Tampilkan postingan dengan label BUDIDAYA TANAMAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BUDIDAYA TANAMAN. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Juni 2013

Budidaya tanaman tebu

                                                           Budidaya tanaman tebu

tanaman tebu

Tanaman tebu (Sacharum officinarum) adalah termasuk keluarga Graminae atau rumput-rumputan dan berkembang biak di daerah beriklim udara sedang sampai panas. Tebu cocok pada yang mempunyai ketinggian tanah 1 sampai 1300 meter di atas permukaan laut.
Tebu yang tumbuh di lebih dari 200 negara, India adalah terbesar kedua produsen gula sdangkan pengasil terbesarnay adalah Brasil. Di negera Negara Karibia tebu dioleh menjadi Falernum dan dipergunakan sebagai bahan campuran cocktail.

Syarat tumbuh tanaman tebu
1.    Iklim
a)  Hujan yang merata diperlukan setelah tanaman berumur 8 bulan dan kebutuhan ini berkurang sampai menjelang panen
b)   Tanaman tumbuh baik pada daerah beriklim panas dan lembab.
c)    Kelembaban yang baik untuk pertumbuhan tanaman ini > 70%Suhu udara berkisar antara 28-34 derajat 

2.    Media Tanam
a)    Tanah yang terbaik adalah tanah subur dan cukup air tetapi tidak tergenang.
b)   Jika ditanam di tanah sawah dengan irigasi pengairan mudah di atur tetapi jika ditanam di ladang/tanah kering yang tadah hujan penanaman harus dilakukan di musim hujan.
3.    Ketinggian Tempat Ketinggian tempat yang baik untuk pertumbuhan tebu adalah 5-500 m dpl. II.

PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
Pembibitan
Bibit yang akan ditanam berupa bibit pucuk,bibit batang muda,  bibit rayungan dan  bibit siwilan
a)    Bibit pucuk Bibit diambil dari bagian pucuk tebu yang akan digiling berumur 12 bulan. Jumlah mata (bakal tunas baru) yang diambil 2-3 sepanjang 20 cm. Daun kering yang membungkus batang tidak dibuang agar melindungi mata tebu. Biaya bibit lebih murah karena tidak memerlukan pembibitan, bibit mudah diangkut karena tidak mudah rusak, pertumbuhan bibit pucuk tidak memerlukan banyak air. Penggunaan bibit pucuk hanya dapat dilakukan jika kebun telah berporduksi.

b)   Bibit batang muda Dikenal pula dengan nama bibit mentah / bibit krecekan. Berasal dari tanaman berumur 5-7 bulan. Seluruh batang tebu dapat diambil dan dijadikan 3 stek. Setiap stek terdiri atas 2-3 mata tunas. Untuk mendapatkan bibit, tanaman dipotong, daun pembungkus batang tidak dibuang.1 hektar tanaman kebun bibit bagal dapat menghasilkan bibit untuk keperluan 10 hektar.

c)     Bibit rayungan (1 atau 2 tunas) Bibit diambil dari tanaman tebu khusus untuk pembibitan berupa stek yang tumbuh tunasnya tetapi akar belum keluar. Bibit ini dibuat dengan cara:
1.      Melepas daun-daun agar pertumbuhan mata tunas tidak terhambat.
2.      Batang tanaman tebu dipangkas 1 bulan sebelum bibit rayungan dipakai.
3.      Tanaman tebu dipupuk sebanyak 50 kg/ha Bibit ini memerlukan banyak air dan pertumbuhannya lebih cepat daripada bibit bagal. 1 hektar tanaman kebun bibit rayungan dapat menghasilkan bibit untuk 10 hektar areal tebu.
Kelemahan bibit rayungan adalah tunas sering rusak pada waktu pengangkutan dan tidak dapat disimpan lama seperti halnya bibit bagal. d) Bibit siwilan Bibit ini diambil dari tunas-tunas baru dari tanaman yang pucuknya sudah mati. Perawatan bibit siwilan sama dengan bibit rayungan.
Pengolahan Media Tanam Terdapat dua jenis cara mempersiapkan lahan perkebunan tebu yaitu cara reynoso dan bajak. Persiapan Disebut juga dengan cara Cemplongan dan dilakukan di tanah sawah. Pada cara ini tanah tidak seluruhnya diolah, yang digali hanya lubang tanamnya


 Pembukaan Lahan
a)    Pada lahan sawah dibuat petakan berukuran 1.000 m2. Parit membujur, melintang dibuat dengan lebar 50 cm dan dalam 50 cm. Selanjutnya dibuat parit keliling yang berjarak 1,3 m dari tepi lahan.
b)   Lubang tanam dibuat berupa parit dengan kedalaman 35 cm dengan jarak antar lubang tanam (parit) sejauh 1 m. Tanah galian ditumpuk di atas larikan diantara lubang tanam membentuk guludan. Setelah tanam, tanah guludan ini dipindahkan lagi ke tempat semula.

Teknik Penanaman
 Penentuan Pola Tanam Umumnya tebu ditanam pada pola monokultur pada bulan Juni-Agustus (di tanah berpengairan) atau pada akhir musim hujan (di tanah tegalan/sawah tadah hujan). Terdapat dua cara bertanam tebu yaitu dalam aluran dan pada lubang tanam.
Pada cara pertama bibit diletakkan sepanjang aluran, ditutup tanah setebal 2-3 cm dan disiram. Cara ini banyak dilakukan dikebun Reynoso. Cara kedua bibit diletakan melintang sepanjang solokan penanaman dengan jarak 30-40 cm. Pada kedua cara di atas bibit tebu diletakkan dengan cara direbahkan. Bibit yang diperlukan dalam 1 ha adalah 20.000 bibit.

Cara Penanaman Sebelum tanam, tanah disiram agar bibit bisa melekat ke tanah.
a)    Bibit stek (potongan tebu) ditanam berimpitan secara memanjang agar jumlah anakan yang dihasilkan banyak. Dibutuhkan 70.000 bibit stek/ha.
b) Untuk bibit bagal/generasi, tanah digaris dengan kedalaman 5-10 cm, bibit dimasukkan ke dalamnya dengan mata menghadap ke samping lalu bibit ditimbun dengan tanah. Untuk bibit rayungan bermata satu, bibit dipendam dan tunasnya dihadapkan ke samping dengan kemiringan 45 derajat, sedangkan untuk rayungan bermata dua bibit dipendam dan tunasnya dihadapkan ke samping dengan kedalaman 1 cm. Satu hari setelah tanam lakukan penyiraman jika tidak turun hujan. Penyiraman ini tidak boleh terlambat tetapi juga tidak boleh terlalu banyak.

Pemeliharaan Tanaman
1. Penjarangan dan Penyulaman
a)  Sulaman pertama untuk tanaman yang berasal dari bibit rayungan bermata satu dilakukan 5-7 hari setelah tanam. Bibit rayungan sulaman disiapkan di dekat tanaman yang diragukan pertumbuhannya. Setelah itu tanaman disiram. Penyulaman kedua dilakukan 3-4 minggu setelah penyulaman pertama.
b) Sulaman untuk tanaman yang berasal dari bibit rayungan bermata dua dilakukan tiga minggu setelah tanam (tanaman berdaun 3-4 helai). Sulaman diambil dari persediaan bibit dengan cara membongkar tanaman beserta akar dan tanah padat di sekitarnya. Bibit yang mati dicabut, lubang diisi tanah gembur kering yang diambil dari guludan, tanah disirami dan bibit ditanam dan akhirnya ditimbun tanah. Tanah disiram lagi dan dipadatkan.

c)   Sulaman untuk tanaman yang berasal dari bibit pucuk. Penyulaman pertama dilakukan pada minggu ke 3. Penyulaman kedua dilakukan bersamaan dengan pemupukan dan penyiraman ke dua yaitu 1,5 bulan setelah tanam.Kedua penyulaman ini dilakukan dengan cara yang sama dengan point (b) di atas.

d)  Penyulaman ekstra dilakukan jika perlu beberapa hari sebelum pembumbunan ke 6. Adanya penyulaman ekstra menunjukkan cara penanaman yang kurang baik.

e) Penyulaman bongkaran. Hanya boleh dilakukan jika ada bencana alam atau serangan penyakit yang menyebabkan 50% tanaman mati. Tanaman sehat yang sudah besar dibongkar dengan hati-hati dan dipakai menyulan tanaman mati. Kurangi daun-daun tanaman sulaman agar penguapan tidak terlalu banyak dan beri pupuk 100-200 Kg/ha.

