah tanam. Pupuk pelengkap cair (PPC) dosis dan cara penggunaan disesuaikan dengan anjuran. 7. Pengendalian hama penyakit. Bila ada tanda tanda serangan hama dan penyakit diatas ambang ekonomi segera dikendalikan dengan pestisida dengan dosis yang telah dianjurkan. PANEN DAN PASCA PANEN 1. Tanaman jagung dapat dipanen apabila sudah mencapai masak optimal hal ini tergantung dari varietas dan tingggi tempat penanaman. 2. Tanda-tanda jagung siap untuk dipanen apabila klobotnya telah berwarna coklat muda dan kering serta bijinya mengkilat. Bila biji ditekan dengan kuku tidak berbekas dan kadar air mencapai 35-40 % 3. Perlakukan hasil untuk benih , setelah dikupas tongkol diseleksi, dikeringkan sampai kadar air mencapai 18 %, kemudian dipipil dan dikeringkan sampai kadar air 12 %. Sedangkan untuk konsumsi pengeringan dapat berupa tonggkol berklobot atau kupasan dan pipilan sampai kadar air mencapai 12- 14 % Demikian teknik dan cara budidaya tanaman jagung secara sederhana semoga dapat bermanfaat bagi yang memerlukan (mnr)

Kamis, 04 April 2013

TEKNIK PENGENDALIAN PENYAKIT HAWAR DAUN BAKTERI (HDB) PADA TANAMAN PADI

Penyakit hawar daun bakteri (HDB) merupakan salah satu penyakit yang banyak tersebar diberbagai ekosistem padi dinegara-negara penghasil padi, termasuk di Indonesia penyakit ini disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv oryzae (Xoo). Pathogen ini dapat menginfeksi tanaman padi pada semua fase pertumbuhan tanaman dari mulai pesemaian sampai menjelang panen. Penyebab penyakit (pathogen) menginfeksi tanaman padi pada bagian daun melalui luka daun atau lubang alami berupa stomata dan merusak klorofil daun. Hal ini menyebabkan menurunnya kemampuan tanaman untuk melakukan fotosintesis Gejala penyakit a. Bila serangan terjadi pada awal pertumbuhan tanaman menjadi layu dan mati, gejala ini disebut kresek. Pada tanaman dewasa menimbulkan gejala hawar (bligt). Gejala dimulai dari tepi daun, berwarna keabu-abuan dan lama kelamaan daun menajdi kering. b. Bila serangan terjadi saat berbunga proses pengisian gabah menjadi tidak sempurna dan menyebankan gabah tidak terisi penuh atau bahkan hampa. pada kondisi seperti ini kehilangan hasil dapat mencapai 50-70 %. Penyakit hawar daun bakteri sering timbul terutama pada saat musim hujan. Faktor yang mempengaruhi perkembangan penyakit. Pertanaman yang dipupuk Nitrogen dengan dosis tinggi tanpa diimbangi dengan pupuk Kalium menyebabkan tanaman menjadi lebih rentan terhadap penyakit hawar daun bakteri. Faktor lingkungan yang sangat berpengaruh adalah kelembaban yang tinggi sangat memacu perkembangan penyakit ini. Oleh karena itu untuk menekan perkembangan penyakit hawar daun bakteri disarankan tidak memupuk tanaman dengan Nitroigen secara berlebihan, dan gunakan pupuk Kalium dan tidak menggenangi tanaman secara terus menerus, sebaiknya pengairan dilakukan secara berselang (intermiten) Pengendalian Penyakit 1. Teknik Budidaya. Untuk menekan perkembangan penyakit hawar daun bakteri disarankan dengan pengendalian secara terpadu yang mencakup, cara budidaya dengan perlakukan bibit secara baik, jarak tanam tidak terlalu rapat, pengairan secara berselang (intermiten) . Pemupukan sesuai dengan kebutuhan tanaman dan varietas tahan. Bakteri penyebab penyakit hawar daun, bakteeri menginfeksi tanaman melalui luka dan lubang alami. Oleh karena itu memotong bibit sebelum ditanam sangat tidak dianjurkan, karena akan memeprmudah terjadinya infeksi oleh bakteri pathogen 2. Vareitas tahan . Pengendalian penyakit hawar daun bakteri yang selama ini diangggap paling efektif adalah dengan varietas tahan. Namun teknologi ini diahambat oleh adanya kemampuan bakteri pathogen membentuk patotipe (Strain) baru yang lebih virulen yang menyebabkan ketahanan varietas tidak mampu bertahan lama. Adanya kemampuan pathogen bakteri Xoo membentuk patotipe baru yang lebih virulen juga menyebabkan pergeseran dominasi patotipe patogen ini terjadi dari waktu ke waktu. Hal ini menyebabkan varietas tahan disuatu saat, tetapi rentan disaat yang lain. Dan tahan disuatu wilayah tetapi rentan di wilayah lain. Peta penyebaran patotipe dapat digunakan sebagai dasar penentuan penanaman suatu varietas disuatu wilayah berdasarkan kesesuaian sifat tahan varietas terhadap pathogen yang ada diwilayah tersebut. Mengingat tahan terhadap strain tertentu bisa jadi tidak tahan (rentan ) terhadap strain yang lain. Demikian teknik dan cara pengendalian penyakit hawar daun bakteri secara sederhana semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi yang membutuhkannya. (mnr)

