Tampilkan postingan dengan label PERKEBUNAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PERKEBUNAN. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 April 2013

PROSES PEMBUATAN GULA MERAH DARI TEBU SECARA TRADISIONAL

PENDAHULUAN. Gula merah sampai saat ini masih merupakan sumber pendapatan petani dibeberapa daerah di Indonesia. Meskipun coraknya masih banyak yang tradisisonal, akan tetapi tampak adanya usaha peningkatan, baik kualitas maupun kunatitasnya. Kenyataannya bahwa gula merah sejak dulu memang sudah dikenal dan dirasa manfaatnya oleh masyarakat di Indonesia khususnya masyarakat tani tebu di pulau jawa. HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN 1. Pada dasarnya semua jenis tebu dapat diproses menjadi gula merah. 2. Pada umur 7-8 bulan tebu sudah dapat diproses menjadi gula merah. tetapi sebaiknya menunggu sampai dengan umur yang optimal demi meningkatkan mutu dan jumlah hasil nantinya setelah menjadi gula merah atau gula tumbu. 3. Juga berat dan rendemen tebu menentukan hasil akhir dari proses yang terjadi. 4. Alat-alat yang dipergunakan dalam proses pelaksanaanya antara lain: • Gilingan. Alat ini berfungsi sebagai pemeras tebu. Terbuat dari gilingan besi. Batang tebu dimasukkan diantara dua gilingan yang berputar sehingga air tebu dapat terperas sebanyak-banyaknya, Nira ini kemudian ditampung dalam bak penampungan 1 • Alat penggerak. Dahulu alat penggerak masih menggunakan hewan besar seperti sapi atau kerbau, tetapi saat ini telah banyak yang menggunakan motor penggerak. Motor ini menggerakkan gilingan sehingga berputar • Bak Penyaring. Dari bak I nira yang masih kotor disaring dibak penampungan. Bak ini terletak lebih tinggi dari kancah pemasakan serta dihubungkan dengan selang plastic ke bak kancah pemasakan • Kancah pemasakan. Kancah pemasakan biasanya terdiri dari 4-7 buah dalam satu deret. dan umumnya terdiri dari dua deret yaitu deret kanan dan kiri. Kancah ini berguna untuk memasak nira yang dialirkan dari bak penyaring sehingga masak dan siap untuk dibekukan. • Tumbu atau tempat gula. Tumbu dipakai sebagai tempat penampungan nira masak setelah diambil dari kancah. pada tumbu-tumbu ini nira yang sudah dimasak dibiarkan sehinga menjadi beku. PROSES PELAKSANAAN.  Pemanasan. Tebu dimasukkan diantara dua gilingan yang berputar digerakkan dengan generator penggerak. Tebu akan terperas dan nira yang keluar ditampung dalam bak penampungan 1. Nira yang baru keluar dari gilingan ini masih sangat kotor, karena mengandung tanah dan kotoran lainnya sehingga perlu diadakan penyaringan yang diletakkan di dua atau tiga tempat dan berfungsi untuk membersihkan nira sebelum masuk ke kancah.  Pengaliran. Dari bak penyaringan, nira yang telah disaring dialirkan ke kancah-kancah pemasakan melalui selang plastik. Usahakan setelah nira tertampung, segera dialirkan ke kancah pemasakan. Terlalu lama membiarkan nira di udara bebas akan menyebabkan nira bersifat asam dan akan sukar diproses menjadi gula merah.  Pemasakan. Nira yang telah disaring tadi kemudian dimasukkan ke dalam kancah-kancah yang ada dalam satu deret 4-7 buah kancah. Kancah ini terbuat dari besi yang tebal dengan garis tengah + 60 cm -90 cm. Tinggi kancah secukupnya tidak begitu dalam. Jumlahnya disesuikan dengan jumlah lubang dapur 4-7 buah. Penempatannya dibuat sedemikian rupa sehingga tepi kancah hampir rata dengan permukaan atas dari dapur. Setelah satu deretan dapur terisi penuh maka pemanasan dimuali. Bahan bakar yang digunakan adalah sisa-sisa ampas tebu yang telah dikeringkan terlebih dahulu. Pada waktu nira berada dalam kancah, perlu dibersihkan yaitu dengan menggunakan kapur 20 gram untuk, tiap 50 liter nira. Sifat kapur ini adalah mengikat koloid-koloid sehingga akan mengendap atau mengapung. Sedangkan banyak sedikitnya kapur tergantung pada sifat air tebu. Umur tebu, banyak atau sedikitnya kotoran serta kemurnian atau kualitas tebu. BIla dapurnya baik, maka dalam waktu 15-20 menit nira dalam kancah terdepan akan mendidih, kemudian disusul kancah nomer 2, 3 , 4 dan seterusnya. Pada saat ini kotoran kotoran terkumpul terapung-apung bersama gelombang nira, dan kotoran ini harus cepat cepat dibersihakan dengan menggunakan serok yang terbuat dari bambu. Pada waktu mendididh nira akan berbuih dan naik, untuk mencegar agar jangan sampai tumpah perlu dicegah dengan memasang srumbung pada kancah. Srumbungan ini terbuat dari anyaman bambu juga berfungsi sebagai penahan kotoran. Apabila nira pada kancah 1 mulai menyusut, karena penguapan, maka nira pada kancah 2 dituangkan pada kancah 1 demikian seterusnya, sehingga kira-kira 4 kancah akan menghasilkan I kancah gula merah yang jadi. Dalam proses ini semula masakan berwarna putih kekuning-kuningan lambat laun akan berwarna pekat merah tua. Saat ini buih-buih nira akan turun, ini menandakan kalau masakan sudah mulai tua, Nampak juga letusan letusan seperti pada kawah. Suhu pada saat itu dipertahankan + 110 derajat celcius. Lama proses ini kirakira 4 jam, nira ini telah siap menunggu untuk dicetak atau dimasukkan kedalam tumbu untuk pembekuan lebih lanjut. PEMBEKUAN NIra yang telah masak tadi tidak dimasukkan dalam satu wadah tumbu, akan tetapi dibagi dalam 5-6 tumbu, maksudnya adalah agar udara dingin dapat ditekan keluar. Setelah dituang selekasnya diaduk agar cepat dingin dan warnanya lebih putih. Apabila tuangamn 1 telah dingin , masakan berikutnya dituangkan diatasnya demikian seterusnya, sehingga didapatkan gula yang berlapis lapis dalam satu tumbu. Lapisan ini juga tidak boleh terlalu tebal, sebab apabila udara dingin tidak seluruhnya keluar gula akan berongga atau keropos. Demikian teknologi pembuatan gula merah dari tebu semoga dapat bermanfaat bagi petani tebu yang memerlukannya (mnr)

TEKNIK DAN CARA BUDIDAYA TANAMAN TEBU

Pendahuluan. Penanaman tebu dilahan sawah pada umunya diusahakan untuk tanaman tebu giling. Pertumbuhan tanaman tebu yang baik dengan kadar gula tinggi disebabkan adanya, Kesuburan tanah, cara pengolahan tanah, pemupukan dan pemeliharaan yang baik, terutama dengan adanya pengaturan pengairan yang baik pula mestinya. Syarat Tumbuh. • Tinggi tempat 0-500 meter dari permukaan laut • Dalam masa partumbuhan sampai umur 8 bulan membutuhkan air yang cukup, menjelang panen menghendaki keadaan kering. • Tanah gembur, subur, dapat menahan air tetapi juga mudah melepaskan air. Persiapan Tanah • Membuat saluran pemasukan dan pembuangan air • Membuat got/ Parit keliling dengan lebar 50 cm dalam 60 cm -75 cm • Membuat got mujur (parit membujur yang letaknya sejajar dengan cemplongan I, lebar parit 30 cm, dalam 50 cm jarak antar got mujur 50-55 meter • Membuat got malang (parit yang dibuat tegak lurus parit membujur). Lebar 25 cm, dalam 30 cm jarak antar got 8-10 meter • Pembuatan lubang tanaman/ cemplongan • Galian 1 dilakuan dengan lempak/lencek/lencus semacam sekop dengan tangkai panjang sedalam 20 cm • Galian II dilakukan dengan garpu gigi 4 sedalam 10 cm, sehingga dalamnya lubang tanaman 30 cm • Lebar lubang tanaman 40 cm. panjang juringan pada tanah ringan 12, 5 meter, pada tanah berat 7,5 meter, jarak antar juringan 1 meter. • Membuat kasuran tanaman; Memasukkan kembali tanah garpuan yang sudah kering setebal 15 cm. BIBIT TEBU. • Stek pucuk, yaitu bagian ujung batang yang panjangnya 2-4 ruas dengan tidak termasuk bagian yang ujung sekali sepanjang 2-3 ruas. • Bibit rajungan, yaitu bibit yang berasal dari tunas batang, yang diperoleh dengan terlebih dahulu tebu bibit dipertanaman diambil stek pucuknya. Kemudian dibersihkan dari pelepahnya . Tunas akan segera tumbuh dari mata tunas yang ada pada batang tebu. • Rayungan adalah sudah dapat diambil pada umur 35-45 hari, panjang 15-20 cm mempunyai daun 4-5 helai, 1 potong bibit terdiri dari 1 ruas dengan sebuah tunas • Bibit bagal, yaitu bibit yang berasal dari batang tebu yang dipotong-potong menjadi stek sepanjang 2 mata ruas PENANAMAN • Penanaman pada musim hujan , bibit dibenamkan sebagian, bila tertimbun tanah seluruhnya bibit bisa menjadi busuk. • Penanaman pada musim kemarau, bibit dibenamkan sedalam 1-3 cm agar bibit tidak menjadi kering karena terkena sinar matahari secara langsung. PEMELIHARAAN • Pengairan; Tanaman tebu yang masih muda kurang lebih 3 bulan membutuhkan air yang cukup, menjelang masa pemasakan atau masa panen pada batas-batas tertentu air tidak diperlukan. • Penyiangan; Penyiangan dilakukan 3-4 kali atau sampai daun tanaman tebu saling menutup • Pemupukan; Pupuk dimasukkan ke dalam lubang pupuk yang dibuat dengan tugal. Lubang pupuk dibuat sejauh 7-10 cm, dari tanaman, dan satu tanaman cukup dibuat satu lubang pupuk dan setelah pemupukan diikuti dengan penyiraman.  Pemupukan I : diberikan pada waktu tanam atau maksimal kurang lebih 7 hari setelah tanam o Dosis pemupukan Za 7 gram/ tanaman/rumpun atau 120 kg/Ha. o TSP 8 gram/tanaman/rumpun atau 160 kg/Ha o KCl 35 gram/lubang pupuk atau 300 kg / Ha.  Pemupukan II Diberikan 30 hari setelah pemupukan kedua, dosis pemupukan sebagai berikut, Za 10 gram/ lubang atau 200 gram/ ha PEMBUMBUNAN Pembumbunan dilakukan empat kali yaitu Bumbun I. dilakukan bersama-sama dengan penyiangan dan setelah tanaman mendapat pupuk II atau pada umur tanaman mencapai 1, 5 bulan. Tenah dikanan kiri lubang tanaman dimasukkan setebal 3-15 cm menutupi kasuran tanaman, agar tanaman cepat beranak. Bumbun II. Dilakukan pada waktu tanaman berumur 2,5 -03 bulan yaitu sesudah ada satu atau dua batang dalam 1 rumpun yang mulai membentuk ruas. Bumbun III. Yaitu dilakukan pada saat tanaman berumur 4, 5 -5 bulan dimana daun tanaman sudah mulai menutup. Bumbun IV. Yaitu dilakukan pada kurang lebih dua bulan kemudian. yaitu dengan terlebih dahulu daun-daun tebu yang sudah tua dan kering dikeletek PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT  Penggerek batang tebu (Diatraea Venosata) Tanda-tanda serangan daun-daun pucuk tampak layu , kemudian kering dan mudah dicabut. Serangan pada tanaman muda menyebabkan matinya titik tumbuh Pemberantasannya. Yaitu dengan menggunakan parasit Trichagrama Sp yang dapat menyerang telur dari penggerek hama tebu ini.  Penyakit Pokkah Bung Tanda-tanda serangan; Stadia I Pada pangkal daun yang baru membuka terlihat gejala keriput. Pada Stadia II . Pada ujung batang yang masih muda terdapat garis-garis merah kecoklatan dan dapat meluas, akibatnya pertumbuhan batang terhambat dan bengkok. Pada stadia III Kerusakan pada titik tumbuh dan terjadinya pembusukan, seterusnya tanaman akan mati. Pemberantasan. Menanam jenis tebu yang tahan terhadap serangan hama penyakit tersebut.  Penyakit Blendok. Tnada-tanda serangan, kalau batang yang sakit dibelah akan terlihat adanya blendok atau gum berwarna kuning atau coklat tua Pemberantasannya. o Tanaman yang sakit harus dibongkar o Parang pemotong bibit atau stek harus didesinfeksi dengan Lysol 5-15 % o Untuk penanaman bibit atau stek sebelumnya harus dimasukkan dalam air panas 52,5 derajat celcius selama 50 menit. PANEN Tanaman tebu sudah dapat dipanen pada umur 11- 14 bulan, pada saat tanaman tebu sudah berbunga, pucuk tanaman dipangkas dan dapat digunakan untuk makanan ternak. Tanah guludan disamping tanaman tebu dicangkul sedalam 20 cm, sehingga pangkal tanaman tebu nampak jelas. Dengan parang, pangkal tanaman tebu dipotong serendah rendahnya. Batang-batang tebu kemudian diikat tiap ikatan kurang lebih 30 batang dan selanjutnya tebu tersebut dibawa ke pabrik gula untuk digiling. Batang tebu yang telah ditebang jangan terlalu lama terkena sinar matahri karena dapat menurunkan renik dan cara budidaya tamana tebu semoga dapat bermanfaat bagi petani yang memerlukannya (mnr)