Penyiangan
Penyiangan gulma dilakukan bersamaan dengan saat pembubunan tanah dan dilakukan beberapa kali tergantung dari pertumbuhan gulma. Pemberantasan gulma dengan herbisida di kebun dilaksanakan pada bulan Agustus sampai November dengan campuran 2-4 Kg Gesapas 80 dan 3-4 Kg Hedanol power.

Pembubunan
Sebelum pembubunan tanah harus disirami sampai jenuh agar struktur tanah tidak rusak.
a)    Pembumbunan pertama dilakukan pada waktu umur 3-4 minggu. Tebal bumbunan tidak boleh lebih dari 5-8 cm secara merata. Ruas bibit harus tertimbun tanah agar tidak cepat mengering.
b)    Pembumbun ke dua dilakukan pada waktu umur 2 bulan.
c)    Pembumbuna ke tiga dilakukan pada waktu umur 3 bulan.
d)   Perempalan Daun-daun kering harus dilepaskan sehingga ruas-ruas tebu bersih dari daun tebu kering dan menghindari kebakaran.
 Bersamaan dengan pelepasan daun kering, anakan tebu yang tidak tumbuh baik dibuang. Perempalan pertama dilakukan pada saat 4 bulan setelah tanam dan yang kedua ketika tebu berumur 6-7 bulan.

Pemupukan
Pemupukan dilakukan dua kali yaitu saat tanam atau sampai 7 hari setelah tanam dengan dosis 7 gram urea, 8 gram TSP dan 35 gram KCl per tanaman (120 kg urea, 160 kg TSP dan 300 kg KCl/ha).dan (2) pada 30 hari setelah pemupukan ke satu dengan 10 gram urea per tanaman atau 200 kg urea per hektar. Pupuk diletakkan di lubang pupuk (dibuat dengan tugal) sejauh 7-10 cm dari bibit dan ditimbun tanah. Setelah pemupukan semua petak segera disiram supaya pupuk tidak keluar dari daerah perakaran tebu. Pemupukan dan penyiraman harus selesai dalam satu hari. Agar rendeman tebu tinggi, digunakan zat pengatur tumbuh seperti Cytozyme (1 liter/ha) yang diberikan dua kali pada 45 dan 75 Hari.

Pengairan dan Penyiraman
Pengairan dilakukan dengan berbagai cara:
a)      Air dari bendungan dialirkan melalui saluran penanaman.
b)   Penyiraman lubang tanam ketika tebu masih muda. Waktu tanaman berumur 3 bulan, dilakukan pengairan lagi melalui saluran-saluran kebun.
c)   Air siraman diambil dari saluran pengairan dan disiramkan ke tanaman. d) Membendung got-got sehingga air mengalir ke lubang tanam.
Pengairan dilakukan pada saat:
a)      Waktu tanam
b)      Tanaman berada pada fase pertumbuhan vegetatif
c)       Pematangan.

Hama dan Penyakit
Hama Penggerek batang bergaris (Proceras cacchariphagus), penggerek batang berkilat (Chilitrae auricilia), penggerek batang abu-abu (Eucosma schismacaena), penggerek batang kuning (Chilotraea infuscatella), penggerek batang jambon (Sesmia inferens)
Gejala: daun yang terbuka mengalami khlorosis pada bagian pangkalnya; pada serangan hebat, bentuk daun berubah, terdapat titik-titik atau garis-garis berwarna merah di pangkal daun; sebagian daun tidak dapat tumbuh lagi; kadang-kadang batang menjadi busuk dan berbau tidak enak.Pengendalian: dengan suntikan insektisida Furadan 3G (0,5 kg/ha) pada waktu tanaman berumur 3-5 bulan. Suntikan dilakukan jika terdapat 400 tanaman terserang dalam 1 hektar.
Tikus Pengendalian: dengan gropyokan secara bersama atau pengemposan belerang pada lubang yang dihuni tikus. Penyakit :
a)    Pokkahbung Penyebab: Gibbrela moniliformis. Bagian yang diserang adalah daun, pada stadium lanjut dapat menyerang batang. Gejala: terdapat noda merah pada bintik khlorosis di helai daun, lubang-lubang yang tersebar di daun, sehingga daun dapat robek, daun tidak membuka (cacat bentuk), garis-garis merah tua di batang, ruas membengkak. Pengendalian: memakai bibit resisten, insektisida Bulur Bordeaux 1% dan pengembusan tepung kapur tembaga.

b)    Dongkelan Penyebab: jamur Marasnius sach-hari Bagian yang diserang adalah jaringan tanaman sebelah dalam dan bibit di dederan/persemaian. Gejala: tanaman tua dalam rumpun mati tiba-tiba, daun tua mengering, kemudian daun muda, warna daun menjadi hijau kekuningan dan terdapat lapisan jamur seperti kertas di sekeliling batang. Pengendalian: tanah dijaga agar tetap kering.

c)    Noda kuning Penyebab: jamur Cercospora kopkei . Bagian yang diserang daun dan bagian-bagaian dengan kelembaban tinggi. Gejala: noda kuning pucat pada daun muda yang berubah menjadi kuning terang. Timbul noda berwarna merah darah tidak teratur; bagian bawah tertutup lapisan puiih kotor. Helai daun mati berwarna agak kehitaman. Pengendalian: adalah dengan memangkas dan membakar daun yang terserang. Kemudian menyemprot dengan tepung belerang ditambah kalium permanganat.

d)   Penyakit nanas Penyebab: adalah jamur Ceratocytis paradoxa. Bagian yang diserang adalah bibit yang telah dipotong. Gejala: warna merah bercampur hitam pada tempat potongan, bau seperti buah nanas. Pengendalian: luka potongan diberi ter atau desinfeksi dengan 0,25% fenylraksa asetat.

e) Noda cincin Bagian yang diserang daun, lebih banyak di daerah lembab daripada daerah kering. Penyebab: jamur Heptosphaeria sacchari, Helmintosporium sachhari, Phyllsticta saghina. Gejala: noda hijau tua di bawah helai daun, bagian tengah noda menjadi coklat; pada serangan lanjut, warna coklat menjadi jernih, daun kering. Pengendalian: mencabut tanaman sakit dan membakarnya.
f) Busuk bibit Bagian yang diserang adalah bibit dengan gejala tanaman kekuningan dan layu. Penyebab: bakteri. Gejala: bibit yang baru ditanam busuk dan buku berwarna abu-abu sampai hitam. Pengendalian: menanam bibit sehat, perbaikan sistim pembuangan air yang baik, serta tanah dijaga tetap kering.

g)Blendok Bagian yang diserang adalah daun tanaman muda berumur 1,5-2 bulan pada musim kemarau.Penyebab: Xanthomonas albilicans. Gejala: terdapat pada khlorosis pada daun; pada serangan hebat seluruh daun bergaris hijau dan putih; titik tumbah dan tunas berwarna merah. Pengendalian: Menanam bibit resisten (2878 POY, 3016 POY), Lakukan desinfeksi para pemotong bibit, merendam bibit dalam air panas 52,5oC dan lonjoran bibit dijemur 1-2 hari.

h)Virus mozaik Penyebab: Virus. Pengendalian: menjauhkan tanaman inang, bibit yang sakit dicabut dan dibakar.