Rabu, 03 April 2013

TEKNOLOGI PENGOLAHAN KACANG TANAH DENGAN PENGERINGAN OVEN

Kacang tanah adalah merupakan bahan pangan yang sangat populer di Indonesia dan merupakan komoditas yang sangat penting di dunia perdagangan. Dengan mengolah kacang tanah menjadi produk olahan yang bermutu tinggi, maka ada beberapa teknologi pengolahan kacang tanah yang diharapkan dapat meningkatkan nilai gizi dan nilai ekonomi yang biasa disebut dengan nilai tambah. Salah satu teknologi pasca panen tersebut yang sangat potensial untuk dikembangkan di Indonesia yaitu membuat kacang oven. Perlu diketahui bahwa teknologi adalah merupakan salah satu factor penentu dalam peningkatan produktivitas kacang tanah, sehingga didalam melakukan pengolahan kacang tanah perlu diketahui kandungan gizi dari kacang tanah tersebut. Dari hasil penelitian di laboratorium kacang tanah mentah komposisi yang terbesar yang terkandung dalamnya adalah lemak, yaitu mencapai 47-48 %, dimana lemak tersebut terdiri dari lemak tak jenuh sekitar 40-45 % asam oleat, dan 30-35 % asam lenoleat. Begitupun dengan asam lemak jenuh sebagian besar terdiri dari asam palmitat. Beberapa teknologi pengolahan kacang tanah 1. Pembuatan kacang oven. Bahan dan alat yang digunakan antara lain : Bahan. Bahan yang utama yaitu kacang tanah yang sudah dilakukan penyortiran dimana ukuran besarkecilnya kacang tersebut diupayakan sama dan setiap polong berisi 2 biji. • Dengan penambhan garam dapur. Didalam pembuatan kacang oven perlu diberikan garam dapur guna menambah cita rasa produk tersebut. Penambahan garam dapur sebaiknya digunakan garam dapur yang sudah diukur kemurnian nya dan minimal mencapai 99 % kandungan NaCl nya. • Bahan pengemas. Bahan pengemas yang sangat baik untuk mpengolahan kacang tanah yaitu plastic yang terbuat dari polipropilen dan polietilen atau aluminium poil. 2. Peralatan. Peralatan yang digunakan, yaitu alat untuk mencuci seperti ember, alat untuk merebus seperti panci yang berukuran besar, dan alat penjemuran yang terbuat dari para para bambu serta alat pengovenan yang sangat sederhana yang biasa dipakai dalam pembuatan kue atau roti. Cara Pembuatan kacang oven sebagai berikut. 1. Pertama tama kita lakukan perebusan kacang tanah didalam panci selama kurang lebih 20-30 menit. Selama proses perebusan berlangsung tambahkan garam dapur sekitar 5-10 % dari berat kacang tanah, pengasinan yang maksimal sebaiknya air yang digunakan untuk merebus di kurangi terlebih dahulu. Dan selanjutnya panci diangkat dari atas api. Biarkan rebusan kacang tetap didalam panci hingga cukup dingin, dan apabila telah dingin langsung kacang rebusan langsung ditiriskan. 2. Selanjutnya kacang tersebut dilakukan pengeringan di bawah sinar matahari hingga diperoleh kekeringan yang optimal baik kulit maupun bijinya, Dan bila dilakukan pengeringan dengan menggunakan oven dapat menggunakan suhu antara 60-75 derajat celcius. 3. Selanjutnya dilakukan pengovenan kembali selama 15-20 menit guna mengurangi kadar air yang masih tertinggal. Pada saat dilakukan penjemuran dan proses pengovenan berlangsung kacang tanah sebaiknya sering di bolak balik dengan menggunakan pengaduk dari kayu, agar tingkat kekeringannya merata. Setelah dioven kacang tanah tersebut diangin-anginkan diatas para-para, setelah kacang tanah sudah dingin betul barulah dilakukan pengemasan atau packing dengan menggunakan bahan plastic polietilen dan ukurannya disesuaikan dengan permintaan pasar. Selanjutnya kacang hasil oven tadi siap untuk disimpan atau dipasarkan. Demikian teknologi penbgol;ah pasca panen kacang tanah dengan cara dioven semoga tulisan ini dapat n=bermanfaat bagi yang memerlukannya.(mnr)

Selasa, 02 April 2013

TEKNIK PEMBUATAN TEPUNG MOCAF DARI SINGKONG

Kalau kita mendengarkan lagu yang berjudul anak singkong yang dibawakan oleh penyanyi Aribowo pada tahun delapan puluhan,pasti kita teringat pada sesosok sesuatu yaitu tepung mocaf, tepung mocaf adalah merupakan produk turunan dari singkong yang melalui proses fermentasi sedemikian rupa sehingga bisa menjadi substitusi atau bahan pengganti tepung terigu. Keberadaan tepung mocaf saat ini ternyata mampu membawa harapan baru dan merupakan alternative penggunaan bahan olahan yang lebih murah, lebih mudah didapat serta lebih merakyat. Disamping itu dengan dikembangkannya teknologi baru tepung mocaf ini ternyata dapat mengurangi ketergantungan negara kita Indonesia dari impor tepung terigu yang selalu membebani keuangan negara dalam hal ini subsidi tepung terigu. Adapun proses pembuatan tepung mocaf adalah sebagai berikut: 1. Singkong atau ubi kayu 2. Pencucian 3. Pengupasan 4. Perajangan 5. Rajangan singkong 6. Dalam bentuk chip 7. Perendaman dengan enzim /starter selama 24 jam 8. Penirisan selama 15 menit 9. Pengeringan 10. Penepungan atau penggilingan 11. Pengepakan atau packing. Pembersihan dan pencucian Singkong Singkong atau ubikayu yang masih segar dibersihkan dari tanah dan kotoran yang melekat dalam keadaan ubi kayu belum terkelupas. Sebaiknya ubi kayu diproses sebelum layu, karena kualitas olahan tertinggi akan dicapai apabila ubi kayu tersebut tidak lebih dari 24 jam. Pengupasan Kulit singkong. Pengupasan adalah melepaskan bagian kulit singkong secara manual yaitu dilakukan satu persatu dan merupakan cara pengupasan singkong yang terbaik. Pengupasan ini dapat dilakukan dengan alat bantu pisau atau alat khusus untuk pengupasan singkong. Lendir pada permukaan singkong sebaiknya dihilangkan dengan cara dikerik menggunakan pisau atau disikat. Membersihkan lendir harus segera dilakukan setelah umbi dikupas, disisni dimaksudkan agar supaya kadar asam biru atau asam sianida (HCN ) dapat dihilangkan atau dikurangi. Pencucian disertai Perendaman. Singkjong yang telah dikupas secepatnya dicuci dengan air bersih yang mangalir, apabila harus menunggu diproses, maka singkong yang telah dikupas sebaiknya dibiarkan sementara dalam rendaman air. Perlu diperhatikan bahwa proses perendaman umbi singkong ini harus benar-benar terendam seluruhnya dalam air, karena apabila ada bagian singkong yang tidak terendam akan berwarna biru kecoklatan karena pengaruh proses oksidasi atau proses kimiawi. Perajangan singkong menjadi chip Singkong yang telah direndam kemudian dijadikan chip. Chip adalah merupakan potongan umbi singkong dalam bentuk potongan kecil-kecil berukuran 1- 5 mm. Perajangan ini dilakukan dengan mengggunakan alat perajang khusus pembuat chip singkong atau dapat pula dengan menggunakan alat untuk membuat sawut singkong. Perendaman chip. Agar supaya pengeringan chip lebih cepat dan juga untuk menurunkan kandungan racun asam biru terutama pada umbi singkong yang pahit, maka perlu dilakukan proses pemerasan chip. Chip yang tidak diperas membutuhkan waktu penjemuran selama 15-16 jam sedangkan chip yang diperas umumnya cukup dengan penjemuran selama 7-8 jam. Pengeringan chip. Chip basah hasil pengepresan segera dijemur menggunakan alas anyaman bamboo yang disebut rigen, anyaman plastic, tikar, atau menggunakann bahan lain hingga kadar air pada chip tersebut turun menjadi kurang dari 12 % Penggilingan atau penepungan. Chip yang sudah kering dengan kadar air kurang lebih 12 persen selanjutnya dapat digiling menjadi tepung dengan menggunakan mesin penggiling tepung beras dengan ukuran 80 mesh, dan alat penggilingan tepung semacam ini umumnya banyak dijumpai didaerah pedesaan. Pengemasan Tepung mocaf Tepung mocaf hasil penggilingan selanjutnya siap untuk dikemas hal inI disesuikan dengan kebutuhan, dan selanjutnya siap untuk digunakan sebagai bahan baku pembuatan kue atau roti atau untuk dipasarkan lebih lanjut. Demikian teknik dan cara pembuatan tepung mocaf dari singkong secara sederhana semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi yang memerlukannya (mnr)