Sabtu, 06 April 2013

EMBUNG MERUPAKAN SUMBER KEHIDUPAN BAGI LAHAN PERTANIAN TADAH HUJAN DIMUSIM KEMARAU

Embung adalah merupakan tendon air atau waduk berukuran kecil pada lokasi pertanian yang bertujuan untuk menampung kelebihan air hujan dimusim penghujan dan pemanfaatannya pada musim kemarau untuk berbagai keperluan baik di bidang pertanian maupun kepentingan masyarakat banyak Teknik pembuatan embung meliputi penentuan tekstur tanah, kemiringan lahan, bentuk, ukuran penggalian tanah, kelapisan tanah, kelapisan plastik, penembokan dan pelapisan kapur. Pembentukan embung pada dasaranya adalah untuk mengairi lahan pertanian terutama pada musim kemarau, manfaat lain dari embung adalah dibidang perikanan yang bisa dijadikan untuk kolam pemeliharaan ikan dan sebagai persediaan minuman ternak maupun untuk keperluan rumah tangga. I. PENDAHULUAN Di Indonesia terdapat dua wilayah agraris yang sangat menonjol, yaitu daerah pertanian dengan ketersediaan air irigasi yang cukup melimpah dan daerah pertanian yang hanya mengharapkan air hujan dari langit yang disebut sawah tadah hujan. Dengan pesatnya pembangunan diberbagai sektor maka memberikan konsekwensi bahwa lahan irigasi semakin lama semakin berkurang dan bahkan banyak berubah fungsi menjadi kawasan industri dan pemukiman. Lahapertanian semacam ini adalah merupakan lahan potensial untuk pertanian yang dapat menghasilkan pangan untuk kehidupan manusia. Untuk itu guna mengganti lahan tersebut maka diperlukan adanya penambahan lahan pertanian baru, pada umumnya untuk lahanpertanian yang baru yang bisa mengganti keadaan seperti ini dalah lahan sawah tadah hujan. Lahan tadah hujan sebenarnya potensial untuk menghasilkan padi, akan tetapi kendalanya adalah adanya factor pembatas yang berupa air, dimana pada musim kemarau petani sangat kesulitan air karena cadangan air terlalu minim, sehingga menyebabkan rendahnya produksi pertanian dan bahkan kadang kala tidak menghasilkan sama sekali karena kekeringan. Untuk mengatasi hal tersebut yaitu dengan membangun jaringan irigasi pada lahan tadah hujan memerlukan biaya yang sangat besar, karena itu perlu diatasi dengan teknologi yang lebih murah dan terjangkau yaitu dengan Teknologi pembuatan Embung II. PENGERTIAN EMBUNG Kata embung menurut beberapa orang berasal dari bahasa Nusa Tenggara Timur yang secara keseluruhan dapat diartikan suatu tandon air atau waduk kecil dilahan pertanian yang bertujuan untuk menampung kelebihan air hujan dan menggunakannya pada saat musim kemarau untuk berbagai keperluan baik dibidang pertanian maupun rumah tangga. III. TEKNIK PEMBUATAN EMBUNG. Teknik pembuatan embung sebenarnya boleh dikatakan sangat sederhana, hanya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain : A. Penentuan Lokasi 1. Tekstur Tanah. • Embung sebaiknya dibuat dilahan dengan tanah bertekstur liat, lempung, liat berlempung dan lempung liat berdebu, agar fungsinya sebagai penampung air dapat terpenuhi. • Pada tanah berpasir yang poreus tidak dianjurkan untuk pembuatan embung karena air akan cepatmeresap kedalam tanah dan hilang, dan apabila terpaksa dianjurkan untuk dibuat maka dianjurkan untuk memakai, plastic atau ditembok lapisan luarnya sehingga air tidak merembes. 2. Kemiringan lahan. • Embung sebaiknya dibuat pada areal pertanian yang bergelombang dengan kemiringan antara 20- 30 persen agar lapisan air permukaan dapat dengan mudah mengalir kedalam embung dan selanjutnya air embung mudah untuk disalurkan kepetak-petak pertanian, karena adanya perbedaan ketinggian antara embung dengan petak pertanian. • Areal pertanian yang datar kurang cocok untuk dibuat embung , karena sulit untuk mengalirkan air dari embung kepetak pertanian. • Pada lahan yang terlalu miring kurang lebih 30 persen embung akan cepat penuh dengan endapan tanah karena pengaruh erosi B. Kontrusksi embung 1. Bentuk Embung. • Bentuk embung sebaiknya bujur sangkar atau mendekati bujur sangkar hal ini agar diperoleh keliling yang paling pendek. Tujuannya agar resapan air melalui tanggul lebih sedikit. 2. Ukuran embung. • Embung bisa dibuat berdasarkan perorangan maupun kelompok, hal ini tergantung dari pada keperluan dan luas pertanian yang akan di airi 3. Penggalian Tanah. • Penggalian tanah dapat dimulai dari batas pinggir embung menuju ke bagian tengah. • Kedalam galian diusahakan mencapai 2-3 meterhal ini untuk memperoleh kapasitas embung • Keliling embung dibuat lebih tinggi dari permukaan tanah hal ini untuk menghindari masuknya kotoran kedalam embung • Jarak saluran pembuangan dari permukaan tanggul berkisar antara 25-50 cm dan dibuat sedemikian rupa sehingga air embung tidak meluap. 4. Pelapisan tanah. • Untuk menjaga agar embung tidak bocor maka perlu dilakukan pelapisan tanah terutama pada bagian dinding embung. Pelapisan dinding ini dilakukan dengan cara; Tanah liat dibasahi dan diolah sampai berbentuk seperti pasta, baru kemudian dilapiskan secara merata. • Dinding embung pada tanah bertekstur liat atau lempung liat berdebu tidak perlu dilapisi, karena pada jenis tanah ini resapan air boleh dikatakan kurang. • Pada tanah berpasir resapan air kebawah maupun yang melalui tanggul cukup banyak, karena itu dinding embung perlu dilapisi dengan beberapa bahan misalnya, plastic, batu bata, tembok, atau campuran pasir dengan tanah liat untuk penahan resapan air. 5. Pelapisan Plastik. • Plastik yang digunakan untuk pelapisan dinding maupun dasar embung dapat digunakan dari jenis polyethilin atau polyvinil Chloride (PVC) dengan ketebalan 0, 15 mm • Untuk pelapisan didasar embung , plastic ditimbun tanah setebal kurang lebih 25 cm • Ketahan plastik ini bisa mencapai 2-3 tahun. 6. Penembokan. • Pencegahan peresapan air selain dengan plastic dapat pula digunakan dengan penembokan baik untuk dinding maupun untuk dasar embung. 7. Pelapisan Kapur. • Untuk pelapisan dengan kapur dibuat adonan dengan perbandingan kapur tembok dan tanah liat 1:1 • Dibuat pasta yang selanjutnya baru dilapiskan. Pada dinding embung atau dasar embung. IV. MANFAAT EMBUNG. 1. Air Embung Pada prinsipnya air embung digunakan untuk mengairi lahan terutama pada musim kemarau. Pemanfaatan air pada musim kemarau perlu juga memperhatikan luasan lahan dengan ketersediaan air yang ada didalam embung. Apakah untuk mengairi sawah atau palawija dengan memperhitungkan kebutuhan air sebagai misal untuk padi 200 mm per bulan atau 1 liter/ detik /Ha. Disamping itu juga perlu diperhatikan jika embung juga untuk persediaan minuman ternak 2. Pengairan padi dan palawija Pengairan dari embung untuk padi dan palawija tidak sepenuhnya menggunakan air, hanya dilakukan pada saat kritis, yaitu pada fase primordial (bunting), Pembungaan dan pengisian gabah. Saat ini air disalurkan ke petak pertanian bisa menggunakan selang plastic hingga kondisi tanah jenuh air. Untuk tanaman palawija caranya dengan menyiram seputar pangkal tanaman, mengingat ketersediaan air di embung terbatas. Sebaiknya perlu diketahui kebutuhan dari masing-masing jenis palawija akan air per musim atau per hektarnya 3. Peternakan. Pada musim kemarau ada kalanya sulit untuk mendapatkan air untuk minuman ternaknya dan harus diangkut dari tempat yang jauh. Dengan adanya air embung ini dapat digunakan untuk memberi minuman ternaknya 4. Perikanan Khusus dibidang perikanan embung ini dapat dimanfaatkan pada musim hujan maupun musim kemarau, dengan catatan untuk musim kemarau ketersediaan air harus cukup. Beberapa factor penting yang perlu diperhatikan jika embung digunakan untuk pemeliharaan ikan adalah ; Curah hujan, penguapan, Tekstur tanah, Kontruksi kolam dan mutu air yang ada diembung. Untuk mutu air sendiri perlu juga diperhatikan. Oksigen terlarut dan Ammonia, jenis ikan untuk embung perlu dipilih yang tepat dan sesuai dengan kondisi embung. Yang pada dasarnya serba terbatas, yaitu air yang menggenang, jenis ikan yang cocok, yaitu Gurame , Mujair, Tawes, lele. Untuk pakannya dapat berupa dedak, sisa makanan atau pellet serta tanaman-tanaman seperti daun talas. V. PEMELIHARAAN EMBUNG. Pemeliharaan embung perlu dilakukan agar tetap bermanfaat dan terhindar dari kerusakan dini Pemeliharaan ini antara lain dapat dilakukan sebagai berikut: • Pemagaran embung dengan bambu atau pagar hidup • Pengangkatan lumpur yang dilakukan pada musim kemarau atau ketika volume air sudah minimal dan tidak digunakan. • Perbaikan embung terutama untuk bagian dinding tanggul jika terjadi kerusakan segera diperbaikai agar tidak berlarut –larut dan bertambah parah. • Untuk mencegah jebolnya tanggul, usahakan agar air tidak melimpah dipermukaan tanggul • Usahakan tidak menggembalakan, memandikan dan memberikan minuman ternak diatas tanggul maupun masuk kedalam area embung. • Untuk menekan kehilangan air karena penguapan dapat dilakukan penanaman sebagai berikut. o Anjang-anjang atau tanaman penutup/ peneduh dimana tiang anjang dibuat dari anyaman bambu. o Pada anjang-anjang yang dibuat ini dijalarkan tanaman merambat yang bermanfaat seperti tanaman kecipir, markisa, gambas, yang juga berfungsi sebagai penutup permukaan air. o Pohon penahan angin juga diperlukan disekitaar embung seperti pohon buah-buhan atau rumput-rumputan untuk pakan ternak. Demikian teknologi pembuatan embung dan manfaatnya bagi masyarakat tani, semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi petani atau masyarakat yang memerlukannya. (mnr)