Panen
Ciri dan Umur Panen Umur panen tergantung dari jenis tebu:
a) Varitas genjah masak optimal pada < 12 bulan
b) Varitas sedang masak optimal pada 12-14 bulan,
c) Varitas dalam masak optimal pada > 14 bulan. Panen dilakukan pada bulan Agustus pada saat rendeman (persentase gula tebu) maksimal dicapai.

Cara Panen
a)  Mencangkul tanah di sekitar rumpun tebu sedalam 20 cm.
b) Pangkal tebu dipotong dengan arit jika tanaman akan ditumbuhkan kembali. Batang dipotong dengan menyisakan 3 buku dari pangkal batang.
c) Mencabut batang tebu sampai ke akarnya jika kebun akan dibongkar.Potong akar batang dan 3 buku dari permukaan pangkal batang.
d) Pucuk dibuang.
e) Batang tebu diikat menjadi satu (30-50 batang/ikatan) untuk dibawa ke pabrik untuk segera digiling Panen dilakukan satu kali di akhir musim tanam.

Perkiraan Produksi Hasil Tebu Rakyat Intensifikasi I di tanah sawah adalah 120 ton/ha dengan rendemen gula 10% sedangkan hasil TRI II di tanah sawah adalah 100 ton dengan rendemen 9%. Di tanah tegalan produksi tebu lebih rendah lagi yaitu pada TRI I tegalan adalah 90 ton/ha dan pada TRI II tegalan sebesar 80 tom/ha.

Pascapanen
1. Pengumpulan Hasil tanam dari lahan panen dikumpulkan dengan cara diikat untuk dibawa ke pengolahan.
2. Penyortiran dan Penggolongan Syarat batang tebu siap giling supaya rendeman baik:
a. Tidak mengandung pucuk tebu
b. Bersih dari daduk-daduk (pelepah daun yang mengering)
c. Berumur maksimum 36 jam setelah tebang.
Tanaman tebu atau Saccharum officinarum merupakan bahan utama penghasil gula pasir. Pengusahaan tanaman tebu pada lahan sawah perlu memperhatikan kelayakan usaha, dalam arti dapat memberikan produktivitas lahan yang cukup tinggi, tidak terlalu jauh dari pabrik gula dengan prasarana seperti jalan dan jembatan yang cukup, dan tidak membahayakan kelestarian lingkungan.
Kelayakan usaha ini sangat penting karena tidak saja menyangkut operasi perusahaan tetapi juga pendapatan petani yang mengusahakan tebu di wilayah itu. Usahatani yang dapat menjamin pendapatan yang cukup tinggi merupakan motivasi kuat yang mendorong petani mencintai tanaman tebu yang diusahakannya.
Bibit merupakan modal dasar dalam budidaya tebu, sehingga dalam upaya peningkatan produksi dan produktifitas gula, penggunaan bibit unggul tebu mutlak dilakukan. Bibit tebu adalah bagian dari tanaman tebu yang merupakan bahan tanaman yang dapat dikembangkan untuk pertanaman baru. Bibit unggul tebu berkualitas memiliki potensi produksi tinggi, bebas hama penyakit, mempunyai tingkat kemurnian lebih dari 95%, umur sekitar 6 -7 bulan. Bibit unggul dapat diperoleh di Kebun Bibit.
Kebun Bibit adalah kebun untuk penyelenggaraan pembibitan, guna memperoleh bibit yang memenuhi persyaratan mutu dan jumlah yang cukup.

Daur kehidupan tanaman tebu melalui 5 fase, yaitu :
1.      Perkecambahan 
Dimulai dengan pembentukan taji pendek dan akar stek pada umur 1 minggu dan diakhiri pada fase kecambah pada umur 5 minggu.

2.      Pertunasan
 Dimulai dari umur 5 minggu sampai 3,5 bulan.

3.       Pemanjangan Batang
Dimulai dari umur 3,5 bulan sampai 9 bulan.

4.       Kemasakan
 Merupakan fase yang terjadi setelah pertumbuhan vegetatif menurun dan sebelum batang tebu mati. Pada fase ini gula di dalam batang tebu mulai terbentuk hingga titik optimal hingga berangsur-angsur menurun. Fase ini disebut juga fase penimbunan rendemen gula.

5.      Kematian
Rendemen tebu adalah kadar kandungan gula didalam batang tebu yang dinyatakan dengan persen. Bila dikatakan rendemen tebu 10 %,artinya ialah bahwa dari 100 kg  tebu yang digilingkan di Pabrik Gula akan diperoleh gula sebanyak 10 kg.
Ada 3 macam rendemen,yaitu: rendemen contoh,rendemen sementara, dan rendemen efektif.

1.      Rendemen Contoh
Rendemen ini merupakan contah yang dipakai untuk mengetahui apakah suatu kebun tebu sudah mencapai masak optimal atau belum. Dengan kata lain rendemen contah adalah untuk mengetahui gambaran suatu kebun tebu berapa tingkat rendemen yang sudah ada sehingga dapat diketahui kapan kapan saat tebang yang tepat dan kapan tanaman tebu mencapai tingkat rendemen yang memadai.
Rumus :Nilai nira x Faktor rendemen = Rendemen

2.      Rendemen Sementara
            Perhitungan ini dilaksanakan untuk menentukan bagi hasil gula,namun sifatnya masih sementara.Hal ini untuk memenuhi ketentuan yang menginstruksikan agar penentuan bagi hasil gula dilakukan secepatnya setelah tebu petani digiling sehingga petani tidak menunggu terlalu lama sampai selesai giling namun diberitahu lewat perhitungan rendemen sementara.
Cara mendapatkan rendemen sementara ini adalah dengan mengambil nira perahan pertama tebu yang digiling untuk dianalisis di laboratorium untuk mengetahui berapa besar rendemen sementara tersebut.
Rumus : Rendemen Sementara = Faktor Rendemen x Nilai Nira

3.       Rendemen Efektif
Rendemen efektif disebut juga rendemen nyata atau rendemen terkoreksi. Rendemen efektif adalah rendemen hasil perhitungan setelah tebu digiling habis dalam jangka waktu tertentu.Perhitungan rendemen efektif ini dapat dilaksanakan dalam jangka waktu 15 hari atau disebut 1 periode giling sehingga apabila pabrik gula mempunyai hari giling 170 hari,maka jumlah periode giling adalah 170/15 = 12 periode.Hal ini berarti terdapat 12 kali rendemen nyata/efektif yang bisa diperhitungkan dan diberitahukan kepada petani tebu.
Tebu yang digiling di suatu pabrik gula  jelas hanya sebagian kecil saja yang akan menjadi gula.Kalau 1 kuintal tebu mempunyai rendemen 10 % maka hanya 10 kg gula yang didapat dari 1 kuintal tebu tersebut