Senin, 01 April 2013

TEKNOLOGI PEMBUATAN GULA SEMUT KRISTAL DARI NIRA KELAPA

Gula merah yang beredar di beberapa daerah di Indonesia masih bervariasi, baik jenis produk, warna, ukuran maupun mutunya. Teknis pembuatan gula merah biasanya diperoleh para perajin gula kelapa secara turun temurun dari nenek moyang mereka. Peralatan yang digunakan masih sangat sederhana, sehingga mutu produk yang dihasilkan masih relative rendah. Dalam rangka diversifikasi produk hasil kelapa telah dikembangkan gula kristal semut Gula kristal semut adalah merupakan modifikasi dari produk gula merah dengan tingkat kekeringan yang lebih tinggi sehingga mempunyai masa simpan yang lebih lama dibandingkan dengan gula merah pada umumnya. Pada prinsipnya proses pembuatan gula kristal semut hampir sama dengan pembuatan gula merah, hanya pada tahap akhir ada sedikit perbedaan yaitu dengan penambahan proses pembuatan serbuk. Prinsip pembuatan gula merah adalah menguapkan nira kelapa sampai mencapai kekentalan tertentu dan kemudian dicetak dan peralatanya pun cukup sederhana, sedangkan dalam proses pembuatan gula semut digunakan peralatan tambahan berupsa garpu kayu untuk membentuk serbuk dan alat penghancur butiran yang terbuat dari kayu untuk memperkecil ukuran serbuk yang dihasilkan. Langkah kerja . 1. Persiapan nira kelapa Proses pembuatan gula merah diawali dengan tahap persiapan bahan dan pembersihan nira yang akan diolah, pembershan nira dilakukan dengan cara memisahkan kotoran yang berupa berupa manggar, bangkai serangga dengan menggunakan alat penyaring . 2. Pemasakan nira kelapa. Setelah dilakukan penyaringan nira, kemudian nira tersebut dituangkan dalam wajan besar atau bejana yang khusus memasak gula, selanjutnya nira dipanaskan dengan menggunakan api dari kayu bakar dengan suhu anatara 120-130 derajat celcius. Adapun untuk memperoleh warna gula yang cerah perlu ditambahkan Natrium metabisulfat 0,1 persen pada saat pemasakan nira, selama pengupan maka perlu dilakukan pengadukan sehingga panasnya dapat merata. Untuk menguji apakah gula sudah masak yaitu dilakukan dengan cara dipegang dengan tangan, apabila tidak lengket maka berarti gula sudah masak dan siap untuk dicetak. Perlu diketahui apabila cara memasak apinya terlalu besar dan waktunya terlalu lama, maka gula akan berwarna gelap dan keras, sebailknya apabila terlalu singkat gula akan lembek dan kuarng baik. 3. Pencetakan. Stelah gula masak dan siap dicetak, maka gula diangkat dari wajan dan dingingkan sambil diaduk-aduk selama prose pencetakan dan sedikit demi sedikit gula dicetak dengan cetakan yang telah disipakkan. Apabila tidak sambil diaduk aduk maka gula akan mengental. 4. Pembuatan gula semut. Pembuatn gula semut sebenarnya merupakan diversifikasi produk gula merah yang berbentuk serbuk. Pada proses pembuatan gula semut setelah selesai penguapan atau pemasakan, maka adonan perlu didiamkan dulu selama 15 menit, kemudian dilakukan tahap pembentukan serbuk. Penguapan nira dilakukan lebih lama dibandingkan dengan proses pembuatan gula merah cetak, hal ini dimaksudkan agar tingkat kekeringannya lebih tinggi sehingga dapat membentuk serbuk. Pembuatan serbuk gula semut dilakukan dengan pengadukan memakai alat berbentuk garpu yang terbuat dari kayu. mula mula dilakukan pengadukan secara perlahan-lahan dan setelah mulai membentuk serbuk pengadukan dipercepat, sehingga akan dihasilkan serbuk gula semut. Adapun tahapan terakhir dalam proses pembuatan gula semut adalah pengayakan serbuk gula, hal ini adalah untuk memperoleh keseragam ukuran serbuk maka perlu digunakan ayakan dengan ukuran 20 mash 4. Pengemasan. Proses terakhir dari pembuatan gula semut adalah pengemasan. pengemasan yang baik adalah dengan menggunakan plastic yang tahan panas dan kedap air serta tidak mudah rusak, adapun ukuran kemasan disesuikan dengan keadaan dan permintaan pasar. Demikian teknik dan cara pembuatan gula semut semoga dapat bermanfaat bagi yang memerlukannya.