Senin, 01 April 2013

TEKNOLOGI PEMBUATAN GULA SEMUT KRISTAL DARI NIRA KELAPA

Gula merah yang beredar di beberapa daerah di Indonesia masih bervariasi, baik jenis produk, warna, ukuran maupun mutunya. Teknis pembuatan gula merah biasanya diperoleh para perajin gula kelapa secara turun temurun dari nenek moyang mereka. Peralatan yang digunakan masih sangat sederhana, sehingga mutu produk yang dihasilkan masih relative rendah. Dalam rangka diversifikasi produk hasil kelapa telah dikembangkan gula kristal semut Gula kristal semut adalah merupakan modifikasi dari produk gula merah dengan tingkat kekeringan yang lebih tinggi sehingga mempunyai masa simpan yang lebih lama dibandingkan dengan gula merah pada umumnya. Pada prinsipnya proses pembuatan gula kristal semut hampir sama dengan pembuatan gula merah, hanya pada tahap akhir ada sedikit perbedaan yaitu dengan penambahan proses pembuatan serbuk. Prinsip pembuatan gula merah adalah menguapkan nira kelapa sampai mencapai kekentalan tertentu dan kemudian dicetak dan peralatanya pun cukup sederhana, sedangkan dalam proses pembuatan gula semut digunakan peralatan tambahan berupsa garpu kayu untuk membentuk serbuk dan alat penghancur butiran yang terbuat dari kayu untuk memperkecil ukuran serbuk yang dihasilkan. Langkah kerja . 1. Persiapan nira kelapa Proses pembuatan gula merah diawali dengan tahap persiapan bahan dan pembersihan nira yang akan diolah, pembershan nira dilakukan dengan cara memisahkan kotoran yang berupa berupa manggar, bangkai serangga dengan menggunakan alat penyaring . 2. Pemasakan nira kelapa. Setelah dilakukan penyaringan nira, kemudian nira tersebut dituangkan dalam wajan besar atau bejana yang khusus memasak gula, selanjutnya nira dipanaskan dengan menggunakan api dari kayu bakar dengan suhu anatara 120-130 derajat celcius. Adapun untuk memperoleh warna gula yang cerah perlu ditambahkan Natrium metabisulfat 0,1 persen pada saat pemasakan nira, selama pengupan maka perlu dilakukan pengadukan sehingga panasnya dapat merata. Untuk menguji apakah gula sudah masak yaitu dilakukan dengan cara dipegang dengan tangan, apabila tidak lengket maka berarti gula sudah masak dan siap untuk dicetak. Perlu diketahui apabila cara memasak apinya terlalu besar dan waktunya terlalu lama, maka gula akan berwarna gelap dan keras, sebailknya apabila terlalu singkat gula akan lembek dan kuarng baik. 3. Pencetakan. Stelah gula masak dan siap dicetak, maka gula diangkat dari wajan dan dingingkan sambil diaduk-aduk selama prose pencetakan dan sedikit demi sedikit gula dicetak dengan cetakan yang telah disipakkan. Apabila tidak sambil diaduk aduk maka gula akan mengental. 4. Pembuatan gula semut. Pembuatn gula semut sebenarnya merupakan diversifikasi produk gula merah yang berbentuk serbuk. Pada proses pembuatan gula semut setelah selesai penguapan atau pemasakan, maka adonan perlu didiamkan dulu selama 15 menit, kemudian dilakukan tahap pembentukan serbuk. Penguapan nira dilakukan lebih lama dibandingkan dengan proses pembuatan gula merah cetak, hal ini dimaksudkan agar tingkat kekeringannya lebih tinggi sehingga dapat membentuk serbuk. Pembuatan serbuk gula semut dilakukan dengan pengadukan memakai alat berbentuk garpu yang terbuat dari kayu. mula mula dilakukan pengadukan secara perlahan-lahan dan setelah mulai membentuk serbuk pengadukan dipercepat, sehingga akan dihasilkan serbuk gula semut. Adapun tahapan terakhir dalam proses pembuatan gula semut adalah pengayakan serbuk gula, hal ini adalah untuk memperoleh keseragam ukuran serbuk maka perlu digunakan ayakan dengan ukuran 20 mash 4. Pengemasan. Proses terakhir dari pembuatan gula semut adalah pengemasan. pengemasan yang baik adalah dengan menggunakan plastic yang tahan panas dan kedap air serta tidak mudah rusak, adapun ukuran kemasan disesuikan dengan keadaan dan permintaan pasar. Demikian teknik dan cara pembuatan gula semut semoga dapat bermanfaat bagi yang memerlukannya.

Jumat, 29 Maret 2013

FORMAT LAMPIRAN KREDIT POINT JABATAN FUNGSIONAL PENYULUH PERTANIAN (FORM A - F)

FORM. A LAPORAN PELAKSANAAN KEGIATAN : ………………………………………………………………………………………………… 1. Penyuluh Pertanian a. Nama dan NIP : …………………………………………………………………………………… b. Pangkat/ Golongan : …………………………………………………………………………………… c. Jabatan : …………………………………………………………………………………… d. Unit Kerja : …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… 2. Dasar Pelaksanaan : …………………………………………………………………………………… 3. Nama Kegiatan : …………………………………………………………………………………… 4. Pelaksanaan Kegiatan : a. Waktu Pelaksanaan : ………………………………………………………………………………….. b. Tempat / Lokasi : ………………………………………………………………………………….. 5. Hasil Pekerjaan : …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………….. …………………………………………………………………………………... ………………………………………………………………………………….. ………………………………………………………………………………….. ………………………………………………………………………………….. ………………………………………………………………………………….. ………………………………………………………………………………….. ……………., ……………………………….. Mengetahui Koordinator BP………. / PUK H. …………………………SP NIP. ………………………………….. Ketua Kelompok Tani …………………………………… Penyuluh Pertanian H………………………..SP NIP. …………………………… Form. B SURAT - KETERANGAN Panitia penyelenggara ……………………………………………………………………………………………………………….. …………………………………………………………………………………………………..................................................... dengan ini menerangkan bahwa Penyuluh Pertanian : a. Nama : ……………………………………………………………………………. b. NIP : …………………………………………………………………………………… c. Pangkat/ Golongan : …………………………………………………………………………………… d. Jabatan : …………………………………………………………………………………… e. Unit Kerja : …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… Telah melakukan kegiatan ………………………………………………………...................................................... Sebagai……………………………………………………………………………………………………………………………………….. Pada tanggal …………………………………………………… di ………………………………………………....................... …………………………………………………………………………………………………………………………………………………… Demikian surat keterangan ini dibuat untuk digunakan sesuai keperluannya. ………………, tanggal ………………………… Penyelenggara (…………………………………………………) Form. C SURAT - KETERANGAN Panitia penyelenggara………………………………………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………………………………………………………………………….. ………………………………………………………………………………………………………………………………………………….. Dengan ini menerangkan bahwa Penyuluh Pertanian : a. Nama : …………………………………………………………………………. b. NIP : …………………………………………………………………………. c. Pangkat/ Golongan : …………………………………………………………………………. d. Jabatan : …………………………………………………………………………. e. Unit Kerja : …………………………………………………………………………. Telah melakukan kegiatan mengajar/melatih ………………………………………………………..................... Selama …………………jam, pada tanggal……………………………………………………………………………………….. di……………………………………………………………………………………………………………………………………………….. Demikian surat keterangan ini dibuat untuk digunakan sesuai keperluannya. ………………, tanggal ………………………… Penyelenggara (…………………………………………………) Form. D. SURAT - KETERANGAN Kami yang bertanda tangan dibawah ini : Nama : ………………………………………………………………………….. NIP. : ………………………………………………………………………….. Pangkat/ Golongan : ………………………………………………………………………….. Jabatan. : ………………………………………………………………………….. Unit Kerja : ………………………………………………………………………….. ………………………………………………………………………….. ………………………………………………………………………….. Menerangkan bahwa Penyuluh Pertanian Nama : ………………………………………………………………………….. NIP. : ………………………………………………………………………….. Pangkat/ Golongan : ………………………………………………………………………….. Jabatan : ………………………………………………………………………….. Unit Kerja : ………………………………………………………………………….. ………………………………………………………………………….. ………………………………………………………………………….. Telah melaksanakan kegiatan ; ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………… Yang dilaksanakan pada tanggal …………………………………………………………………………………………….. ………………………………………………………………………………………………………………………………………………….. Demikian surat keterangan ini dibuat untuk dapat dipergunakan sesuai dengan keperluannya. ………………., tanggal ………………… Mengetahui Koordinator BP………………/ PUK H. …..……………….………… SP NIP……………………………………. Form. E SURAT - KETERANGAN Kami yang bertanda tangan dibawah ini…………………………………………………………………………………. ……………………………………………………………………………………………………………………………………………….. menerangkan bahwa Penyuluh Pertanian : a. Nama : ………………………………………………………………….. b. NIP : ………………………………………………………………….. c. Pangkat/ Golongan : ………………………………………………………………….. d. Jabatan : ………………………………………………………………….. e. Unit Kerja : ………………………………………………………………….. ………………………………………………………………….. ………………………………………………………………….. Adalah pengurus/ anggota aktif Organisasi Profesi…………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………………………………………………………………………. …………………………………………………………………………………………………………………………………………………. Demikian surat keterangan ini dibuat untuk digunakan sesuai keperluannya. ………………, tanggal ………………………… Ketua Umum/ Pejabat yang ditunjuk. (…………………………………………………) Form. F. SURAT - KETERANGAN Kami yang bertanda tangan dibawah ini : a. Nama : ………………………………………………………………… b. NIP. : ………………………………………………………………… c. Pangkat/ Golongan : ………………………………………………………………… d. Jabatan. : ………………………………………………………………… e. Unit Kerja : ………………………………………………………………… ………………………………………………………………… Menerangkan bahwa Penyuluh Pertanian a. Nama : ………………………………………………………………… b. NIP. : ………………………………………………………………… c. Pangkat/ Golongan : ………………………………………………………………… d. Jabatan : ………………………………………………………………… e. Unit Kerja : ………………………………………………………………… ………………………………………………………………… Telah melaksanakan kegiatan ……………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………………........................................... Dengan judul………………………………………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………………………………………………………………….. Dalam bentuk buku/ majalah/ naskah/ makalah ( terlampir) atau melaksanakan siaran……. …………………………………………………………………………………………………………………………………………….. Pada tanggal……………………………………………………………………………………………………………………….. Di …………………………………………………………………………………………….............................................. Demikian surat keterangan ini dibuat untuk digunakan sesuai dengan keperluannya. ……………….., tanggal…………………………. Mengetahui Koordinator BP……….. / PUK …………………..…………………….. H…………………………………..SP NIP……………………………………