Manfaat Tebu (Sacharum officinarum)
Tebu (Sacharum officinarum) adalah termasuk keluarga Graminae atau rumput-rumputan dan berkembang biak di daerah beriklim udara sedang sampai panas. Tebu cocok pada yang mempunyai ketinggian tanah 1 sampai 1300 meter di atas permukaan laut.
Tebu yang tumbuh di lebih dari 200 negara, India adalah terbesar kedua produsen gula sdangkan pengasil terbesarnay adalah Brasil. Di negera Negara Karibia tebu dioleh menjadi Falernum dan dipergunakan sebagai bahan campuran cocktail.
Selain sebagai bahan baku gula, tebu juga banyak berkhasiat sebagai obat, khasiat dari Tebu adalah sebagai berikut :
  1. Ada beberapa manfaat tebu diantaranya gigunakan untuk dikomsumsi langsung dengan cara dibuat jus, dibuat menjadi tetes rum dan dibuat menjadi ethanol yang nantinya digunakan sebagai bahan bakar. Limbah hasil produksi dari tebu bisa dimanfaatkan menjadi listrik.
  2. Ekstrak sari tebu yang ditambah jeruk nipis dan garam biasa di komsumsi di India itu dimaksudkan untuk memberika kekuatan gigi dan gusi
  3. Air tebu dapat dimanfaatkan sebagai penyembuh sakit tenggorokan dan mencegak sakit Flu serta bisa menjaga badan kita sehat. Air tebu ini bisa dimanfaatkan oleh penderita diabetes dimanfaatkan sebagai pemanis karena kadar gula yang rendah. Karena tebu bersifat alkali sehingga dapat membantu melawan kanker payudara dan prostat.
  4. Mengkomsumsi air tebu secara teraktur dapat menjaga metabolisme tubuh kita dari kekurangan cairan karena banyak kegiatan yang sudah dilakukan sehingga dapat terhindar dari stroke. Dengan banyaknya kandungan karbonhidrat sehingga dapat menambah kekuatan jantung, mata, ginjal dan otak. Membantu dalam pengobatan penyakit kuning karena memberikan kekuatan untuk hati yang menjadi lemah selama penyakit kuning. Membantu dalam menjaga aliran air kencing yang jelas dan juga membantu ginjal untuk menjalankan fungsi mereka dengan baik.


DAFTAR PUSTAKA
Anonimous. 2010. Menekan Kehilangan Rendemen Gula Pada Tebu Rakyat.
Soejardi. 2003. Proses Pengolahan di Pabrik Gula Tebu. LPP. Yogyakarta.
Soekartawi. 1999. Agribisnis Teori dan Aplikasinya. Universitas Brawijaya.
Grafindo Persada. Jakarta
Sutardjo, Edhi. 1994. Budidaya Tanaman Tebu. Bumi Aksara. Jakarta
Tim Penulis. 2000. Pembudidayaan Tebu di Lahan Sawah dan Tegalan.
Penebar Swadaya, Jakarta


Minggu, 19 Mei 2013

Morfologi Tanaman Jagung


tanaman jagung merupakan tanaman semusim,yang menguntungkan bila dibudidayakan dengan baik dan efektif.
nah disini saya akan membagikan sedikit pengetahuan tentang morfologi tanaman jagung mulai dari akar,batang,daun,bunga dan tongkol.

1.akar

Jagung mempunyai akar serabut dengan tiga macam akar, yaitu akar seminal,akar adventif, dan akar kait atau penyangga. Akar seminal adalah akar yang berkembang dari radikula dan embrio. Pertumbuhan akar seminal akan melambat setelah plumula muncul ke permukaan tanah dan pertumbuhan akar seminal akan berhenti pada fase V3. Akar adventif adalah akar yang semula berkembang dari buku di ujung mesokotil, kemudian set akar adventif berkembang dari tiap buku secara berurutan dan terus ke atas antara 7-10 buku, semuanya di bawah permukaan tanah. Akar adventif berkembang menjadi serabut akar tebal. Akar seminal hanya sedikit berperan dalam siklus hidup jagung. Akar adventif berperan dalam pengambilan air dan hara. Bobot total akar jagung terdiri atas 52% akar adventif seminal dan 48% akar nodal. Akar kait atau penyangga adalah akar adventif yang muncul pada dua atau tiga buku di atas permukaan tanah. Fungsi dari akar penyangga adalah menjaga tanaman agar tetap tegak dan mengatasi rebah batang. Akar ini juga membantu penyerapan hara dan air.

akar jagung


2. Batang jagung .

Tanaman jagung mempunyai batang yang tidak bercabang, berbentuk silindris, dan terdiri atas sejumlah ruas dan buku ruas. Pada buku ruas terdapat tunas yang berkembang menjadi tongkol. Dua tunas teratas berkembang menjadi tongkol yang produktif. Batang memiliki tiga komponen jaringan utama, yaitu kulit (epidermis), jaringan pembuluh (bundles vaskuler), dan pusat batang (pith). Bundles vaskuler tertata dalam lingkaran konsentris dengan kepadatan bundles yang tinggi, dan lingkaran-lingkaran menuju perikarp dekat epidermis. Kepadatan bundles berkurang begitu mendekati pusat batang. Konsentrasi bundles vaskuler yang tinggi di bawah epidermis menyebabkan batang tahan rebah. Genotipe jagung yang mempunyai batang kuat memiliki lebih banyak lapisan jaringan sklerenkim berdinding tebal di bawah epidermis batang dan sekeliling bundles vaskuler (Paliwal 2000). Terdapat variasi ketebalan kulit antargenotipe yang dapat digunakan untuk seleksi toleransi tanaman terhadap rebah batang.

Batang jagung tegak dan mudah terlihat, sebagaimana sorgum dan tebu, namun tidak seperti padi atau gandum. Terdapat mutan yang batangnya tidak tumbuh pesat sehingga tanaman berbentuk roset. Batang beruas-ruas. Ruas terbungkus pelepah daun yang muncul dari buku. Batang jagung cukup kokoh namun tidak banyak mengandung lignin.

batang jagung



3.Daun

Daun jagung adalah daun sempurna. Bentuknya memanjang. Antara pelepah dan helai daun terdapat ligula. Tulang daun sejajar dengan ibu tulang daun. Permukaan daun ada yang licin dan ada yang berambut. Stomata pada daun jagung berbentuk halter, yang khas dimiliki familia Poaceae. Setiap stomata dikelilingi sel-sel
epidermis berbentuk kipas. 

daun jagung


4. Bunga.
Jagung memiliki bunga jantandan bunga betina yang terpisah (diklin) dalam satu tanaman (monoecious). Tiap kuntum bunga memiliki struktur khas bunga dari suku Poaceae, yang disebut floret. Pada jagung, dua floret dibatasi oleh sepasang glumae (tunggal: gluma). Bunga jantan tumbuh di bagian puncak tanaman, berupa karangan bunga (inflorescence). Serbuk sari berwarna kuning dan beraroma khas. Bunga betina tersusun dalam tongkol.

                                                  gambar bunga jantan dan bunga betina

5. Tongkol.
Tongkol tumbuh dari buku, di antara batang dan pelepah daun. Pada umumnya, satu tanaman hanya dapat menghasilkan satu tongkol produktif meskipun memiliki sejumlah bunga betina. Buah Jagung siap panen Beberapa varietas unggul dapat menghasilkan lebih dari satu tongkol produktif, dan disebut sebagai varietas prolifik. Bunga jantan jagung cenderung siap untuk penyerbukan 2-5 hari lebih dini daripada bunga betinanya (protandri).
tanaman jagung mempunyai satu atau dua tongkol, tergantung varietas. Tongkol jagung diselimuti oleh daun kelobot. Tongkol jagung yang terletak pada bagian atas umumnya lebih dahulu terbentuk dan lebih besar dibanding yang terletak pada bagian bawah. Setiap tongkol terdiri atas 10-16 baris biji yang jumlahnya selalu genap.

tongkol jagung

nah itulah sedikit ilmu yang bisa saya bagikan tentang morfologi tanaman jagung
terimakasih sudah membaca artikel saya tentang morfologi tanaman jagung semoga bermanfaat dan membantu :)





Kamis, 02 Mei 2013

Budidaya Tanaman Singkong




                                              Budidaya tanaman singkong ( Manihot utilissima Pohl)

                                  


1.    SEJARAH SINGKAT
Ketela pohon merupakan tanaman pangan berupa perdu dengan nama lain ubi kayu, singkong atau kasape. Ketela pohon berasal dari benua Amerika, tepatnya dari negara Brazil. Penyebarannya hampir ke seluruh dunia, antara lain: Afrika, Madagaskar,  India, Tiongkok.  Ketela  pohon
 berkembang  di  negara-negara  yang terkenal wilayah pertaniannya dan masuk ke Indonesia pada tahun 1852.