Minggu, 17 Maret 2013

LIKU LIKU PANJANG PERJALANAN PENYULUHAN PERTANIAN DI INDONESIA DAN APA KONTRIBUSINYA TERHADAP NEGERI INI

Pembangunan pertanian di Indonesia saat ini ternyata masih memegang peranan yang sangat penting, baik kontribusinya terhadap pendapatan nasional, terhadap penyerapan tenaga kerja maupun terhadap penyediaan kebutuhan pokok rakyat mupun stabilitas nasional Keberhasilan pembangunan pertanian di Indonesia yang telah dicapai sampai saat ini kiranya tidak lepas dari peranan penyuluhan pertanian. Mosher(1966) menyatakan penyuluhan pertanian merupakan faktor pelancarbagi pembangunan pertanian, namun untuk saat ini kiranya penyuluhan pertanian tidak cukup hanya dianggap sebagai faktor pelancarpembangunan pertanian saja, akan tetapi justeru penyuluhan pertanian adalah merupakan primadona yang mestinya perlu mendapat perhatian besar didalam proses pembangunan pertanian dinegeri kita tercinta sekarang ini. Selanjutnya menurut Mudjio (1979) bahwa penyuluhan pertanian adalah merupakan pendidikan non formal untuk merubah perilaku petani, sehingga mereka tahu, mau dan mampu memecahkan masalah yang timbul pada usaha taninya. Disamping itu bahwa penyuluhan pertanian akan merubah perilaku petani secara utuh yang mencakup aspek pengetahuan, sikap dan keterampilannya, sehingga tujuan dari pada penyuluhan pertanian sangat jauh berbeda dengan tujuan dari penerangan, dimana tujuan dari penerangan hanya terbatas pada penyampaian pengetahuan (cognitive) saja, sedangkan perubahan afektif dan psikomotornya tidak tersentuh sama sekali. Mengingat bahwa penyuluhan pertanian aktornya adalah para penyuluh, dengan peran sertanya penyuluh ini ternyata Indonesia dapat berhasil swaswembada beras pada tahun 1984 serta memperoleh penghargaan dari Badan Pangan Dunia (FAO. Sedangkan secara kelembagaan sejak tahun 1987 telah diakuinya profesi Penyuluh Pertanian sebagai tenaga fungsional dalam rumpun hayati dan untuk sekarang ini kelembagaan penyuluhan pertanian telah diperkuat dengan telah disahkannya Undang-Undang Nomor16Tahun 2006 tentang system Penyuluhan pertanian, Perikanan dan Kehutanan pada tanggal 15 November 2006 yang lalu. Dengan telah disahkannya undang undang tersebut dan sudah berjalan hampir satu windu ini diharapkan dapat berajalan dengan sebaik-baik tanpa mengalami ketimpangan atau kesimpang-siuran didalam iimplementasinya. khususnya mengenai sistem kelembagaannya dari pusat sampai daerah, sumberdaya manusianya, dan yang tak kalah pentingnya adalah kontinuitas sumber dananya yang merupakan faktor penentu terhadap maju mundurnya penyelenggaraan penyuluhan pertanain. Mengingat bahwa sekarang ini adalah era otonami derah, sehingga segala kewenangan mengelola pemerintahan ada pada daerah masing-masing. Undang Undang Nomor 16 Tahun 2006 ini nampaknya telah banyak mengakomodir dari berbagai kelemahan dan kendala yang terjadi pada praktek penyelenggraaan penyuluhan tahun sebelumnya, dimana dalam undang tersebut tersura dan tersirat dengan jelas chirarhi kelembagaan penyuluhan secara Vertikal dari pusat sampai ke daerah bahkan sampai ketingkat kecamatan dan desa. Didalam Undang undang tersebut pun dijelaskan bahwa di tingkat Pusat namanya Badan Penyuluhan, di tingkat Provinsi Bakorluh, di tingkat Kabupaten Badan Pelaksana Penyuluhan, di tingkat Kecamatan Balai Penyuluhan Kcamatan, dan di tingkat desa namanya Pos penyuhan Desa. Semoga undang undang tersebut yang telah berjalan hampir satu windu ini dapat di implementasikan dengan sebaik-baiknya. Sebelum melangkah lebih jauh marilah sejenak kita menengok kebelakang tentang sejarah perkembangan penyuluhan pertanian di Indonesia. Sebetulnya sejak kapankah penyuluhan pertanian di Indonesia itu dimulai, Konon penyuluhan pertanian di Indonesia telah dimulai sejak dua abad yang lampau, tepatnya pada tanggal 17 Mei 1817, yaitu saat pertama kali di dirikannya kebun Raya Bogor, sedang sebagai ilmu pengetahuan penyuluhan pertanian sudah dirintis semenjak tahun 1723 di Scotlandia. Seiring dengan berputarnya waktu dan perkembangan zaman, bahwa pada tahun 1905, kala itu Indonesia masih di jajah oleh Belanda, ternyata telah dibentuk Departemen pertanian ala kolonilais yang melaksanakan fungsi penyuluhan pertanian. Selanjutnya pada tahun 1910 dibentuk Mantri Tani dibawah Pangreh Praja,dan system penyuluhan pertaniannya saat itu masih dilasanakan secara paksaan, baru kemudian pada tahun 1921 dibentuklah Dinas Pertanian Tingkat Provinsi, dimana pada saat itu system penyuluhannya sudah berubah kearah persuasive bukan lagi dengan cara paksaan. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi maka pada tahun 1911 di Sukabumi Jawa Barat didirikian Sekolah Pertanian Menengah dan Sekolah Usaha Tani. Kemudian pada tahun 1936 berdiri Balai Benih Daerah, dan pada saat itu system penyuluhan pertanian menganut system tetesan minyak (Oil Vleck System) yaitu system penyuluhan dengan cara membina seorang wakil dari suatu daerah sasaran, kemudian apabila mereka berhasil, maka secara langsung akan ditiru oleh petani didaerahnya. Selanjutnya pada awal kemerdekaan tepatnya pada Bulan Oktober 1947. Pemerintah membentuk BPMD (Balai Pendidikan Masyarakat Desa) Lembaga ini berfungsi berfungsi sebagai Balai Penyuluhan pertanian dan pendidikan lainnya, guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Berikutnya pada tahun 1966 sistem penyuluhan pertanian dilakukan melaui organisasai BIMAS yang mengikut sertakan intansi terkait diantaranya BNI, PT Pertani, Dinas Pertanian, Koperasi, Perguruan Tinggi dan lainnya guna membuat perencanaan, pelaksanaan pengawasan dan pertanggung jawaban, pada saat itu system penyuluhan sudah dilakukan secara massa,l bukan lagi dengan system tetesan minyak. Berikutnya pada tahun 1970, ada program BIMAS yang disempurnakan, pada saat itu muncullah Istilah Catur Sarana Unit Desa yang meliputi Penyuluh Pertanian, BRI, KUD dan Kios Saprodi. Selanjutnya pada tahun 1977 Bennor dan Horison mencetuskan istilah LAKU yaitu latihan dan kunjungan dan pada saat itu terjadilah perubahab organisatoris penyuluhan pertanian yang kemudian Dinas Pertanian menjadi aparat Struktural yang menangani dan melaksanakan fungsi pelayanan serta pengaturan, sedangkan aparat Fungsional melaksanakan fungsi Penyuluhan. Setelah hamper dua abad lamanya penyuluhan pertanian berlangsung dinegeri kita tercinta ini dengan berbagai macam perkembangan yang ada, bagaimanakah kondisi penyuluhan pertanian kita sekarang ini ? Jawaban tersebut mertinya akan beraneka ragam tergantung siapa yang akan menjawabnya, dan dari kacamata apa mereka memandang. Perlu diketahui bahwa penyuluhan pertanian sumberdaya manusianya atau actor intelektualnya adalah penyuluh, entah itu yang berkategori sebagai penyuluh ahli maupun penyuluh terampil atau mereka yang berkategori sebagai perakit, perancang atau pembuat kebijakan dibidang penyuluhan pertanian, mereka tentu akan merasa risih apabila ada sebagian pihak yang menilai bahwa kondisi penyuluhan pertanian di Indonesia saat ini sedang sakit, sedang mengalamim penurunan, penyuluhan kurang menggigit, penyuluhan sedang loyo, penyuluhan pertanian tidak relevan lag, penyuluhan tidak dapat mengasilkan PAD (Pendapatan Asli Daerah) dan yang lebih parah lagi apabila ada parat yang mengatakan toch tanpa adanya penyuluhan pertanian, pertanian tetap jalan dengan sendirinya, kilahnya dengan pertanian malah banyak paksaan. Itulah sekelumit gambaran ocehan dari mereka –mereka yang suka usil yang nota benenya mereka orang yang tidak faham akan makna dan falsafah dari penyuluhan, mereka tidak mengetahui hal yang sebenarnya tentang penyuluhan pertanian. Dengan telah berlakunya undang undang system penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan yang sudah berjalan hampir sewindu ini, rasanya koq belum ada perubahan yang signifikan bagi para penyuluh, khususnya bagi penyuluh yang berada di daerah-daerah, dan implementasinya masih perlu dibenahi dengan sebaik-bainya, baik mengenai Batas Usia Pensiun Penyuluh,Tunjangan Fungsional Penyuluh, Biaya Operasional Penyuluh, serta Sertipikasi penyuluh, kami para penyuluh berharap agar semoga dengan telah dikelurkannya PERPRES No.16 Tahun 2013 Tentang Tunjangan Jabatan Penyuluh Pertanian per tanggal 1 Maret 2013 ini, mudah-mudahan implementasinya dapat segera terealisir dengan baik.Amien. (mnr)

TEKNIK PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN PADA TANAMAN BAWANG MERAH