DAFTAR USUL PENETAPAN ANGKA KREDIT JABATAN FUNGSIONAL PENYULUH PERTANIAN AHLI

LAMPIRAN II-B PERATURAN BERSAMA MENTERI PERTANIAN DAN KEPALA BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA NOMOR : 54/ Permentan / OT.210/11/2008 NOMOR : 23 A TAHUN 2008 TANGGAL : 7 November 2008 DAFTAR USUL PENETAPAN ANGKA KREDIT JABATAN PENYULUH PERTANIAN MUDA Nomor :……………………………………….. Instansi : BADAN KETAHAN PANGAN DAN P4K KABUPATEN REMBANG. MASA PENILAIAN:1 April 2012 s/d 31 Maret 2013 No :................... KETERANGAN PERORANGAN 1. Nama 2. NIP 3. Nomor Kartu Seri Pegawai 4. Tempat dan Tanggal Lahir 5. Jenis Kelamin 6. Pendidikan yang telah diperhitungkan Angka Kreditnya 7. Pangkat/Golongan Ruang/TMT 8. Jabatan Penyuluh Pertanian,TMT 9. Masa Kerja Golongan Lama 10. Masa Kerja Golongan Baru 11. Unit Kerja No UNSUR YANG DINILAI UNSUR,SUB UNSUR DAN BUTIR KEGIATAN ANGKA KREDIT MENURUT INSTANSI PENGUSUL TIM PENILAI LAMA BARU JUMLAH LAMA BARU JUMLAH 1 2 3 4 5 6 7 8 I. UNSUR UTAMA 1. PENDIDIKAN/ Impasing A. Pendidikan Sekolah dan memperoleh ijazah/ gelar 1. ( S3 ) 2. ( S2 ) 3. Sarjana ( S1) / Diploma IV B. Pendidikan dan Pelatihan Fungsional dan memperoleh surat tanda Tamat Pendidikan dan Pelatihan (STTPP) atau Serrtifikat Mengikuti diklat fungsional - - - 1. Lamanya lebih dari 960 jam - - - 2. Lamanya antara 641- 960 jam - - - 3. Lamanya 461-640 jam - - - 4. Lamanya 161- 480 jam - - - 5.Lamanya 81-160 jam 6. Lamanya 30- 80 jam C. Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan dan memperoleh Surat Tanda Tamat Pendidikan dan Pelatihan ( STTPP) Mengikuti Pendidkan dan Pelatihan Prajabatan Tingkat III JUMLAH N0. UNSUR YANG DINILAI UNSUR,SUB UNSUR DAN BUTIR KEGIATAN ANGKA KREDIT MENURUT INSTANSI PENGUSUL TIM PENILAI LAMA BARU JUMLAH LAMA BARU JUMLAH 1 2 3 4 5 6 7 8 2. KEGIATAN PERSIAPAN PENYULUHAN PERTANIAN A. Identifikasi Potensi Wilayah 1.Menyusun instrumen -Tingkat Provinsi dan nasional 2.Mengumpulkan data -Tingkat nasional 3.Mengolah menganalisa dan merumuskan hasil B. Penyusunan Programa Penyuluhan Pertanian Menyusun Programa Penyuluhan Pertanian sebagai -Anggota C. Penyusunan rencana kerja tahunan penyuluh pertanian -Menyusun Rencana Kerja Tahuan Penyuluh Pertanian 3. PELAKSANAAN PENYULUHAN PERTANIAN A. Penyusunan Materi 1.Menyusun materi penyuluhan pertanian dalam bentuk a.Naskah radio/TV/seni budaya/pertunjukkan b. Film/Vidio/VCD/DVD -Penyusunan synopsis dan skenario 2.Menyusun materi kursus tani B. Perencanaan dan penerapan methode penyuluhan pertanian 1.Melakukan kunjungan tatap muka/ anjangsana a.Perorangan b.Kelompok tani c.Massal 2. Merencanakan uji coba/ pengkajian paket teknologi/ methode penyuluhan pertanian 3 Merencanakan dan melaksanakan temu wicara, temu lapang, temu teknologi,temu karya, temu usaha, temu tugas, temu teknis -Merencanakan temu wicara, temu teknologi,temu usaha 4.Merencanakan dan melaksanakan penyuluhan melalui Media elektronik ( Radio,TV,Website) -Melaksanakan 5. Merencanakan dan melaksanakan pameran a.Merencanakan b.Membuat display pameran c.Sebagai pramuwicara 6 Mengajar kursus tani C. Menumbuhkan/mengembangkan kelembagaan petani -Mengembangkan koperasi petani 4. EVALUASI DAN PELAPORAN A. Evaluasi Pelaksanaan Penyuluhan Pertanian 1.Menyusun rencana kerja evaluasi -Tingkat Provinsi 2. Mengumpulkan dan mengolah data pelaksanaan -Tingkat Nasional 3. Menganalisa dan merumuskan hasil evaluasi -Tingkat Provinsi B. Evaluasi Dampak Pelaksanaan Penyuluhan Pertanian 1.Menyusun rencana kegiatan evaluasi dampak -Tingkat Nasional 2. Mengumpulkan dan mengolah data evaluasi dampak -Tingkat Provinsi -Tingkat Nasional 3. Menganalisa dan merumuskan data evaluasi dampak -Tinghkat Kabupaten No UNSUR YANG DINILAI UNSUR,SUB UNSUR DAN BUTIR KEGIATAN ANGKA KREDIT MENURUT INSTANSI PENGUSUL TIM PENILAI LAMA BARU JUMLAH LAMA BARU JUMLAH 1 2 3 4 5 6 7 8 5 PENGEMBANGAN PROFESI PENYULUHAN PERTANIAN A. Melakukan kegiatan karya tulis/karya ilmiah di bidang pertanian 1. Karya tulis /karya ilmiah hasil pengkajian di bidang Pertanian yang dipublikasikan dalam bentuk: a.Buku yang diterbitkan dan diedarkan secara Internasional b.Buku yang diterbitkan dan diedarkan secara nasional c.Majalah ilmiah yang diakui instansi yang bersangkutan 2. Karya tulis /karya ilmiah hasil pengkajian di bidang Pertanian yang tidak dipublikasikan , tetapi didokumentasikan diperpustakaan. a.Dalam bentuk buku b.Dalam bentuk naskah 3 Tinjauan atau ulasan ilmiah hasil gagasan sendiri di bidang pertanian yang dipublikasikan. a. Dalam bnetuk buku yang diterbitkan dan diedarkan secara nasional b. Dalam bentuk majalah ilmiah yang diakui oleh Departemen yang bersangkutan 4. Tinjauan atau ulasan ilmiah hasil gagasan sendiri di bidang pertanian yang tidak dipublikasikan , tetapi didokumentasikan di perpustakaan a. Dalam bentuk buku b.Dalam bentuk naskah 5. Tulisan ilmiah di bidang pertanian yang disebarkan melalui media massa yang merupakan satu kesatuan 6. Karya tulis/ karya ilmiah berupa prasaran, tinjauan , gagasan, atau ulasan,ilmiah yang disampaikan dalam pertemuan ilmiah ( inisiatif sendiri) B. Menerjemahkan/ Manyadur buku dan bahan-bahan di bidang pertanian 1. Terjemahan /saduran di bidang pertanian yang dipublikasikan a.Dalam bentuk buku yang diterbitkan dan diedarkan secara nasional b.Dalam bnetuk majalah ilmiah ( Departemen, Provinsi ) 2 Terjemahan /saduran di bidang pertanian yang tidak dipublikasikan a.Dalam bentuk buku b.Dalam bentuk naskah C Memberikan konsultasi di bidang pertanian yang bersifat konsep 1. Institusi 2. Perorangan JUMLAH UNSUR UTAMA II UNSUR PENUNJANG PENUNJANG KEGIATAN PENYULUHAN PERTANIAN A. Mengikuti seminar/ lokakarya di bidang pertanian sebagai a.Pemrasaran b.Moderator/ Pembahas/ Nara sumber c.Peserta B Menjadi Anggota Tim Penilai Menjadi anggota Tim Penilai Jabatan Fungsional Penyuluh Pertanian secara aktif 1. 1 - 4 DUPAK 2. 5 – 9 DUPAK 3. 10 -1 4 DUPAK 4. > 15 DUPAK C Menjadi anggota dewan redaksi dalam media massa bidang pertanian 1. Ketua 2. Anggota No UNSUR YANG DINILAI UNSUR, SUB UNSUR DAN BUTIR KEGIATAN ANGKA KREDIT MENURUT INSTANSI PENGUSUL TIM PENILAI LAMA BARU JUMLAH LAMA BARU JUMLAH 1 2 3 4 5 6 7 8 D Memperoleh penghargaan/ tanda jasa 1. Penghargaan /tanda jasa/dari pemerintah atas prestasi kerjanya a.Tingkat Nasional Internasional b.Tingkat Provinsi c.Tingkat Kabupaten / Kotamadya 2. Memperoleh penghargaan/ Tanda Jasa Satya Lencana Karya a.30 ( tigapuluh) tahun b.20 ( dua puluh )tahun c.10 ( sepuluh ) tahun E Mengajar/ melatih pada diklat Mengajar/ melatih di bidang pertanian pada diklat Kedinasan. F Menjadi anggota organisasi profesi 1. Tingkat Nasional a.Sebagai pengurus aktif b.Sebagai anggota aktif 2. Tingkat Provinsi/ Kabupaten/kota madya a.Sebagai pengurus aktif b.Sebagai anggota aktif G. Memperoleh kesarjanaan lainnya Memperoleh gelar kesarjanaan yang tidak sesuai dengan bidang tugas pokoknya 1. Doktor 2. Pasca Sarjana 3. Sarjana/D-IV JUMLAH UNSUR PENUNJANG Butir kegiatan di atas /di bawah jenjang jabatan 1 2 3 4 5 6 7 8 JUMLAH UNSUR UTAMA DAN UNSUR PENUNJANG III. LAMPIRAN PENDUKUNG DUPAK 1. Surat pernyataan melakukan kegiatan pendidikan dan pelatihan pertanian 2. Surat pernyataan melakukan kegiatan persiapan penyuluhan pertanian 3. Surat pernyataan melakukan kegiatan pelaksanaan penyuluhan pertanian 4. Surat pernyataan melakukan kegiatan evaluasi penyuluhan pertanian 5. Surat pernyataan melakukan kegiatan pengembangan profesi 6.Surat pernyataan melakukan kegiatan penunjang kegiatan penyuluhan pertanian Rembang, 31 Maret 2013 Pengusul Ir. …………………………MSi NIP…………………………………… CATATAN PEJABAT PENGUSUL 1…………………………………………………. 2…………………………………………………. 3…………………………………………………. 4. ……………………………………………….. 5…………………………………………………. Rembang, 31 Maret 2013 Pejabat Pengusul Ir. ................, MM NIP: .................... V CATATAN ANGGOTA TIM PENILAI 1…………………………………………………. 2…………………………………………………. 3…………………………………………………. 4. ……………………………………………….. 5…………………………………………………. Rembang, 31 Maret 2011 Penilai I ........................ NIP: Penilai II ......................... NIP: VI. CATATAN KETUA TIM PENILAI 1…………………………………………………. 2…………………………………………………. 3…………………………………………………. 4. ……………………………………………….. 5…………………………………………………. Rembang, 31 Maret 2013 Ketua Tim Penilai Ir.....................,MSc. NIP. ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Minggu, 17 Maret 2013