2.    JENIS TANAMAN

Klasifikasi tanaman ketela pohon adalah sebagai berikut:
Kingdom :   Plantae atau tumbuh-tumbuhan
Divisi      :   Spermatophyta atau tumbuhan berbiji
Sub Divisi:   Angiospermae atau berbiji tertutup
Kelas       :   Dicotyledoneae atau biji berkeping dua
Ordo        :   Euphorbiales
Famili      :   Euphorbiaceae
Genus      :   Manihot
Spesies    :   Manihot utilissima Pohl.;  Manihot esculenta Crantz sin.

Varietas-varietas ketela pohon unggul yang biasa  ditanam, antara  lain:  Valenca, Mangi, Betawi, Basiorao, Bogor, SPP, Muara, Mentega, Andira 1, Gading, Andira 2, Malang 1, Malang 2, dan Andira 

3.    MANFAAT TANAMAN
Di Indonesia, ketela pohon menjadi makanan bahan pangan pokok setelah beras dan jagung. Manfaat daun ketela pohon sebagai bahan sayuran memiliki protein cukup tinggi, atau untuk keperluan yang lain seperti bahan obat-obatan.
Kayunya bisa digunakan sebagai pagar kebun atau di desa-desa sering digunakan sebagai kayu  bakar  untuk  memasak.  Dengan  perkembangan  teknologi,  ketela  pohon dijadikan bahan dasar pada industri makanan dan bahan baku industri pakan. Selain itu digunakan pula pada industri obat-obatan.

4.    SENTRA PENANAMAN
Di dunia ketela pohon merupakan komoditi perdagangan yang potensial. Negara-
negara  sentra  ketela  pohon  adalah  Thailand  dan  Suriname.  Sedangkan  sentra utama ketela pohon di Indonesia di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

5.    SYARAT PERTUMBUHAN
         Iklim
a) Curah  hujan  yang  sesuai  untuk  tanaman  ketela  pohon  antara  1.500-2.500 mm/tahun.
b)Suhu  udara  minimal  bagi  tumbuhnya  ketela  kohon  sekitar  10  derajat  C.  Bila suhunya di bawah 10 derajat C menyebabkan pertumbuhan tanaman sedikit terhambat, menjadi kerdil karena pertumbuhan bunga yang kurang sempurna.
c) Kelembaban udara optimal untuk tanaman ketela pohon antara 60-65%.
d) Sinar matahari yang dibutuhkan bagi tanaman ketela pohon sekitar 10 jam/hari terutama untuk kesuburan daun dan perkembangan umbinya.


       Media Tanam
a)Tanah  yang  paling  sesuai  untuk  ketela  pohon  adalah  tanah  yang  berstruktur remah, gembur, tidak terlalu liat dan tidak terlalu poros serta kaya bahan organik. Tanah dengan struktur remah mempunyai tata udara yang baik, unsur hara lebih mudah tersedia dan mudah diolah. Untuk pertumbuhan tanaman ketela pohon yang lebih baik, tanah harus subur dan kaya bahan organik baik unsur makro maupun mikronya.
b) Jenis tanah yang sesuai untuk tanaman ketela pohon adalah jenis aluvial latosol, podsolik merah kuning, mediteran, grumosol dan andosol.
c) Derajat keasaman (pH) tanah yang sesuai untuk budidaya ketela pohon berkisar antara 4,5-8,0 dengan pH ideal 5,8. Pada umumnya tanah di Indonesia ber-pH rendah (asam), yaitu berkisar 4,0-5,5, sehingga seringkali dikatakan cukup netral bagi suburnya tanaman ketela pohon.

         Ketinggian Tempat
Ketinggian tempat yang baik dan ideal untuk tanaman ketela pohon antara 10–700 m dpl, sedangkan toleransinya antara 10–1.500 m dpl. Jenis ketela pohon tertentu dapat ditanam pada ketinggian tempat tertentu untuk dapat tumbuh optimal.

6.    PEDOMAN BUDIDAYA
Pembibitan
ü       Persyaratan Bibit
Bibit yang baik untuk bertanam ketela pohon harus memenuhi syarat sebagai berikut:
a) Ketela pohon berasal dari tanaman induk yang cukup tua (10-12 bulan).
b) Ketela pohon harus dengan pertumbuhannya  yang normal dan  sehat  serta seragam.
c) Batangnya telah berkayu dan berdiameter + 2,5 cm lurus. d) Belum tumbuh tunas-tunas baru.

ü       Penyiapan Bibit
Penyiapan bibit ketela pohon meliputi hal-hal sebagai berikut:
a) Bibit berupa stek batang.
b) Sebagai stek pilih batang bagian bawah sampai tengah.
c) Setelah stek terpilih kemudian diikat, masing-masing ikatan berjumlah antara
25–30 batang stek.
d) Semua ikatan stek yang dibutuhkan, kemudian diangkut ke lokasi penanaman.

·         Pengolahan Media Tanam
1) Persiapan
Kegiatan yang perlu dilakukan sebelum pengolahan lahan adalah:
a) Pengukuran  pH  tanah  dilakukan  dengan  menggunakan kertas  lakmus,  pH meter dan cairan pH tester.
b) Penganalisaan jenis tanah pada contoh atau sempel tanah yang akan ditanami untuk mengetahui ketersediaan unsur hara, kandungan bahan organik.
c) Penetapan jadwal/waktu tanam berkaitan erat dengan saat panen. Hal ini perlu diperhitungkan  dengan  asumsi  waktu  tanam  bersamaan  dengan  tanaman
lainnya  (tumpang  sari),  sehingga  sekaligus  dapat  memproduksi  beberapa variasi tanaman yang sejenis.
d) Luas areal penanaman disesuaikan dengan modal dan kebutuhan setiap petani ketela pohon. Pengaturan volume produksi penting juga diperhitungkan karena berkaitan erat dengan perkiraan harga pada saat panen dan pasar.
Apabila pada saat panen nantinya harga akan anjlok karena di daerah sentra penanaman  terjadi  panen  raya  maka  volume  produksi  diatur  seminimal mungkin.

2) Pembukaan dan Pembersihan Lahan
Pembukaan lahan pada intinya merupakan pembersihan lahan dari segala macam gulma (tumbuhan pengganggu) dan akar-akar pertanaman sebelumnya. Tujuan pembersihan lahan untuk memudahkan perakaran   tanaman berkembang dan menghilangkan tumbuhan inang bagi hama dan penyakit yang mungkin ada. Pembajakan dilakukan dengan hewan ternak, seperti kerbau,  sapi,   atau  pun dengan mesin traktor.
Pencangkulan dilakukan pada sisi-sisi yang sulit dijangkau, pada tanah tegalan yang arealnya relatif lebih sempit oleh alat bajak dan alat garu sampai tanah siap untuk ditanami.

3) Pembentukan Bedengan
Bedengan dibuat pada saat lahan sudah 70% dari tahap penyelesaian. Bedengan atau pelarikan dilakukan untuk memudahkan penanaman, sesuai dengan ukuran yang dikehendaki. Pembentukan bedengan/larikan ditujukan untuk memudahkan dalam   pemeliharaan   tanaman,   seperti   pembersihan   tanaman   liar   maupun sehatnya pertumbuhan tanaman.

4) Pengapuran
Untuk menaikkan pH tanah, terutama pada lahan yang bersifat sangat masam/tanah gembut, perlu dilakukan pengapuran. Jenis kapur yang digunakan adalah kapur kalsit/kaptan (CaCO3). Dosis yang biasa digunakan untuk pengapuran adalah 1-2,5 ton/ha. Pengapuran diberikan pada waktu pembajakan atau pada saat pembentukan bedengan kasar bersamaan dengan pemberian pupuk kandang.