Bawang merah ( Alllium ascalonicum L) merupakan salah satu komoditas sayuran yang banyak dibutuhkan oleh masyarakat baik untuk konsumsi segar maupun konsumsi olahan sehingga luas pertanamannya semakin bertambah keseluruh wilayah nusantara bahkan sampai ke manca Negara. Dalam rangka peningkatan produksi bawang merah berbagai kendala dihadapi, salah satunya adalah gangguan oleh organisme penggangggu tanaman atau OPT, baik yang berupa serangga hama maupun jamur, bakteri dan nematoda. Organisme pengganggu tanaman utama yang sering menyerang tanaman bawang merah adalah ulat bawang (Spodfoptera exigua), Hama Trip (Trip sp). Layu fusarium, antraknose, trotol (bercak ungu alternaria) a. Hama ulat bawang (spodoptera spp) Gejala serangan ditandai dengan bercak putih transparan pada daun. Ulat berada didalam daun bawang merah. Cara pengendaliannya; • Pengumpulan telur dan ulat lalu dimusnahkan • Pemasangan perangkap kupu untuk kupu /ngengat dengan feromonoid seks ulat bawang atau dengan lampu perangkap sebanyak 40 buah per hektar • Penggunaan agensi hayati seperti Jamur Beauferia, Nemathoda steinernema sp • Apabila intensitas kerusakan daun lebih besar atau sama dengan 5 % per rumpun atau telah ditemukan 1 paket telur per 10 tanaman, maka perlu dilakukan penyemprotan dengan insektisida efektif misalnya Hostathion 40 EC, Cascade 50 EC, Atabron 50 EC atau Florbac. b. Hama Trip (Trips sp) Gejala serangan ditandai dengan adanya bercak putih ber alur pada daun Cara pengendaliannya dengan penyemprotan insektisida efektif, misalnya Mesurol 50 WP atau Pegasus 500 EC c. Penyakit layu Fusarium (moler) ditandai dengan daun bawang merah menguning, daun terpelintir dan pangkal batang membusuk. Jika ditemukan gejala demikian tanaman harus dicabut dan dimusnahkan. d. Penyakit otomatis atau antraknose Gejala serangan, bercak putih pada daun, selanjutnya terbentuk lekukan pada bercak tersebut yang menyebabkan daun patah atau terkulai. Untuk mengatasinya semprot dengan fusingisida Daconil 70 WP atau Antracol 70 WP e. Penyakit Trotol (Bercak ungu alternaria). Gejala serangan ditandai dengan bercak putih pada daun dengan titik pusat berwarna ungu. Gunakan fungisida efektif antara lain Antracol 70 Wp, Daconil 70 WP dan lainnya. Dalam mencegah atau memberikan perlindungan tanaman bawang merah sebelum ditanam sebaiknya lahan disemprot dengan jamur/bakteri antagonis( Glioc ladium, Trichodrma, Psudomonas flaurescens). Untuk menekan perkembangan pathogen seperti fusarium, Phytium dan lainnya Demikian teknik pengendalian organisme pengganggu tumbuhan pada tanaman bawang merah semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi yang memerlukannya. (mnr)

Sabtu, 16 Maret 2013

TEKNIK PENGENDALIAN HAMA WERENG COKLAT PADA TANAMAN PADI

Wereng batang coklat atau WBC adalah merupakan salah satu OPT penting tanaman padi yang serangannya sering kali mengakibatkan gagal panen atau puso dalam areal yang luas. Hal tersebut didukung oleh sifat hama wereng batang coklat yaitu cepat beradaptasi dan berkembang biak, jangkauan menyebar yang jauh mencapai 250 km dari tempat semula. Dalam penanganan WBC pada umunya masih sangat bertumpu pada penggunaan pstisida kimia sintetik yang mana effektifitas jangka panjangnya kurang berhasil, mengingat adanya dampak WBC menjadi kebal atau resisten, resurjensi sehingga permasalahan penanganan WBC semakin rumit. Memahami hal tersebut untuk mengurangi ketergantungan pada penggunaan pestisida yang serampangan, maka pemerintah mengeluarkan inpres 3 tahun 1986 dan disempurnakan dengan UU no 12 tahun 1992. Bahwa pestisida bukanlah satu-satunya teknik pengendalian, dan apabila digunakan harus dilakukan secara bijaksana. Cara pengendalian WBC  Pemantauan secara dini dan pengawalan oleh petugas dan pihak terkait  Penyampaian informasi keadaan hama penyakit dan rekomendasi pengendalian secara cepat dan tepat.  Peningkatan koordinasi dengan pihak terkait.  Penataan pola tanam melalui tanam serentak, rotasi tanam non padi, diberokkan secukupnya untuk memutus siklus hidup WBC  Penggunaan agensia hayati (pathogen serangga hama) pada hamparan berpotensi terserang dan populasi WBC masih rendah atau daerah terancam.  Penggunaan pestisida secara bijaksana  Eradikasi atau pemusnahan pada daerah sumber infeksi. Strategi pengendaliannya. • Tanam serentak. Tanaman serentak atau bersama sama merupakan salah satu syarat pengendalian WBC diareal lahan pertanaman padi, karena WBC merupakan makroptera atau sedrangga bersayap panjang dapat berimigrasi yang tidak dibatasi oleh sungai atau lautan. • Laight Traps atau perangkap lampu Merupakan langkah untuk memonitoring saat penerbangan wereng coklat dipesemaian atau di pertanaman baik makroptera jantan atau betina. Alat ini penting untuk mengetahui kedatangan wereng coklat imigrasi dan dapat untuk memerangkap dalam jumlah yang besar. Melakukan sweeping net, langkah ni untuk mengetahui keadaan WBC di pesemauian, baik nimfa atau imago sebagai langkah pengendalian sebelum ditanam di lahan pertanaman secara luas. Strategi tabur benih pada pesemaian setelah 15 hari puncak migrasi, maka pesemaian hendaknya dilakukan dengan tabur benih setelah puncah imigrasi yang ke dua atau berikutnya. Pengendalain wereng coklat pada generasi 1 ( G1) untuk mengetahui populasi generasi 1 perlu pencatatan waktu migrasi pada genarasi awal (G 0). Karena siklus hidup wereng coklat antara 25-30 hari, maka sudah barang tentu dapat diketahui keberadaan imago di lahan pertanaman. Dengan teknik ini berarti mengendalikan Makroptera G0 dan G1 nimfa. Pengendalian ini harus selesai di G1 atau di G2 pada saat pengendalian G3 sulit untuk berhasil. Pengamatan dan Monitoring Pengamatan atau monitoring 1-2 minggu sekali merupakan langkah mengetaui perkembangan WBC atau musush alami. Penggunaan pestisida secara bijaksana Penggunaan pestisida perlu memperhatikan beberapa factor diantaranya, sebelum saat aplikasi keringkan dulu pertanaman padi. Saat aplikasi insektisida dilakukan pada sat tidak ada empun di areal pertanaman atau dilakukan pukul 8-11, dan dilanjutkan pada sore hari, gunakan pestisida yang terrdaftar yang berbahan aktif imidakkloprid, fipronil, theametoxan, buprofezin dan insektisida butiran. Dengan tepat dosis, tepat cara dan tepat jenisnya. Bilamana penggunaan insektisida kurang mampu menanggulang, maka perlu doble cover yaitu dengan pemakaian granuler melalui akar dan ditambah pula pemakaian agen hayati Pengendalianpenyakit Virus Wereng batang coklat disamping sebagai hama dapat menularkan virus pada tanaman padi yaitu kerdil hampa dan kerdil rumput, dan ternyata penyakit ini belum ada pestisidanyya untuk mengendalikannya. Pengendalian yang dapat dilaksanakan adalah dengan cara eradikasi seawal mungkin gejala yang ditemukan dilapangan dan meminimalkan populasi WBC, bila telah dijumpai gejala serangan virus dengan menggunakan pestisida. Demikian Teknik dan cara Pengendalian Hama Wereng Batang Coklat pada tanaman padi, semoga dapat bermanfaat bagi yang membutuhkannya. (mnr)

Jumat, 15 Maret 2013

TEKNIK PENANGGULANGAN HAMA PENGGEREK BATANG PADI.