LIKU LIKU PANJANG PERJALANAN PENYULUHAN PERTANIAN DI INDONESIA DAN APA KONTRIBUSINYA TERHADAP NEGERI INI

Pembangunan pertanian di Indonesia saat ini ternyata masih memegang peranan yang sangat penting, baik kontribusinya terhadap pendapatan nasional, terhadap penyerapan tenaga kerja maupun terhadap penyediaan kebutuhan pokok rakyat mupun stabilitas nasional Keberhasilan pembangunan pertanian di Indonesia yang telah dicapai sampai saat ini kiranya tidak lepas dari peranan penyuluhan pertanian. Mosher(1966) menyatakan penyuluhan pertanian merupakan faktor pelancarbagi pembangunan pertanian, namun untuk saat ini kiranya penyuluhan pertanian tidak cukup hanya dianggap sebagai faktor pelancarpembangunan pertanian saja, akan tetapi justeru penyuluhan pertanian adalah merupakan primadona yang mestinya perlu mendapat perhatian besar didalam proses pembangunan pertanian dinegeri kita tercinta sekarang ini. Selanjutnya menurut Mudjio (1979) bahwa penyuluhan pertanian adalah merupakan pendidikan non formal untuk merubah perilaku petani, sehingga mereka tahu, mau dan mampu memecahkan masalah yang timbul pada usaha taninya. Disamping itu bahwa penyuluhan pertanian akan merubah perilaku petani secara utuh yang mencakup aspek pengetahuan, sikap dan keterampilannya, sehingga tujuan dari pada penyuluhan pertanian sangat jauh berbeda dengan tujuan dari penerangan, dimana tujuan dari penerangan hanya terbatas pada penyampaian pengetahuan (cognitive) saja, sedangkan perubahan afektif dan psikomotornya tidak tersentuh sama sekali. Mengingat bahwa penyuluhan pertanian aktornya adalah para penyuluh, dengan peran sertanya penyuluh ini ternyata Indonesia dapat berhasil swaswembada beras pada tahun 1984 serta memperoleh penghargaan dari Badan Pangan Dunia (FAO. Sedangkan secara kelembagaan sejak tahun 1987 telah diakuinya profesi Penyuluh Pertanian sebagai tenaga fungsional dalam rumpun hayati dan untuk sekarang ini kelembagaan penyuluhan pertanian telah diperkuat dengan telah disahkannya Undang-Undang Nomor16Tahun 2006 tentang system Penyuluhan pertanian, Perikanan dan Kehutanan pada tanggal 15 November 2006 yang lalu. Dengan telah disahkannya undang undang tersebut dan sudah berjalan hampir satu windu ini diharapkan dapat berajalan dengan sebaik-baik tanpa mengalami ketimpangan atau kesimpang-siuran didalam iimplementasinya. khususnya mengenai sistem kelembagaannya dari pusat sampai daerah, sumberdaya manusianya, dan yang tak kalah pentingnya adalah kontinuitas sumber dananya yang merupakan faktor penentu terhadap maju mundurnya penyelenggaraan penyuluhan pertanain. Mengingat bahwa sekarang ini adalah era otonami derah, sehingga segala kewenangan mengelola pemerintahan ada pada daerah masing-masing. Undang Undang Nomor 16 Tahun 2006 ini nampaknya telah banyak mengakomodir dari berbagai kelemahan dan kendala yang terjadi pada praktek penyelenggraaan penyuluhan tahun sebelumnya, dimana dalam undang tersebut tersura dan tersirat dengan jelas chirarhi kelembagaan penyuluhan secara Vertikal dari pusat sampai ke daerah bahkan sampai ketingkat kecamatan dan desa. Didalam Undang undang tersebut pun dijelaskan bahwa di tingkat Pusat namanya Badan Penyuluhan, di tingkat Provinsi Bakorluh, di tingkat Kabupaten Badan Pelaksana Penyuluhan, di tingkat Kecamatan Balai Penyuluhan Kcamatan, dan di tingkat desa namanya Pos penyuhan Desa. Semoga undang undang tersebut yang telah berjalan hampir satu windu ini dapat di implementasikan dengan sebaik-baiknya. Sebelum melangkah lebih jauh marilah sejenak kita menengok kebelakang tentang sejarah perkembangan penyuluhan pertanian di Indonesia. Sebetulnya sejak kapankah penyuluhan pertanian di Indonesia itu dimulai, Konon penyuluhan pertanian di Indonesia telah dimulai sejak dua abad yang lampau, tepatnya pada tanggal 17 Mei 1817, yaitu saat pertama kali di dirikannya kebun Raya Bogor, sedang sebagai ilmu pengetahuan penyuluhan pertanian sudah dirintis semenjak tahun 1723 di Scotlandia. Seiring dengan berputarnya waktu dan perkembangan zaman, bahwa pada tahun 1905, kala itu Indonesia masih di jajah oleh Belanda, ternyata telah dibentuk Departemen pertanian ala kolonilais yang melaksanakan fungsi penyuluhan pertanian. Selanjutnya pada tahun 1910 dibentuk Mantri Tani dibawah Pangreh Praja,dan system penyuluhan pertaniannya saat itu masih dilasanakan secara paksaan, baru kemudian pada tahun 1921 dibentuklah Dinas Pertanian Tingkat Provinsi, dimana pada saat itu system penyuluhannya sudah berubah kearah persuasive bukan lagi dengan cara paksaan. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi maka pada tahun 1911 di Sukabumi Jawa Barat didirikian Sekolah Pertanian Menengah dan Sekolah Usaha Tani. Kemudian pada tahun 1936 berdiri Balai Benih Daerah, dan pada saat itu system penyuluhan pertanian menganut system tetesan minyak (Oil Vleck System) yaitu system penyuluhan dengan cara membina seorang wakil dari suatu daerah sasaran, kemudian apabila mereka berhasil, maka secara langsung akan ditiru oleh petani didaerahnya. Selanjutnya pada awal kemerdekaan tepatnya pada Bulan Oktober 1947. Pemerintah membentuk BPMD (Balai Pendidikan Masyarakat Desa) Lembaga ini berfungsi berfungsi sebagai Balai Penyuluhan pertanian dan pendidikan lainnya, guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Berikutnya pada tahun 1966 sistem penyuluhan pertanian dilakukan melaui organisasai BIMAS yang mengikut sertakan intansi terkait diantaranya BNI, PT Pertani, Dinas Pertanian, Koperasi, Perguruan Tinggi dan lainnya guna membuat perencanaan, pelaksanaan pengawasan dan pertanggung jawaban, pada saat itu system penyuluhan sudah dilakukan secara massa,l bukan lagi dengan system tetesan minyak. Berikutnya pada tahun 1970, ada program BIMAS yang disempurnakan, pada saat itu muncullah Istilah Catur Sarana Unit Desa yang meliputi Penyuluh Pertanian, BRI, KUD dan Kios Saprodi. Selanjutnya pada tahun 1977 Bennor dan Horison mencetuskan istilah LAKU yaitu latihan dan kunjungan dan pada saat itu terjadilah perubahab organisatoris penyuluhan pertanian yang kemudian Dinas Pertanian menjadi aparat Struktural yang menangani dan melaksanakan fungsi pelayanan serta pengaturan, sedangkan aparat Fungsional melaksanakan fungsi Penyuluhan. Setelah hamper dua abad lamanya penyuluhan pertanian berlangsung dinegeri kita tercinta ini dengan berbagai macam perkembangan yang ada, bagaimanakah kondisi penyuluhan pertanian kita sekarang ini ? Jawaban tersebut mertinya akan beraneka ragam tergantung siapa yang akan menjawabnya, dan dari kacamata apa mereka memandang. Perlu diketahui bahwa penyuluhan pertanian sumberdaya manusianya atau actor intelektualnya adalah penyuluh, entah itu yang berkategori sebagai penyuluh ahli maupun penyuluh terampil atau mereka yang berkategori sebagai perakit, perancang atau pembuat kebijakan dibidang penyuluhan pertanian, mereka tentu akan merasa risih apabila ada sebagian pihak yang menilai bahwa kondisi penyuluhan pertanian di Indonesia saat ini sedang sakit, sedang mengalamim penurunan, penyuluhan kurang menggigit, penyuluhan sedang loyo, penyuluhan pertanian tidak relevan lag, penyuluhan tidak dapat mengasilkan PAD (Pendapatan Asli Daerah) dan yang lebih parah lagi apabila ada parat yang mengatakan toch tanpa adanya penyuluhan pertanian, pertanian tetap jalan dengan sendirinya, kilahnya dengan pertanian malah banyak paksaan. Itulah sekelumit gambaran ocehan dari mereka –mereka yang suka usil yang nota benenya mereka orang yang tidak faham akan makna dan falsafah dari penyuluhan, mereka tidak mengetahui hal yang sebenarnya tentang penyuluhan pertanian. Dengan telah berlakunya undang undang system penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan yang sudah berjalan hampir sewindu ini, rasanya koq belum ada perubahan yang signifikan bagi para penyuluh, khususnya bagi penyuluh yang berada di daerah-daerah, dan implementasinya masih perlu dibenahi dengan sebaik-bainya, baik mengenai Batas Usia Pensiun Penyuluh,Tunjangan Fungsional Penyuluh, Biaya Operasional Penyuluh, serta Sertipikasi penyuluh, kami para penyuluh berharap agar semoga dengan telah dikelurkannya PERPRES No.16 Tahun 2013 Tentang Tunjangan Jabatan Penyuluh Pertanian per tanggal 1 Maret 2013 ini, mudah-mudahan implementasinya dapat segera terealisir dengan baik.Amien. (mnr)