·         Teknik Penanaman
1) Penentuan Pola Tanam
Pola tanaman harus memperhatikan musim dan curah hujan. Pada lahan tegalan/kering, waktu tanam yang paling baik adalah awal musim hujan atau setelah  penanaman  padi.  Jarak  tanam  yang  umum  digunakan  pada  pola
monokultur ada beberapa alternatif, yaitu 100 X 100 cm, 100 X 60 cm atau 100 X
40 cm. Bila pola tanam dengan sistem tumpang sari bisa dengan jarak tanam 150
X 100 cm atau 300 X 150 cm.

2) Cara Penanaman
Cara penanaman dilakukan dengan meruncingkan ujung bawah stek ketela pohon kemudian tanamkan sedalam 5-10 cm atau kurang lebih sepertiga bagian stek tertimbun tanah. Bila tanahnya keras/berat dan berair/lembab, stek ditanam dangkal saja.

·         Pemeliharaan Tanaman
1) Penyulaman
Untuk bibit yang mati/abnormal segera dilakukan penyulaman, yakni dengan cara mencabut dan diganti dengan bibit yang baru/cadangan. Bibit atau tanaman muda yang mati harus diganti atau disulam. Pada umumnya petani maupun pengusaha mengganti tanaman yang mati dengan sisa bibit yang ada. Bibit sulaman yang baik seharusnya juga merupakan tanaman yang sehat dan tepat waktu untuk ditanam. Penyulaman dilakukan pada pagi hari atau sore hari, saat cuaca tidak terlalu panas.
 Waktu penyulaman  adalah  minggu  pertama  dan  minggu  kedua setelah penanaman. Saat penyulaman yang melewati minggu ketiga setelah penanaman mengakibatkan perbedaan pertumbuhan yang menyolok antara tanaman pertama dan tanaman sulaman.

2) Penyiangan
Penyiangan bertujuan untuk membuang semua jenis rumput/ tanaman liar/pengganggu (gulma) yang hidup di sekitar tanaman. Dalam satu musim penanaman minimal dilakukan 2 (dua) kali penyiangan.

3) Pembubunan
Cara pembubunan dilakukan dengan menggemburkan tanah di sekitar tanaman dan setelah itu dibuat  seperti guludan. Waktu  pembubunan  dapat  bersamaan dengan waktu penyiangan, hal ini dapat menghemat biaya. Apabila tanah sekitar tanaman Ketela pohon terkikis karena hujan atau terkena air siraman sehingga perlu dilakukan pembubunan/di tutup dengan tanah agar akar tidak kelihatan.

4) Perempelan/Pemangkasa
Pada tanaman Ketela pohon perlu dilakukan pemangkasan/pembuangan tunas karena minimal setiap pohon harus mempunyai cabang 2 atau 3 cabang. Hal ini agar batang pohon tersebut bisa digunakan sebagai bibit lagi di musim tanam mendatang.

5) Pemupukan
Pemupukan dilakukan dengan sistem pemupukan berimbang antara N, P, K dengan dosis Urea=133–200 kg; TSP=60–100 kg dan KCl=120–200 kg. Pupuk tersebut diberikan pada saat tanam dengan dosis N:P:K= 1/3 : 1 : 1/3 (pemupukan dasar) dan pada saat tanaman berumur 2-3 bulan yaitu sisanya dengan dosis N:P:K= 2/3 : 0 : 2/3.

6) Pengairan dan Penyiraman
Kondisi lahan Ketela pohon dari awal tanam sampai umur + 4–5 bulan hendaknya selalu dalam keadaan lembab, tidak terlalu becek. Pada tanah yang kering perlu dilakukan penyiraman dan pengairan dari sumber air yang terdekat. Pengairan dilakukan pada saat musim kering dengan cara menyiram langsung akan tetapi cara ini dapat merusak tanah. Sistem yang baik digunakan adalah sistem genangan sehingga air dapat sampai ke daerah perakaran secara resapan. Pengairan dengan sistem genangan dapat dilakukan dua minggu sekali dan untuk seterusnya diberikan berdasarkan kebutuhan.

7) Waktu Penyemprotan Pestisida
Jenis dan dosis pestisida disesuaikan dengan jenis penyakitnya. Penyemprotan pestisida paling baik dilakukan pada pagi hari setelah embun hilang atau pada sore hari. Dosis pestisida disesuaikan dengan serangan hama dan penyakit, baca dengan baik penggunaan dosis pada label merk obat yang digunakan. Apabila hama dan penyakit menyerang dengan ganas maka dosis pestisida harus lebih akan tetapi  penggunaannya  harus  hati-hati  karena  serangga  yang menguntungkan dapat ikut mati.

7. HAMA DAN PENYAKIT PADA TANAMAN SINGKONG
1.hama
a.hama uret (Exopholishipoleuca)

Hama kumbang uret (Exopholishipoleuca), telah lama dikenal sebagai hama yang sangat merusak pada banyak tanaman budidaya di Indonesia, terutama pada tanaman perkebunan, walaupun biasanya muncul secara musiman, tetapi apabila sekali menyerang dapat menggunduli berhektar-hektar tanaman budidaya dan menyebabkan kerugian yang cukup berarti. 
Kumbang dewasa (legek) berwarna coklat, dengan panjang 2,5 cm, punggung dlan kepala berwarna hitam, pra dewasa berupa uret atau lundi (kuuk - Sunda), yang berkembang di dalam tanah, dengan kedalaman 3-10 cm.
Diketahui untuk 1 ekor betina legek dapat menghasilkan 15-60 butir telur selama hidupnya dan sering terjadi overlappinggenerasi, maka bisa dibayangkan berapa juta keturunan hama ini yang terus bertambah bila tidak terjadi pemblokiran oleh alam atau manusia.

Pengendalian hama uret
Pengendalian yang dapat dilakukan petani terhadap hama ini antara lain dengan memutuskan siklus hidup hama ini, yaitu dengan pemusnahan langsung kuuk/uret dan pengumpulkan kumbang di lapang (gropyokan). Hal ini memungkinkan untuk dilakukan karena diketahui hama ini pada pagi sampai siang hari tidak aktif, sehingga ketika dikumpulkan tidak akan melawan atau beterbangan. Cara gropyokan dapat dengan menggoyang-goyangkan pohon tempat hama hinggap, kumbang akan berjatuhan dan berserakan di tanah, sehingga dengan mudah dapat dikumpulkan. Setelah terkumpul maka legek dapat segera dimusnahkan.
Di samping itu sekarang sedang dikembangkan pula nematoda entomofag dengan nama spesies Steinernema huidobrensis yang dapat menyerang dan membunuh hama uret ini di dalam tanah. Nematoda yang berupa cacing yang sangat kecil ini dapat diberbanyak secara sederhana. Inokulum nematoda aktif diambil dengan spoit sekitar 5 ml lalu disiramkan (diinokulasi) ke tubuh uret sehat (terutama bagian abdomennya), lalu biarkan nematoda bekerja sendiri menginfeksi uret sekitar 5 hari, yang ditandai tubuh uret yang mulai lembek dan banyak juvenil nematoda yang berseliweran di permukaan tubuh uret.
Untuk aplikasi secara langsung, maka uret yang sudah diinokulasikan tersebut langsung saja dibawa ke lahan dan diletakkan di dalam tanah pangkal stek singkong atau tanaman apa saja yang akan dibudidayakan. Akan lebih baik apabila aplikasi ini dilakukan pada saat musim hujan dan lahan dalam kondisi basah, sebab dalam kondisi tersebut nematoda akan lebih mudah beradaptasi ke lingkungan yang baru daripada aplikasi dilakukan pada musim panas.
Penggunaan pestisida dirasakan sulit untuk dapat diaplikasikan dalam mengendalikan hama ini, di samping biasanya kumbang berada di tajuk yang tinggi (sehingga sulit dicapai nozzle dan cairan semprot pestisida) sekiranya juga kurang efisien dalam hal biaya mengingat harga pestisida yang mahal dlan belum tentu bisa mengendalikan hama ini secara menyeluruh, karena sebagian hidupnya ada di dalam tanah dan sebagian lagi ada di tajuk pohon. Meskipun demikian untuk skala kecil, pestisida masih relevan untuk digunakan. Pestisida dengan bahan aktif endosulfan dlan karbaril masih dapat direkomendasikan untuk digunakan di lahan budidaya. Penyemprotan dilakukan sebaiknya pada sore hari sekitar pukul 16:00 atau 17:00, di mana hama ini mulai aktif bergerak dan makan, sedangkan untuk fase uretnya (kuuk), yang masih berada di dalam tanah, dapat digunakan pestisida dengan bahan aktif karbofuran atau diazinon dengan formulasi granul (butiran) yang banyak dijual di pasaran saat ini, konsentrasi yang digunakan kalau menggunakan insektisida granule ini ialah 1,5-2 gr/ lubang stek.
Untuk suatu tindakan pengendalian yang berdaya hasil jangka panjang dan lestari, sekiranya para petani tidak hanya bergantung pada satu cara pengendalian saja, melainkan dengan memadukan beberapa cara pengendalian yang saling melengkapi satu dengan yang lainnya, sehingga kelemahan pada satu metode pengendalian dapat ditutupi dengan metode pengendalian yang lainnya. Untuk kasus hama kumbang legek ini, akan lebih ideal lagi apabila petani juga beternak ayam di kebunnya sehingga hama dapat menjadi pakan ayam.