Penggerek batang padi adalah salah satu OPT penting tanaman padi dan akibat serangnya mampu mengakibatkan kegagalan atau puso. Gejala kerusakan; ULat penggerek masuk dalam batang tanaman dan makan sehingga mengakibatkan aliran makan dari akar kedaun terputus dan daun yang belum terbuka kelihatan kering, gejala demikian disebut sundep, sedangkan bila serangan terjadi saat tanaman fase primordial maka malai tidak membentuk bulir gabah yang umumnya disebut sebagai beluk Gerjala kerusakan yang terlihat lebih kecil dari kerusakan riil yang telah terjadi. Hasil identifikasiu di lapangan kerusakan sundep atau beluk didominasi oleh penggerek batang padi kuning dan penggerek batang padi putih, kedua jenis penggerek tersebut mempunyai sifat soliter artinya setiap batang padi diserang oleh satu ulat atau larva sehingga kerusakan cepat meluas. Beda kedua jenis penggerek batang tersebut terletak pada sifat ulatnya, ulat penggerek batang padi kuning tidak mempunyai kemampuan berdiapause (ulat yang tidak aktif) tetapi ulat penggerek batang padi putih berdiapause sebelum berubah menjadi pupa. Perkembangan dan sifat penggerek batang padi Kuning • Ngengat atau imago tertarik oleh cahaya, setiap betina dewasa mampu bertelur sebanyak 300-500 butir. Telur diletakkan secara berkelompok dan tiap kelompok berisi 15-25 butir, telur ditutupi dengan bulu-bulu halus yang tersususn seperti genting. Umur telur berkisar 6-8 hari . • Ulat atau larva kecil hidup berkelompok dan selanjutnya menyebar dengan benang-benang halus dan bantuan angin. Periode larva berada dalam batang padi dan akan pindah kebatang lainnya apabila dirasa makanan sudah habis. • Menjelang pupa, ulat menuju pangkal batang padi dan menjadi pupa yang berlangsung 7-10 hari • Imago atau ngengat akan muncul bila sudah mulai ada hujan. Jenis penggerek batang padi tersebut antara lain.  Penggerek batang padi kuning Scirpophaga incertulas,  penggerek batang padi putih Scirpophaga innotata  penggerek batang bergaris Chilo supressales  penggerek batang padi hitam Chilo polychrysus Meyrick  penggerek batang padi berkilat Chilo auricilius dudgeon  penggerek batang padi merah jambu Sesamia inferens Gejala serangan. Gejala tanaman padi terserang pengggerek batang pada stadia vegetative disebut sundep dan pada stadia generative disebut beluk. Cara pengendalian. 1. Pengendalian pola tanam. • Dilakukan penanaman serentak, sehingga tersedianya sumber makanan bagi penggerek batang padi dapat dibatasi • Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan padi sehingga dapat memutus siklus hidup hama tersebut. • Pengelompokan pesemaian dimaksudkan untuk memudahkan agar supaya pengumpulan telur penggerek secara massal. • Pengaturan waktu tanam yaitu pada awal musim hujan dengan tanaman varietas genjah, dan pada pertenganahan musim hujan dengan tanaman vareietas dalam yang berumur lebih dari 120 hari. 2. Pengendalian secara fisik atau mekanik. • Cara fisik yaitu dengan penyabitan tanaman serendah mungkin sampai permukaan tanah pada saat panen. Usaha itu dapat pula diikuti penggenangan air setingi 10 cm agar jerami atau pangkal jerami cepat membususk, sehingga larva atau pupa bisa mati • Cara mekanik dapat dilakukan dengan mengumpulkan kelompok telur penggerek batang padi di pesemaian dan di pertanaman 3. Pengendalian Hayati • Pemanfaatan musuh alami, baik parasitoid, predator maupun pathogen • Konservasi musush alami dengan cara menghindari aplikasi insektisida secara seprotan. 4. Pengendalian secara kimiawi • Apabila diperlukan sebagai alternative pada fase vegetative penggunaan insektisida dapat dilakukan pada saat ditemukan kelompok telur rata-rata lebih dari satu kelompok telur/ 3m2, atau intensitas serangan rata-rata lebih besar dari 5 %. Bila tingkat parasitisasi kelompok telur pada fase awal vegetative lebih besar dari 50 % maka tidak perlu aplikasi insektisida. • Penggunaan insektisida butiran dipesemaian dengan doisiss 5 kg/500 m2 bila dijumpai kelompok telur. • Penggunaan seks feromon o Dipakai untuk memantau fluktuasi populasi penggerek batang berdasarkan ngengat yang tertangkap. o Dapat dipakai untuk menentukan waktu apalikasi insektisida bila tangkapan foromon sebanyak 100 ekor/ minggu o Dapat dipakai untuk mengendaliukan penggerek batang padi putih, yaitu dengan cara mass trapping atau pengkapan massal dengan menggunakan 10-16 perangkap perhektar. Demikian Teknik dan cara menanggulangi hama penggerek batang padi semoga dapat bermanfaat bagi yang membutuhkannya. (mnr)