Selasa, 12 Maret 2013

TEKNIK MEMACU PERKECAMBAHAN BIJI MELINJO UNTUK PERBANYAKAN TANAMAN

Tanaman melinjo adalah merupakan jenis tanaman perkebunan yang banyak manfaatnya mulai dari buah, bunga hingga daunnya banyak dimanfaatkan orang sebagai bahan pangan baik untuk makanan ringan, untuk sayuran maupun untuk keperluan industry emping melinjo. Melinjo memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi, selain karbohidrat juga mengandung lemak, protein, mineral dan vitamin dari 100 gram melinjo mengandung : Kalori : 345,00 kalori, Karbohidrat ;71,50 mg. Protein : 120,00 mg, Lemak : 1,00 mg, Kalsium : 100,00 mg, Fospor: 400,00 mg, Besi : 5,00 mg Vitamin B: 0,20 ( Anonim,95) Tanaman melinjo, bijinya pada umumnya sulit untuk dikecambahkan dan apabila tumbuh secara alamiah memerlukan waktu stagnasi yang relative lama sekitar 10-14 bulan, sehingga petani harus menunggu waktu yang begitu panjang. Bagaimana caranya agar supaya perkecambahan dari biji melinjo dapat dipercepat atau dipacu, sehingga petani akan lebih cepat dalam menghasilkan bibit melinjo guna dikembangkan lebih lanjut Lamanya perkecambahan biji melinjo disebabkan kurang lancarnya perombakan zat cadangan makanan. hal ini disebabkan karena substansi yang menghambat proses tersebut. Untuk mengatasi hal tersebut perlu adanya perlakuan biji melinjo, yaitu dengan cara stratifikasi hangat, yaitu dengan cara memperlakukan biji melinjo pada suhu diatas suhu perkecambahan selama 3 minggu. Denagn cara seperti ini biji melinjo yang biasanya membentuk embrio dan perkecambahan selama 10-14 bulan dipastikan sudah bisa membentuk embrio dan berkecambah dalam jangka waktu satu sampai satu setengan bulan. Setelah dua bulan kemudian didalam pesemaian maka biji melinjo sudah ber kecambah sekitar 20 %. Adpaun kelebihan lainnya dari perlakuan ini, selain dapat mempercepat proses perkecambahan biji ternyata dapat meningkatkan jumlah prosentase perkecambahan biji. Selanjutnya setelah enam bulan disemaikan jumlah prosentase biji yang bisa mencapai 75 %, bahkan setelah mencapai umur 10 bulan dipesemaian maka biji yang berkecambah bisa mencapai lebih dari 90 % . Perlakuan khusus dengan cara stratifikasi hangat. Setelah biji melinjo diseleksi dan memenuhi kriteria calon benih, selanjutnya benih melinjo dicuci dengan larutan alkohol, lalu dibilas dengan air suling.Kemudian biji merlinjo di angin-anginkan selama 2 jam. Perlakuan selanjutnya biji melinjo disemaikan dalam bak plastic yang berisi media pasir. Benih melinjo disemaikan dengan jarak 1,5 -2 cm dan dibenamkan hingga tersisa 2 mm diatas media tumbuh tadi. Selanjutnya media tanam diberi air sehingga lembab, selanjutnya media tanam yang telah dibenami benih melinjo tadi dimasukkan kedalam oven bersuhu konstan 38 derajat celcius selama 3 minggu. Medias pasir dalam bak ini harus selalu dijaga agar tetap lembab, yaitu dengan cara menyemprotkan air apabila media tersebut terlihat kering . Setelah diperlakukan selama 3 minggu lalu bak tadi dikeluarkan dari oven. Selanjtnya bak yang berisi media tanam dan benih melinjo tadi ditempatkan pada tempat yang teduh dan tidak boleh terkena sinar matahari langsung serta terlindung dari air hujan. Kemudian jangan lupa media tanamnya harus selalu dibasahi sehingga selalu dalam keadaan lembab. Biarkan media yang berisi benih melinjo tadi hingga tumbuh kecambah. Ssetelah tumbuh tunas maka benih melinjo siap untuk disemaiakan pada polybag atau lahan pesemaian lebih lanjut dan cara pemindahannya harus hati-hati, sehingga bibit melinjo tidak mengalami kerusakan dan tetap dalam keadaan baik dan sehat . Demikaian Teknik dan cara memepercepat proses perkecambahan biji melinjo semoga dapat bermanfaat bagi yang memerlukannya. ( mnr )

Jumat, 08 Maret 2013

TEKNIK PEMBUATAN EMPING MELINJO UNTUK MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN

Emping melinjo adalah jenis makanan ringan yang bentuknya pipih bulat, bahan bakunya berasal dari biji melinjo yang sudah tua. Hampir semua orang sudah mengenal apa yang namanya emping melinjo, dan jenis makanan ini memiliki rasa dan aroma yang khas. Emping melinjo memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi, selain karbohidrat juga mengandung lemak, protein, mineral dan vitamin dari 100 gram emping melinjo mengandung: Kalori : 345,00 kalori, Karbohidrat ;71,50 mg. Protein : 120,00 mg, Lemak : 1,oo mg, Kalsium : 100,00 mg, Fospor: 400,00 mg, Besi : 5,00 mg Vitamin B: 0,20 ( Anonim,95) Emping melinjo yang dijual dipasaran ada bermacam-macam ukurannya yaitu kecil, sedang dan besar. Emping ukuran kecil dikenal dengan nama ceprek, emping ini dibuat dari satu biji melinjo untuk satu buah emping. Emping ukuran sedang dibuat dari beberapa biji melinjo yang dipipihkan dan disatukan, sedangkan untuk emping ukuran besar biasanya dibuat dari biji melinjo sebanyak 15- 20 biji melinjo yang dipipihkan dan disatukan . Proses pembuatan emping melinjo adalah sebagai berikut A.Bahan dan Alat: Bahan dan Alat yang digunakan untuk membuat emping melinjo sangat sederhana, biasanya mudah diperoleh dan harganya pun relative murah sehingga dapat terjangkau dikalangan petani. Alat-lat tersebut meliputi: 1. Batu landasan yang permukaannya rata dan licin sebagai tempat untuk memipihkan biji melinjo. 2. Palu besi untuk memipihkan biji melinjo 3. Wajan untuk menyangrai biji melinjo 4. Kompor pemanas atau tungku api 5. Susuk untuk mengambil emping melinjo yang telah dipipihkan 6. Irus untuk mengambil biji melinjo yang sedang disangrai dari wajan 7. Anyaman bambu atau rigen untuk menjemur emping melinjo yang masih basah 8. Biji melinjo yang sudah tua dan kualitasnya baik. B. Pemilihan bahan baku Agar diperoleh emping yang berkualitas baik, maka bahan baku yang dipilih harus berkualitas baik pula. Bahan baku yang berkualitas adalah yang berasal dari biji melinjo yang sudah tua dan tidak lebih dari 3 bulan dalam peyimpanan. C. Cara membuat emping melinjo Prinsip dasar pembuatan emping melinjo adalah pengupasan kulit buah, pemanasan biji, pengupasan kulit biji, pemukulan dan pemipihan biji, pelepasan emping dari batu pemipih penjemuran dan sortasi. 1. Pengupasan kulit buah. Biji melinjo yang sudah tua dikupas kulit luarnya dengan pisau. Kulit melinjo dikerat memanjang kemudian dilepas. kulit ini bisa dijadikan sebagai sayuran. 2. Pemanasan Biji melinjo Ada tiga cara pemanasan biji melinjo dalam pembuatan emping  Dengan cara disangrai tanpa pasir, pertama wajan dipanaskan diatas kompor atau pemanas lainnya. Usahakan nyala api jangan terlalu besar dan selalu konstan, kemudian biji melinjo dimasukkan sedikit demi sedikit kira-kira satu genggaman tangan, lalu diaduk-aduk dengan irus agar panasnya merata dalam pemanasan ini jangan sampai hangus.  Dengan cara disangrai dengan pasir. Wajan yang telah diisi dengan pasir dipanaskan diatas pemanas hingga panas pasirnya merata. Pasir yang digunakan adalah pasir bangunan yang telah dicuci bersih sebelumnya. Jika pasir telah panas, biji melinjo dimasukkan dan diaduk-aduk bersama pasir hingga panasnya merata  Dengan cara direbus. Biji melinjo direbus dalam panci yang berisi air mendidih. Dalam hal ini yang harus diperhatikan pada tahap pemanasan biji adalah lamanya pemanasan, meskipun tidak ada patokan resmi sebaiknya pemanasan serat melinjo itu cukup matang, bila terlalu matang akan menghasilkan emping melinjo yang rasanya kurang enak dan warnanya pucat sehingga kurang menarik. 3. Pengupasan kulit biji. Biji melinjo yang telah dipanaskan segera dikupas kulit tanduknya dalam keadaan masih panas, biji melinjo dipukul agar kulit tanduknya yang keras dapat terlepas . 4. Pemukulan dan pemipihan biji Setelah kulit keras biji melinjo dikupas, biji melinjo segera diletakkan diatas bantalan batu dalam keadaan masih panas/ hangat. Biji melinjo dipukul pukul dengan palu dan dipipihkan hingga rata. Hal ini merupakan prinsip pembuatan emping melinjo. Apabila ingin membuat emping dengan ukuran yang lebih besar, maka pemukulan biji melinjo berikutnya diusahakan agar berdekatan dengan biji pertama. Demikian seterusnya sambil dibentuk bundar, sehingga jadilah emping yang ukurannya lebih besar. Prinsip pembuatan emping dari biji yang direbus pada dasarnya sama saja dengan emping dari biji yang disangrai. Untuk menjaga agar tetap panas sebelum dipukul, sebaliknya biji melinjo yang sudah direbus itu dikukus terlebih dahulu. 5. Pelepasan emping dari batu landasan Emping yang telah berbentuk bundar dan rata dilepaskan dari batu landasan dengan menggunakan susuk. Pelepasan ini dilakuakan dengan hati-hati agsupaya emping tidak sobek atau rusak. Ada cara untuk memudahkan pelepasan emping dari batu landasan yaitu dengan mengoleskan sedikit minyak goreng dibatu landasan, sebelum biji melinjo diletakkan diatasnya. Meskipun cara ini banyak digunakan oleh pengrajin melinjo, namun sebenarnya mengandung resiko. Pengolesan minyak ini akan mempercepat tumbuhnya jamur sehingga daya simpan emping mejadi kurang. 6. Penjemuran emping melinjo Emping yang sudah dipipihkan masih dalam keadaan basah. Untuk mengeringkan emping ini disusun dan ditata rapih diatas rigen kemudian dijemur, penjemuran dilakukan hingga emping kering betul agar tahan lama disimpan. 7. Sortasi Emping Setelah kering, emping melinjo kemudian dikumpulkan dan disotasi. Pemilihan ini hanya untuk membedakan kelas atau kualitas dari emping melinjo. 8. Pengemasan dan penyimpanan Emping melinjo yang telah kering dapat dikemas dan siap untuk dipasarkan. Kemasan yang digunakan adalah dengan menggunakan kantong plastic yang diikat erat-erat. Penyimpanan emping sebaiknya ditempat yang sejuk dan kering penyimpanan diupayakan jangan sampai lebih dari tiga bulan. Demikian Teknik dan cara Pembuatan emping melinjo semoga dapat bermanfaat bagi masyarakat yang memerlukannya.(mnr)