B. Tungau Merah



Hama yang paling banyak menyerang singkong adalah tungau merah. Serangan tungau sangat merugikan petani, karena dapat menurunkan produksi umbi singkong antara 20% - 53%. Serangan tungau merah yang parah bahkan dapat menyebabkan penurunan produksi mencapai 95%.

Tungau menghisap jaringan mesofil sampai jaringan tersebut russak. Klorofilpun ikut rusak sehingga tanaman tidak dapat berfotosintesis. Akibatnya makanan yang dihasilkan sedikit dan akhirnya hasil panen umbi singkong juga sedikit.

Tanda serangan tungau merah yaitu timbulnya bintik kuning dipermukaan daun . Bintik tersebut lama kelamaan melebar dan berubah warna menjadi merah kecoklatandan akhirnya menghitam. Dan apabila dibalik permukaan bawah daun mengalami kerusakan yang sangat parah. Kerusakan dapat diperparah oleh kondisi musim kering, kondisi stress air dan kondisi dimana kesuburan tanah yang rendah.

Pengendalian tungau merah
Untuk mencegah serangan tungau merah sebaiknya singkong ditanam pada saat awal musin hujan. Lakukan sanitasi lahan sebelum tanam, apabila ada tanaman inang dari tungau merah seperti tanaman jambu, petai cina yang ada di sekitar areal penanaman, maka lakukan pengendalian terlebih dahulu sebelum melakukan penanaman singkong.

Untuk mengendalikan serangan tungau merah dapat dilakukan dengan cara menyemprotkan insektisida berbahan aktif dikofol atau tetradifon. Yang harus diperhatikan adalah pada saat penyemprotan larutan insektisida harus dicampur dengan deterjen. Fungsi dari deterjen adalah untuk menghancurkan bulu- bulu tungau merah sehingga insektisida yang disemprotkan sampai ke kulit tungau merah.

C. Hama tikus
           


PENGENDALIAN HAMA TIKUS SECARA TERPADU
TIKUS termasuk hama yang sangat merugikan pada tanaman singkong, karena tikus memakan buah singkong atau ketela pohon, sehingga menurunkan produksi tanaman singkong. Ini perlu mendapat perhatian khusus di samping hama lainnya.Karena kehilangan hasil produksi akibat serangan hama tikus cukup tinggi. Usaha untuk mengendalikan tikus ini sudah banyak dilakukan oleh para petani,mulai dari sanitasi ,kultur teknik,fisik,cara hayati,mekanik dan kimia.Namun diakui,bahwa cara-cara pengendalian tersebut belum dilakukan secara terpadu,sehingga harapan untuk menekan populasi tikus pada tingkat yang tidak merugikan ternyata sulit dicapai.
Pengendalian hama secara terpadu (PHT) ini akan terlaksana dengan baik bila petani menghayati konsep dasarnya dan menguasai berbagai cara pengendalian ke dalam suatu program yang sesuai dengan jenis organisme pengganggu dan ekosistem pertanian di tempat tersebut.
Konsep pengendalian hama terpadu,sebenarnya sudah dikenal sejak tahun 1947-an,meskipun sebelumnya penanggulangan hama dengan jalan memadukan beberapa pengendalian sudah dilaksana kan.

LANGKAH AWAL
PHT dapat didefinisikan sebagai cara pengendalian dengan memasukkan beberapa cara pengendalian yang terpilih dan serasi serta memperhatikan segi ekonomi,ekologi sehingga popilasi hama berada pada tingkat yang secara ekonomi tidak merugikan.Artinta,bahwa PHT bertujuan untuk menekan populasi hama sampai pada tingkat yang tidak merugikan,pengelolaan kelestarian alam dan optimasi produksi pertanian.
Sebelum melangkah pada usaha pengendalian tikus dengan menerapkan PHT,sebaiknya kita mengetahui terlebih dahulu biologi dan ekologi tikus,sehingga petani akan lebih mudah mengidentifikasi untuk selanjutnya dilakukan pengendalian.
Tikus termasuk ordo Rodentia,famili Muridaedan sub-famili Murinae.Dari sub-famili ini ada dua genus yang mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia yakni genus Mus dan Rattus.
Pada umumnya,tikus (Rattus orgentiventer) tinggal di pesawahan dan sekitarnya,mempunyai kemampuan berkembang biak sangat pesat.Jika secara teoritis,tikus mampu berkembang biak menjadi 1.270 ekor per tahun dari satu pasang ekor tikus saja. Walaupun keadaan ini jarang terjadi,tetapi hal ini menggambarkan, betapa pesatnya populasi tikus dalam setahun.
Perkembangan tikus di alam banyak dipengaruhi faktor lingkungan,terutama ketersediaannya sumber makanan,dan populasi tikus akan meningkat berkaitan dengan puncak pada masa generatif.
Kegiatan tikus lebih aktif pada malam hari,dan kegiatan hariannya sangat teratur mulai dari mencari makanan,minum,mencari pasangan sampai orientasi kawasan.Untuk menghindari dari lingkungan yang tudak menguntungkan,tikus biasanya membuat sarang pada daerah lembab,dekat dengan sumber air dan makanan seperti di batang pohon,sela-sela batu,gili-gili irigasi,tanggul,jalan kereta api dan bukit bukit kecil.
Petani dapat membedakan mana yang disebut tikus sawah dan mana tikus rumah.Pada umumnya,tikus salah selain melakukan aktivitasnya di sawah,juga dapat melakukan aktivitasnya di rumah. Sedangkan tikus rumah (Rattus ratusdiardii) hanya melakukan aktivitasnya hanya di rumah saja.


Kerusakan yang ditimbulkan oleh hama tikus dapat dilihat pada umbi singkong yang terlihat tidak utuh akibat dimakan tikus, terpotong, serta masih mempunyai sisa bagian batang yang tak terpotong.Pada fase vegetatif hewan tinkus ini tidak menggangu tanamansingkong, tetapi pada fase genreratif tikus menjadi hama tanaman singkong, karena tikus memakan umbi dari tanaman  singkong. 