Kamis, 14 Maret 2013

FAKTOR - FAKTOR YANG DAPAT MENYEBABKAN TIMBULNYA PENYAKIT PADA TANAMAN

Penyakit pada tanaman adalah disebabkan oleh adanya gangguan organisme yang bersifat parasit , seperti cendawan, bakteri, virus dan tanaman tingkat tinggi. Adapun penyakit itu dapat menular melalui air, angin, pelukaan oleh alat pertanian dan lain-lain. Timbulnya suatu penyakit pada jenis tanaman disebabkan oleh adanya interaksi antara tumbuhan yang terserang pathogen, dan ini dipengaruhi oleh beberapa factor. Dan kondisi setiap factor akan menentukan tingkat kerusakan tanaman pada musim tertentu. Penyakit sporadic merupakan penyakit epifipotik yang tidak selalu terjadi setiap musim dan dengan interval yang tidak teratur. Adapuin penyakit endemic menggambarkan suatu penyakit yang terbatas pada wilayah geografis tertentu, atau penyakit yang selalu terdapat di daerah tertentu dengan menimbulkan kerusakan ringan sampai berat. Adapun factor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan dan penyebaran penyakit antara lain sebagai berikut: 1. Faktor Iklim. Unsur iklim yang berpengaruh besar terhadap perkembangan penyebaran penyakit adalah sebagai berikut;  Suhu. Untuk berkembang dengan pesat, setiap pathogen menghendaki suhu tertentu, bila suhu lebih tinggi atau elbih rendah dari pada kisaran suhu tersebut, perkembangan dan peenyebaran pathogen akan terhambat, bahkan patogern akan amati.  Kelembaban. Hampir sebagian besar penyebab penyakit tanaman terutama golongan cendawan akan berkembang dengan pesat pada kelambaban tinggi, misalnya phitopthora palmifora. Phitopthora infestan dan Fusarium oxyforum Pada suhu, kelembaban, dan tanaman inang yang cocok, spora akan segera tumbuh mementuk miselium.  Cahaya. Faktor cahaya yang paling utama adalah sinar matahari memiliki hubungan erat dengan suhu dan kelembaban. Akibat cahaya matahari terik, suhu lingkungan tempat tanaman tumbuh akan naik. Bila pada lingkungan tersebut terdapat banyak air, maka akan terjadi penguapan sehingga lingkungan menjadi lembab. Kondisi seperti ini amat disenangi oleh pathogen untuk melakukan aktivitas hidupnya, termasuk berkembang biak.  Angin. Angin besar pengaruhnya terhadap penyebaran pathogen. Tubuh pathogen amat ringan sehingga bila ada angin sedikit saja akan mudah lepas dan terbawa terbang. Semakin angin kencang bertiup, penyebaran pathogen akan semakin jauh dan dalam waktu relative singkat penyakit akan cepat meluas.  Curah hujan. Curah hujan tinggi amat membantu perkembangan cendawan dan bakteri. Air hujan yang jatuh kepermukaan tanaman ada yang meresap kedalam jaringan melalaui lubang alami Stomata dan lentisel. Pada saat yang bersamaan, pathogen bisa turut masuk, kemuadian berkembang biak didalam tubuh tanaman dan akhirnya menimbulkan gejala penyakit. Tumbukkan air hujan kepermukaan tanah akan menimbulkan cipartan. Cipratan pathogen yang ada pada tanah ikut terlempa , lalu menempel pada bagian yang lunak. terutama tanaman muda atau tanaman semusim kemudian memparasit tanaman tersebut. 2. Tanah. Sifat tanah dapat memperngaruhi perkembangan dan penyebaran penyakit tanaman misalnya.  pH tanah Tanah yang mempunyai pH rendah disukai oleh sebagaian besar cendawan. Pada tanah masam, cendawan berkembang pesat dan banyak menimbulkan kerugian.  Struktur Tanah. Pada struktur tanah pejal, akar tanaman menjadi lemah karena aerasi dan draenasenya jelak serta tanah memadat. Misalnya Phyitopthora infestan amat menyukai kondisi tanah seprti inI, mudah menginfeksi dan memparasit tanaman.  Kelembaban tanah Tanah yang lembab dapat mempermudah pathogen menginveksi bagian tanaman di dalam tanah, Misalnya Phytopthora palmifora menyenangi tanah yang mengandung bahan organic tinggi dan draenase jelek. Demikian pula Fusarium oxysporum menyenangi tanah berdraenase jelek. 3. Tanaman inang. Berbagai jenis tumbuhan di alam merupakan tanaman inang bagi pathogen tertentu. Ada pathogen yang hanya memiliki beberaspa tanaman inang, ada pula pathogen yang menyukai banyak tanaman. Semakin banyak tanaman yang bisa dijadikan inang, semakin leluasa pathogen bertahan, menyebar dan berkembang biak. Dari sifatnya ada tanaman yang tahan terhadap gangguan pathogen, ada pula yang peka atau rentan. Pada umumnya tanaman yang rentan perkembangan penyakit akan lebih pesat. 4. Faktor Mekanis Faktor mekanis yang berpengaruhi terhadap perkembangan dan penyebaran penyakit tanaman adalah : a. Teknik bercocock tanam. Teknik bercocok tanam yang baik akan mampu menghambat perkembangan penyakit tanaman. Pengolahan tanah dan pembuatan parit yang baik dan teratur akan menyebabkan struktur, aerase dan draenase tanah manjadi baik.sehingga tidak disenangi oleh pathogen. b. Sanitasi. Tumbuhan pengganggu dan bagian tanaman yang ada pada lahan usaha tani bisa dijadikan inang dan media berkembang biak penyakit, dengan sanitasi yang baik berarti tidak memberi kesempatan kepada pathogen untuk memanfaatkan lingkungan tersebut. c. Irigasi. Pembuatan saluran irigasi yang kurang baik. Pemberian air yang tidak teratur akan menimbulkan genangan air dan kelembaban lingkungan yang tinggi, Kondisi seperti ini amat disukai oleh banyak pathogen, selain itu irigasi yang telah tercemar pathogen akan menjadi penyebab meluasnya serangan penyakit tanaman. MEDIUM PENYEBARAN PENYAKIT TANAMN. Umumnya pathogen menetap pada tumbuhan inang yang diserapnya, kemudian dapat berpindah atau menyebar ketanaman atau tempat lain dengan bantuan medium penyebaran. Mediaum penyebaran yang dapat dimanfaatkan pathogen antara lain. 1. Air. Spora cendawan atau koloni bakteri berukuran amat kecil sehingga bila jatuh atau tersapu oleh aliran air akan mudah hanyut terbawa ketempat lain. Proses penyebaran ini akan lebih cepat bila air yang tercemar pathogen tersebut digunakan untuk mengairi tanaman inangnya. 2. Angin. Tiupan angin mempengaruhi cepat atau lambatnya penyebaran penyakit. Tubuh pathogen umumnya amat kecil dan ringan, sehingga mudah tertiup angin. Kemudian menyebar ketempat lain. 3. Serangga. Virus tumbuhan umunyaa tidak keluar dari tubuh tanaman inang. Penyebaran varus dari satu tanaman ke tanaman lain dibantu melalui perantara serangga atau binatang lain (vector) yang menginfeksi atau memakan tanaman sakit. Disamping itu vector dapat menyebarkan cendawan dan bakteri dari tanaman sakit ketanaman lain. 4. Manusia. Dalam kegiatan pertanian manusia selalu berperan sebagai pengelaola tanaman budidaya, termasuk melakukan pemeliharaan tanaman, seperti menyiram, menyiang, memangkas. Pada saat melakukan pemeliharaan tanaman, pathogen dapat menempel pada tubuh, pakaian, atau alat-alat pertanian. Oleh karena itu manusia dalam kegiatan pertanian dapat berperan sebagai medium penyebaran penyakit tanaman. Demikian beberapa faktor yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit pada tanaman, semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi yang membutuhkanya, sehingga dalam teknik budidaya tanamnnya dapat berhasil dengan baik. (mnr)

Rabu, 13 Maret 2013

TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN SAYURAN DENGAN SISTEM VERTIKULTUR