TEKNIK PEMBUATAN INSTAN JAHE SEBAGAI BAHAN MINUMAN PENYEGAR TUBUH

Instan jahe adalah merupakan produk olahan dari pasca panen hasil perkebunan khususnya tanaman empon-empon yang tujuannya untuk meningkatkan nilai tambah, sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan tingkat kesejahteraan petani. Instan jahe merupakan salah satu proses diversifikasi bertingkat dari komoditas perkebunan khususnya tanaman jahe. Selain dapat digunakan sebagai bumbu masak jahe dapat pula dijadikan sebagai bahan kosmetika, bahan pembuat jamu tradisonal maupun dijadikan bentuk produk lainnya Beberapa manfaat dari Instan jahe antara lain: • Dapat menghilangkan rasa dahaga, yaitu dapat dihidangkan dengan menambah air masak baik panas, hangat maupun air dingin sesuai dengan selera yang kita inginkan • Memberikan kesegaran badan, yaitu dapat menyegarkan badan yang lelah atau letih sehabis kita bekerja berat , sehabis olah raga maupun bepergian. • Menghangatkan badan. Yaitu dapat menghangatkan tubuh yang terasa dingin baik karena pengaruh iklim/cuaca yang dingin atau karena masuk angin. Caranya dengan menghidangkan disedu dengan air panas. CARA PEMBUATAN INSTAN JAHE Bahan-bahan dan alatnya; Bahannya; Jahe sebanyak 0.5 kg, gula pasir, 1 kg, pandan wangi serta serai secukupnya Alatnya; Pisau, parut, Saringan, Wajan, kompor, timbangn, ayakan, pengaduk.kantong plastik Langkah kerja, 1. Pertama tama jahe dikupas dan dicuci sampai bersih 2. Jahe dihaluskan dengan cara diparut 3. Hasil parutan jahe diperas, disaring airnya dan ditampung dalam baskom. 4. Larutan jahe ditambah 0,5 kg gula pasir sambil diaduk -aduk dipanaskan sampai mengental 5. Setelah mengental wajan diangkat dari kompor, tambahkan 0,5 kg gula pasir sisanya tadis ambil terus diaduk aduk supaya tidak menggumpal 6. Setelah agak dingin di ayak untuk memisahkan bagian yang menggumpal 7. Untuk memperoleh hasil instan jahe yang lebih halus dapat diblender 8. Hasilnya siap untuk dihidangkan dengan menambah air panas. Atau dapat pula dikemas dengan kantong plastik untuk disimpan atau dijual. Adapun hal-hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan instan jahe adalah sebagai berikut: • Jahe yang sudah dikupas harus dicuci sampai bersih agar hasil yang diperoleh dalam pembuatan instan jahe lebih baik • Penggunaaan api kompor jangan terlalu besar atau terlalau panas sehingga keberhasilan dan warna hasilnya menarik • Dalam memanaskan larutan jahe perlu diaduk-aduk secara terus menerus agar tidak terjadi penggumpalan dan hasilnya baik. Demikian teknik dan cara membuat instan jahe semoga dapat bermanfaat bagi masyarakat yang memerlukannya.(mnr)

TEKNIK PEMBUATAN TEPUNG KELAPA SEBAGAI BAHAN CAMPURAN KUE

Tepung kelapa adalah merupakan hasil dari pasca panen hasil perkebunan khususnya buah kelapa yang tujuannya untuk meningkatkan nilai tambah produk perkebunan sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani. Tepung kelapa merupakan proses diversifikasi bertingkat dari pada komoditas perkebunan khususnya buah kelapa yang selain dapat dibuat minyak kelapa, Coconut Oil maupun dalam bentuk produk lainnya. Kegunaan dari tepung kelapa antara lain; • Sebagai bahan pembuat roti/ kue basah maupun kering. Seperti bolu kukus atau kongguan rasa coconut. • Menghemat penggunaan blue band/ margarine. Dengan penggunaan tepung kelapa maka dalam pembuatan roti/kue fungssi dari blue band atau margarine dapat digantikannya tanpa mengurangi kualitas rasanya. • Dapat pula digunakan sebagai santan sewaktu tidak tersedia kelapa segar. Bahan-bahan dan alat yang diperlukan; Bahannya; Buah kelapa segar, plasti transparan, air besih Alat-alatnya.; Parut, Pisau, Blender, tampa/ nyiru, dandang, kompor Teknik dan cara pembuatan;  Pertama tama pisahkan daging buah kelapa dari tempurungnya.  Kerik kulit ari yang menempel pada dagbuah kelapa sampai bersih  Kemudian cucilah dengan air sampai bersih  Blanching daging buah kelapa tersebut selama lima menit  Selanjutnya lakukan pemarutan terhadap daging buah kelapa  Setelah diparut daging buah kelapa jemurlah dengan menggunakan tampah dan gunakan penutup plastik agar terjamin kebersihannya.  Selama penjemuran perlu dilakukan pembalikan agar hasil parutan kelapa tadi menjadi kering secara merata  Setelah kering kamudian dihaluskan dengan menggunakan blender atau alat penggiling sehingga menjadi tepung  Tepung yang telah halus selanjutnya dikemas dan disimpan pada suhu kamar  Selanjutnya tepung kelapa siap untuk digunakan. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan tepung kelapa adalah sebagai berikut: 1. Sewaktu membersihkan kuilit ari dari daging buah kelapa harus menggunakan pisau yang baik dan tajam sehingga daging buah benar-benar besih. 2. Lamanya blanching dan pengukusan harus dalam waktu yang tepat, tidak boleh terlalu lama atau terlalu singkat. 3. Arah dari pemarutan buah kelapa harus benar yaitu melintang mengikuti alur serat daging buah kelapa. 4. Penghalusan atau penggilingan harus dilaksanakan pada saat kelapa parutan benar-benar sudah kering, sehingga kandunagn minyaknya sedikit mungkin. Hal ini dimaksudkan agar supaya tepung kelapa tidak mudah tengik atau rusak sewaktu disimpan. Adapun maksud diadakannya perlakukan seperti blanhing, pengukusan dan pemarutan adalah sebagai berikut;  Tujuan Blanching adalah untuk menghilangkan lendir yang menempel pada permukaan daging buah kelapa, sehingga apabila dibuat roti / kue mutunya akan baik.  Tujuan pengukusan adalah untuk lebih memudahkan keluarnya minyak yang terdapat pada daging buah kelapa, sehingga tepung kelapa berkualitas baik dan tidak mudah menjadi tengik atau rusak.  Tujuan pemarutan; pemarutan daging buah kelapa yang baik yaitu dilakukan dengan cara melintang sesuai dengan arah alur serat hal ini agar supaya kandungan minyak yang terdapat pada partikel bahan dapat keluar lebih banyak serta untuk memudahkan dalam proses penggilingan dan penghalusan menjadi tepung. Demikian teknik dan cara pembuatan tepung kelapa semoga dapat bermanfaar bagi yang memerlukannya.(mnr)

Jumat, 01 Maret 2013

TEKNIK PERBANYAKAN TANAMAN LADA DENGAN STEK SATU RUAS

Tanaman Lada (Peper negrum L) berasal dari daerah India, di Indonesia jenis tanaman in sudah tidak asing lagi, hampir diseluruh kepulauan nusantara terdapat tanaman ini. Beberapa manfaat yang dapat diambil dari tanaman lada ini banyak sekali, sebagaian besar penduduk di Indonesia sampai sekarang masih mempergunakan lada ini sebagai bumbu masakan, untuk keperluan bahan obat-obatan maupun bahan kosmetika. Syarat tumbuh tanaman ini menghendaki tanah yang subur, gembur, draenase dan aerase baik, curah hujan yang sesuai untuk jenis tanaman ini antara 2000-2500 mm tiap tahun. Pada ketinggian tanah 600 meter dari permukaan laut (DPL) tanaman ini masih dapat berkembang dengan baik. Perkembang biakan tanaman lada ini dapat dilakukan dengan menggunakan biji maupun stek, tetapi yang lazim dilakukan adalah dengan menggunakan stek, karena dengan cara ini tanaman akan cerpat berbuah diperoleh tanaman yang seragam, adapun yang paling utama adalah diperoleh sifat keturunan dari induknya yang masih dalam keadaan utuh. Pembuatan stek lada dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan stek panjang dan stek pendek. Stek panjang yaitu dengan menggunakan tujuh ruas, sedangkan untuk stek pendek cukup dengan satu ruas saja. Keuntungan pemakaian stek satu ruas ini adalah bahwa kebutuhan bahan yang digunakan untuk tanaman relative lebih sedikit, dibandingkan dengan menggunakan stek panjang, dengan kata lain menghemat bahan tanaman untuk stek. Resiko kematian pada stek satu ruas ini apabila ditanaman lebih kecil, karena bibit asal stek satu ruas umumnya sudah siap untuk dipindahlkan, akan tetapi pemakaian stek satu ruas inipun ada pula kelemahannya yaitu pembuatan steknya harus disemaikan terlebih dahulu dan baru bisa ditanaman setelah stek berumur 4-5 bulan di pesemaian. Pada umur ini keadaan tanaman telah bertdaun sebanyak 4-5 helai dan tingginya telah mencapai 30-40 cm. PEMILIHAN BAHAN TANAMAN UNTUK STEK Stek diambil dari bahan tanaman yang berasal dari batang atau sulur, pengambilan sulur/cabang yang benar akan diperoleh hasil yang baik. Sulur tanaman lada dapat dibedakan menjadi empat macam yaitu: a. Sulur panjat. Sulur panjat ini ditandai dengan adanya akar lekat yang ada pada ruas-ruasnya, ini merupakan ciri khusus dari pada sulur panjat. Akar lekat ini berfunbgsi untuk memanjat pada lanjarannya. Ciri lain pada sulur panjat ini adalah mempunyai tingkat pertumbuhan yang cepat. b. Sulur buah Pertumbuhan sulur buah ini mendatar, sulur ini tidak mempunyai akar lekat pada ruas-ruasnya, sulur ini kan memproduksi buah. c. Sulur gantung. Sulur gantung merupakan cabang yang tumbuh menggelantung kearah bawah, sulur ini tidak baik untuk menghasilkan buah maupun untuk stek. Apabila sulur ini dibiarkan akan tumbuh terus dan apabila tanpa dipangkas akan mengganggu pertumbuhan sulur buah. d. Sulur tanah Cabang yang tumbuh dari batang menjalar dipermukaan tanah disebut sulur tanah, sulur ini serbaiknya dipangkas saja, karena tidak dapat memberikan hasil yang baik. Dari keempat sulur tersebut yang paling baik untuk digunakan sebagai bahan stek adalah sulur panjat, sebab disamping cepat pertumbuhannya, sulur ini adalah tumbuh memanjat pada tajarnya. Walaupun sulur buah dapat dipergunakan untuk bahan stek, akan tetapi sulur ini pertumbuhannya lebih lambat dan lebih awal mengeluarkan bunga, kendati keadaan batangnya belum mampu atau belum siap untuk berproduksi. Biasanya jumlah produksi yang dihasilkan oleh sulur panjat ini lebih tinggi dari pada sulur jenis lainnya. MENENTUKAN BAHAN STEK. Bahan stek diperoleh dari kebun induk yang terawat baik, bebas dari hama dan penyakit, berasal dari tanaman yang telah berumur 3-4 tahun, dapat juga diambil dari kebun khusus perbanyakan. Sebaiknya stek diperoleh dari induk yang jelas varietasnya, apabila tidak bisa memperoleh varietas unggul, dapat mempergunakan variertas yang sudah beradaptasi dengan daerah setempat. Sulur dalam keadaan sehat, subur dan sudah setengah mengkayu (berkayu), memilki mata tidur pada ketiak daun. CARA PEMBUATAN PESEMAIAN STEK SATU RUAS. Pembuatan stek satu ruas bisa dilakukan pada bedengan maupun polybag. Apabila menggunakan polybag, tanah agar dicampur dengan pupuk kandang. Perbandingan 1/3 bagian tanah, 1/3 bagian pupuk kandang dan 1/3 bagian pasir. Tujuan dari pada pemberian pasir dimaksud agar supaya media tanam menjadi ringan, sehingga akar tanaman mudah menembus tanah dan tumbuh subur. Pesemaian pada bedengan, ukurannya disesuaikan dengan kebutuhan stek yang kita perlukan. Jumlah pemberian pupuk kandang pada bedengan sebanyak 1-2 kg setiap meter persegi, adapun fungsi pupuk kandang ini adalah untuk memperbaiki struktur tanah sehingga tanah menjadi remah. Setelah bedengan atau polybag siap ditanami, bibit berupa bahan tanaman untuk stek dipatong sepanjang 1 (satu ) ruas, pemotongan kurang lebih 1 cm diatas ruas. Stek ini mempunyai 1 helai daun dan diupayakan agar setiap stek mempunyai 1 helai daun, hal ini untuk membantu proses photo synthesis. Kedalaman penanaman stek sepanjang ruas stek tersebut, sehingga stek masih kelihatan 1 cm diatas ruas dari permukaan tanah. Sebelum ditanam stek tersebut sebaiknya dicelupkan terlebih dahulu kedalam larutan ZPT (zat perangsang tumbuh) dengan konsentrasi 10 %, apabila menggunakan Rotone f agar dibuat pasta terlebih dahulu. Pada waktu penanaman tanah harus dalam keadaan basah, sebab untuk memudahkan penanaman stek. Adapun penanaman dengan bedengan jarak tanaman yang digunakan 5-10 cm, sedangkan penanaman dengan menggunakan polybag dapat diatur sesuai dengan situasi dan kondisiatau keinginan kita. Intensitas sinar matahari dalam bedengan diusahakan 50 %, sedangkan bila menggunakan polybag, stek lada sebaiknya disungkup dengan plastik yang tembus pandang (transparan), umunya lama penyungkupan berkisar antara 2-3 minggu hal ini untuk merangsang pertumbuhan tunas. PEMELIHARAAN PESEMAIAN STEK Untuk menjaga kelembaban dan memenuhi kebutuhan air, maka pesemaian perlu dilakukan penyiraman. Pada tanah yang normal penyiraman dilakukan 1 kali sehari, sedangkan untuk tanah yang porositasnya tinggi dapat disiram dua kali dalam sehari atau disesuaikan situasi dan kondisi. Pemeliharaan selanjunnya yaitu menyiangi gulma atau rumput-rumputan yang tumbuh disela-sela stek. Selanjtnya pemindahan stek kelapangan atau ke kebun permanen dilakukan setelah stek berumur 4-5 bulan, dimana stek telah berdaun kira-kira 4-5 helai dan tingginya telah mencapai 30 -40 cm Demikian teknik perbanyakan tanaman lada dengan menggunakan stek satu ruas semoga dapat bermanfaat bagi yang membutuhkannya. (mnr)