PHT YANG TEPAT & EFEKTIF
Jika sudah mengetahui biologi dan ekologi tikus,maka diharapkan petani dapat mengendalikan tikus dengan tepat dan efektif dengan melihat kondisi lingkungan di lapangan,serta mampu menerapkan konsep PHT(pengendalian hama terpadu) ada 4 cara sebagai berikut:
• Pertama dengan sanitasi lingkungan,melakukan pembersihan rumput rumput atau semak-semak yang biasa digunakan tikus untuk bersarang.
• Kedua,yakni cara fisik dan mekanik,dengan melakukan pembongkaran sarang tikus,kemudian dibunuh (gropyokan) missal memasukkan air ke dalam sarangnya,tikus yang keluar dibunuh.
• Ketiga,yakni cara kultur teknik dengan cara melakukan penanam secara serempak meliputi areal yang luas ,misalnya seluas 0-100 hektar.Cara ini dilakukan untuk menghindari tersedianya makanan bagi tikus.
• Keempat,yakni melalui cara biologi/hayati dengan memanfaatkan musuh-,usuh alaminya seperti ular sanca, ularwelang,anjing,burung elang dan lainnya.

RODENTISIDA
Pengendalian tikus pada saat singkong pada masa generatif dilakukan secara sanitasi lingkungan dan kimia (Rodentisida).Cara tersebut di nilai cukup efekti,karena pada masa generatif tikus sudah mulai melakukan penyerangan terhadap areal pesawahan dan merusak umbi singkong dengan cara memakan umbi .penggunan rodentisida dilakukan bila populasi tikus yang tinggi.
Rodentisida yang biasa digunakan adalah racun akut dan racun anti-koagulan.Contoh rodentisida akut yakni czincposphide diberikan dengan cara diumpankan dengan dosis 22 gram per hektar dicampur umpan sebanyak 2,5 kg.Sedangkan rodentisida antikoagulan yakni racumin,tomorin,dekafit,klerat,RMBdan lainnya yang siap pakai yang penggunaannya dengan rodentisida akut.
Sementara bahan yang bisa digunakan sebagai umpan antara lain beras,gabah,jagung,ketela pohon,ubi jalar dan lainnya.Penempatan umpan dapat di pasang sepanjang larikan dengan jarak 10 m.
Sebelum pemberian umpan beracun sebaiknya dilakukan perumpanan pendahuluan.Hal ini bertujuan untuk membiasakan tikus makan umpan dengan jalan memberi umpan tanpa racun selama 2-3 hari.Waktu pengumpnanan disesuaikan dengan keadaan populasi tikus.
Sesungguhnya,cara penggunaan rodentisida di lapangan menurut konsep PHT,hendaknya dilakukan sebagai alternative terakhir apabila cara cara pengendalian lain dinilai tidak efektif lagi.Itupun dengan catatan,penggunaannya harus secara bijaksana dan tepat dosis.
Pengendalian hama tikus ketika generatif,yang lebih baik dan efektif adalah dengan pengemposan.Jika cara rodentisida tidak berhasil.Hal ini disebabkan pada masa generatif makanan berlimpah sehingga umpan yang beracun tidak akan dimakannya.
Adapun cara pengemposan dilakukan dengan menggunakan asap atau gas beracun yakni hasil pembakaran serbuk belerang bersama merang atau sabut kelapa dengan perbandingan 1: 1,5 kemudian dimasukkan ke dalam liang yang menjadi sarang tikus

       2. Penyakit
a)   Bercak daun bakteri
Penyebab : Xanthomonas manihotis atau Cassava Bacterial Blight/CBG.
Gejala : bercak-bercak bersudut pada daun lalu bergerak dan mengakibatkan pada daun kering dan akhirnya mati.
Pengendalian: menanam varietas yang tahan, memotong atau memusnahkan bagian tanaman yang sakit, melakukan pergiliran tanaman dan sanitasi kebun.

Gambar daun singkong yag terserang bercak daun bakteri

      b) Layu bakteri (Pseudomonas solanacearum )
Ciri : hidup di daun, akar, dan batang.
Gejala : daun mendadak jadi layu seperti tersiram air panas. Akar, batang, dan umbi langsung membusuk.
Pengendalian : melakukan   pergiliran   tanaman,   menanam varietas yang tahan seperti Adira  1, Adira 2 dan Muara, melakukan pencabutan dan pemusnahan tanaman yang sakit berat.

Gambar  Tanaman yang terserang Penyakit Layu bakteri

c)   Bercak daun coklat (Cercospora heningsii)
Penyebab : cendawan yang hidup di dalam daun.
Gejala   : daun bercak-bercak coklat, mengering, terdapat lubang-lubang bulat kecil dan jaringan daun mati.
Pengendalian: melakukan pelebaran jarak tanam, penanaman varietas yang tahan, pemangkasan pada daun yang sakit serta melakukan sanitasi kebun.


d)  Bercak daun konsentris (Phoma phyllostica)
Penyebab : cendawan yang hidup pada daun.
Gejala : adanya bercak kecil dan titik-titik, terutama pada daun muda.
 Pengendalian: memperlebar jarak tanam, mengadakan sanitasi kebun dan memangkas bagian tanaman yang sakit.

8. GULMA
Sistem penyiangan/pembersihan secara menyeluruh dan gulmanya dibakar/dikubur dalam seperti yang dilakukan umumnya para petani Ketela pohon dapat menekan pertumbuhan gulma. Namun demikian, gulma tetap tumbuh di parit/got dan lubang penanaman. Khusus gulma dari  golongan  teki  (Cyperus  sp.)  dapat  di  berantas  dengan  cara manual dengan penyiangan yang dilakukan 2-3 kali permusim tanam. Penyiangan dilakukan sampai akar tanaman  tercabut.
  Secara  kimiawi  dengan  penyemprotan herbisida seperti dari golongan 2,4-D amin dan sulfonil urea. Penyemprotan harus dilakukan dengan hati-hati.

Sedangkan jenis gulma lainnya adalah rerumputan yang banyak ditemukan di lubang penanaman maupun dalam got/parit. Jenis gulma rerumputan yang sering dijumpai yaitu jenis rumput belulang (Eleusine indica), tuton (Echinochloa colona), rumput  grintingan  (Cynodon  dactilon),  rumput  pahit  
(Paspalum  distichum),  dan  ru put sunduk  gangsir  (digitaria  ciliaris).
  Pembasmian  gulma  dari  golongan  rerumputan dilakukan dengan cara manual yaitu penyiangan dan penyemprotan herbisida berspektrum sempit misalnya Rumpas 120 EW dengan konsentrasi 1,0-1,5 ml/liter.

9. PANEN
Ciri dan Umur Panen
Ketela pohon dapat dipanen pada saat pertumbuhan daun bawah mulai berkurang. Warna daun mulai menguning dan banyak yang rontok. Umur panen tanaman ketela pohon  telah  mencapai  6–8  bulan  untuk  varietas  Genjah  dan  9–12  bulan  untuk varietas Dalam.

Cara Panen
Ketela pohon dipanen dengan cara mencabut batangnya dan umbi yang tertinggal diambil dengan cangkul atau garpu tanah.

DAFTAR PUSTAKA
1. Badan Agribisnis Departemen Pertanian. 1999. Investasi Agribisnis Komoditas Unggulan Tanaman Pangan dan Hortikultura. Kanisius. Yogyakarta.
2. Danarti dan Sri Najiyati. 1998. Palawija, Budidaya dan Analisis Usaha Tani. Penerbit Swadaya, Jakarta.
3. Rahmat Rukmana, H. Ir. 1997. Ubi Kayu, Budidaya dan Pasca Panen. Penerbit Kanisius (Anggota IKAPI), Yogyakarta.