Guna mendukung keberhasilan program penganeka ragaman pangan pemerintah kini telah menempuh berbagai macam cara agar lebih memantapkan ketahan pangan, sehingga petani atau masyarakat tidak tertumpu hanya pada komoditas beras dan terigu saja. Petani bisa mengembangkan komoditas lain seperti umbi-umbian, jagung, sagu, dan lainnya, sehingga komoditas tersebut dapat memenuhi kebutuhan akan gizi yang sangat diperlukan bagi tubuh khususnya karbohidrat, lemak, protein, vitamin serta serat yang nberfungsi sebagai bahan untuk mempermudah proses pencernaan makanan. Dalam budidaya tanaman dapat dilakukan dengan sistem vertikultur. Vertikultur Adalah sistem budidaya tanaman secara bertingkat, dengan cara penanaman bertingkat ini ternyata dapat memanfaatkan lahan pertanian yang sempit atau terbatas menjadi lebih luas beberapak kali lipat . Komposisi media yang digunakan sebaiknya adalah lapisan topsoil, pasir halus, pupuk kandang, kompos dan kapur pertanian. Pelaksanaan penanaman vertikultur dapat dilakukan pada suatu tempat tertentu baik berupa polibag, pot, tas plastic, gerabah tanah, keramik atau paralon , kaleng bekas serta batang bambu. Bahwa dengan penanaman sisitem vertikultur disamping menghemat lahan pertanian ternyata dapat juga menghemat kebutuhan air, karena air merupakan factor pembatas bagi tanaman untuk daerah tertentu. PENGARUH KADAR AIR TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN Bahwa selama siklus hidup tanaman, mulai dari perkecambahan sampai dengan panen akan selalu memerlukan air, dan nampaknya tidak satupun proses kehidupan tanaman yang dapat bebas tanpa adanya air. Besarnya kebutuhan air setiap fase pertumbuhan selama siklus hidupnya tidak sama, hal ini berhubungan langsung dengan proses fisiologis, marfologis dan kombinasi dari kedua factor tersebut dengan factor lingkungan. Adapun fungsi air bagi tanaman adalah sebagai berikut: • Merupakan unsur penting dari protoplasma, terutama pada jaringan meristematik • Sebagai pelarut dalam proses fotositesis dan proses hidrolitik, seperti perubahan pati menjadi gula • Bagian yang esensial dalam menstabilkan turgol sel tanaman. • Pengatur suhu bagi tanaman, karena air mempunyai kemampuan menyerap panas yang baik. • Transport bagi garam-garam , gas dan material lainnya dalam tubuh tanaman. Kebutuhan air pada tanaman dapat dipenuhi melaui tanah dengan jalan penyerapan oleh akar. Besarnya air yang diserap oleh akar tanaman sangat tergantung pada kadar air tanah dan kondisi lingkungan diatas tanah. Kisaran kadar air tanah yang tersedia secara optimum berada antara kapasitas lapang (field capacity) dan titik layu permanen (permanen waiting point) kondisi ini berada antara 50 % sampai 70% air tersedia. Ketersediaan air dalam tanah ditentukan oleh kemampuan partikel tanah memegang air, dan kemampouan akar untuk menyerapnya. Besarnya kemapuan partikel tanah memegang air ditentukan oleh jumlah air dalam tanah . Jumlah air dapat diserap oleh akar pada lapisan tanah dari peringkat pertama, kedua, ketiga dan ke empat berturut turut adalah 40%, 30 %, 20 % dan 10 % . Defisit dapat langsung mempengaruhi peretumbuhan vegetative tanaman. Kisaran defisist air ini tergantung umur tanaman, kondisi lingkungan terutama ditentukan oleh tegangan turgor. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYERAPAN AIR OLEH AKAR TANAMAN Penyerapan air aleh akar tanaman sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan marfologi akar tanaman. Faktor-faktor yang penting yang mempengaruhi penyerapan air oleh akar tanaman adalah ; • Ketersediaan air tanah • Temperatur tanah • Sirkulasi udara tanah • Konsentrasi larutan dalam tanah • Sistem perakaran tanaman Adapun untuk mengatasi permasalahan air yang sangat dibutuhkan oleh tanaman, sehingga air dapat tersedia dengan cukup pada waktu musim kemarau dengan penggunaan air seefisien mungkin, maka model penanaman dengan cara vertikultur menggunakan bambu, pot plastic, kaleng bekas adalah merupakan bahan yang mudah didapat dan mudah digunakan untuk menampung air, sehingga ketersediaan air tanah dapat tercukupi dan kondisi tanaman dapat tumbuh dengan baik. Apabila kebutuhan air tanah tercukupi berarti berada pada kondisi ketersediaan air yang optimum bagi tanaman. Dengan menggunakan air yang efisien akan tetapi selalu tersedia pada tanaman, maka tanaman akan dapat menstabilkan temperatur air tanah dan kebutuhan air pada tanaman sehingga dapat seimbang. Adapun alat dan bahan yang digunakan untuk membuat system vertikultur tanaman adalah Bambu, bejana/ pot/ kaleng, Gergaji, tang,linggis, palu, paku , kawat/tali Cara membuat.  Ambil batang bambu dan potonglah dengan gergaji sepanjang + 2 meter, Bagian bawah dipotong dibawah batas ruas dan bagian diatas juga dipotong dibawah ruas jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan  Bambu-bambu yang telah dipotong diatas nantinya digunakan sebagai tiang. bambu tersebut dibuat lubang dikanan dan kiri sepanjang 1/3 ruas bambu. yang nantinya dipakai untuk tempat tumbuh tanaman, dan yang 2/3 bagian dari ruas bambu digunakan untuk menampung media tanam.  Buatlah rak-rak tanam sebanyak 3-4 rak dengan belahan bamboo atau kayu yang nantinya sebagai tempat pot-pot tanaman, rak-rak tersebut dipaku dan diikat erat dengan kawat sehingga kuat dan kokoh  Sediakan pot-pot bisa dari pot plastic atau kaleng bekas atau bahan lainnya.  Isilah pot-pot tersebut dan bambu yang telah dilubangi dengan media tanam yang terdiri dari tanah, pupuk kandang dan pasir halus dengan perbandingan 1;1;1;  Setelah itu tanamilah dengan tanaman yang kita inginkan misalnya tanaman sawi, kangkung darat, tomat, cabe, terong dan lainnya  Siramlah tanaman setiap hari untuk menjaga kelebaban,kesehatan dan kesuburan tanaman serta untuk menghindari kekeringan  Tempatlah tanaman system vertikultur ini pada tempat atau areal yang terkena sinar matahari langsung, karena sinar matahari sangat membantu terhadap perkembangan dan petumbuhan tanaman pada proses foto sintesis.  Rawatlah tanaman sebaik-baiknya dengan cara dipupuk, disiram dan dikendalikan hama penyakitnya abila terdapat adanya tanda-tanda atau gejala serangan hama penyakit.  Karena tanaman vertikultur umumnya di letakan di sekeliling rumah atau di pekarangan, maka untuk mencegah adanya gangguan hewan yang bisa merusak, sebaiknya tanaman perlu dipagar sehingga tanaman lebih aman. Demikian teknik budidaya tanaman dengan sistem Vertikultur semoga dapat bermanfaat bagi yang memerlukannya.