Selasa, 26 Februari 2013

KEY PERSON MERUPAKAN MITRA KERJA BAGI PENYULUH PERTANIAN


Bahwa untuk membuka atau memulai sesuatu pekerjaan kita harus mengetahui kuncinya, atau rahasianya. Seandainya kita telah mengetahui kunci dan rahasinya segala sesuatu pekerjaan apapun yang akan  kita lakukan Insya Allah tidak akan mengalami kesulitan atau hambatan yang berarti, setidak-tidaknya kunci itu akan dapat membantu  atau mempermudah jalan bagi kita.
Begitu pula dalam pelaksanaan penyuluhan pertanian, bahwa untuk menerapkan suatu teknologi baru dikalanagn masyarakat petani kita perlu mengetahui betul kuncinya, seandainya kita tidak mengetahui kuncinya, kita pasti akan mengalami banyak kendala atau hambatan dan bahkan kesulitan yang pelik
Perlu kita ketahui bahwa tujuan dari pada penyuluhan pertanian pada dasarnya adalah perubahan perilaku petani dan keluarganya, sehingga mereka tahu, mau dan mampu merubah pengetahuan sikap dan keterampilannya dalam berusaha tani yang pada akhirnya dapat meningkatkan produksi pendapatan dan tingkat kesejahteraannya.
Melihat tujuan penyuluhan pertanian sangatlah jelas, bahwa penyuluhan pertanian berbeda dengan penerangan, karena apa ? karena penerangan pada umumnya penyampaian pesan hanya sampai pada pemberian informasi semata. Akan tetapi yang namanya penyuluhan pertanian justeru harus dapat merubah perilaku secara utuh yang meliputi aspek pengetahuan (cognitif), sikap (afektif) dan keterampilan                    (Psikomotorik).Sehingga cakupan dari penyuluhan pertanian yang begitu luas dan kompleks itu maka pemahaman tentang sasaran penyuluhan pertanian sangat diperlukan, untuk itu seorang penyuluh pertanian wajib untuk menguasai psikologi masyarakat khususnya psikologi  dari masyarakat pedesaan.
Mengingat bahwa suatu masyarakat bertingkah laku  atau bersikap sangatlah kompleks, apalagi kalau ada hubungannya dengan penerapan suatu teknologi baru, maka petani tidak akan secara langsung percaya dan menerapkan apa yang disuluhkan oleh seorang penyuluh pertanian.
Perlu kita ketahui pula bahwa didalam masyarakat pedesaan terlihat adanya sistim pengambilan keputusan yang berpola, maksudnya apabila beberapa orang sudah berkata atau bersikap atau bertindak maka dengan sendirinya yang lain cenderung untuk mengikutinya. Hal ini sangatlah wajar, karena masyarakat kita dipede saan umunya masih termasuk kategori masyarakat yang paternalistik. yaitu salah satu cirinya sangat menjunjung tinggi perkataan atau sikap dari orang yang dihormati. Nach disinilah pentingnya bagi seorang penyuluh pertanian untuk memahami siapa-siapa saja yang  menjadi panutan masyarakat dalam suatu daerah tertentu untuk dijadikan sebagi seorang pioner atau embrio pembangunan pertanian khususnya dalam penerapan alih teknologi baru. Dan orang-orang inilah yang kita sebut  sebagai KEY PERSON atau tokoh kunci. Adapun seseorang menjadi tokoh kunci dimasyarakat akan timbul dan tumbuh secara alamiah, tanpa dirinya yang harus menonjolkan diri, biasanya langsung ditentukan oleh masyarakat setempat. Adapun seorang untuk menjadi key person karena bermacam-macam sebab diantaranya; Pengetahuannya yang luas, kepribadiannya yang menarik, keahlian pada bidang tertentu dan sebagainya.
Adapun secara garis besar key person dibedakan menjadi;:
1.Key person karena pengetahuannya yang luas.
Hal ini terlihat pada kepala desa atau lurah, Ketua organisasi dan sebagainya, mereka dihormati dan dipanuti karena pengetahuannya pada bidang tertentu dan biasanya berhubungan dengan jabatan formal, pendidikannya relatif tinggi dan pergaulannya lebih luas, mudah memahami suatu inovasi atau hal-hal yang sifatnya baru.
2.Key person karena kepribadiannya.
Mereka dihormati dan menjadi panutan karena mempunyai kepribadian yang menyenangkan dimasyarakat, biasanya jujur, ramah dan dapat dipercaya baik dalam perkataan maupun tindakannya. contoh dari golongan ini adalah para kyai, alim ulama, para pendeta, kepala adat dan sebagainya.
3. Key person karena mempunyai keahlian tertentu.
Golongan ini dijadikan panutan karena memilki keahlian tertentu yang jarang dimilki oleh kebanyakan masyarakat sekitarnya. adapun contoh dari golongan ini adalah seorang Dokter yang berdomisisli disebuah desa..
 Dengan besarnya peranan Dari Key person dalam penyuluhan pertanian , maka seorang penyuluh pertanian harus memahami betul siapa-siapa di wilayah kerjanya yang dianggap  sebagai tokoh kunci ,mereka harus kita prioritaskan dan kita manfaatkan sebagai pelopor pembangunan pertanian diwilayah kerja kita , sehingga tidak terjadi adanya gesekan, benturan kepentingan atau gejolak sosial, karena apabila terjadi suatu tyang tidak kita inginkan, maka akan dapat berakibat fatal terhadap program penyuluha pertanian khususnya dalam adopsi inovasi baru dibidang pertanian.
Key person atau tokoh kunci ini dapat kita jadikan sebagai penyuluh pertanian sukarela dan mereka akan dapat membantu penyuluh pertanian dalam memobilisasi massa, penyebaran informasi teknologi baru, sebagai demonstrator percontohan teknologi baru, dan dapat pula menguatkan dan mengeratkan persatuan kelompok tani serta dapat membantu dalam pemecahan masalah yang timbul.
Mengingat begitu besarnya peranan key person atau tokoh kunci dalam kelancaran penyluhan  pertanian, maka seorang penyuluh pertanian wajib untuk memahami dan mencermati siapa-siapa saja yang menjadi tokoh kunci serta perlu pendekatan dan kerjasamna dengan mereka secara baik, dan kalau kita melakukan pekerjaan ini semua dengan baik  dan tulus ikhlas pasti Allah Swt akan memberi jalan keluar atau kemudahan  bagi kita dalam melaksanakan penyuluhan pertanian amien.(mnr)

Jumat, 22 Februari 2013

TEKNIK PEMBUATAN SELAI DARI BUAH-BUAHAN

Buah-buahan adalah merupakan hasil pertanian yang banyak dibudidayakan oleh petani baik didaerah pedesaan maupun perkotaan. Buah-buAhan ternyata sangat dibutuhkan dalam usaha pemeliharaan kesehatan tubuh kita khususnya untuk pemenuhan gizi yang berupa vitamin serta berfungsi sebagai bahan pengatur dalam proses metabolisme tubuh, mempertahankan fungsi dan mempengaruhi pertumbuhan dan pembentukan sel-sel baru. Pada umumnya buah-buhan buah-buahan melimpah jumlahnya pada saat musim panen atau pada saat musim tertentu, dikarenakan antara jenis buah yang satu dengan yang lainnya saat panennya tidak bersamaan, namun adakalanya ada tanaman buah yang yang berbuah tak mengenal musim sehingga sepanjang tahun serlalu menghasilkan buah. Untuk mengetahui adanya kerusakan atau kebusukan yang merupakan sifat dari buah-buhan, melalui tulisan ini kami perkenalkan Cara pembuatan selai dari buah-buahan secara sederhana. Selai adalah merupaskan produk yang diperoleh dari pulp buah-buahan atau buah-buahan yang telah dihancurkan dengan cara diparut atau diblender. Kemudian bahan tadi dimasak dengan ditambah gula pasir hingga mencapai kekentalan tertrentu. Untuk pembuatan selai buah biasanya dibutuhkan perbandingan antara 45 % bagi buah-buhan dan 55 % bagian gula. Buah yang digunakan: Buah buahan yang digunakan untuk pembuatan selai harus betul-betul buah yang telah masak agar diperoleh flavor atau aroma serta cita rasa dan warna yang baik, umumnya dapat digunakan dari bermacam-macam jenis buah-buahan seperti mangga,nanas, sirsak, durian, sawo, nangka, tomat, melon dan buah lainnya. Buah-buahan sebelumnya dikupas dan dicuci dahulu agar bersih dan selanjutnya baru dihancurkan dengan cara diparut atau diblender. Biasanya untuk menghancurkan buah-buahn yang agak padat dilakukan pemasakan terlebih dahulu dengan ditambah air sedikit mungkin. Gula yang diperlukan Banyaknya gula yang diperlukan untuk pembuatan selai ditentukan oleh jenis buah, tingkat kematangan buah serta keasaman dari buah itu sendiri. Umumnya digunakan perbandingan volume buah dengan air 1:1, tetapi dapat juga bervariasi sesuai dengan selera kita dan umumnya hanya berkisar 3:4 sampai dengan 5:4 Untuk buah yang rasanya manis atau tingkat keasamannya rendah tidak memerlukan gula sebanyak buah-buahan yang yang rasanya masam, sebaliknya pemakaian gula yang terlalu banyak akan menghasilkan selai yang kurang baik, karena rasa buahnya itu sendidri tidak meninjol dan kurang terasa. Bila kita akan membuat selai dari buah yang memiliki rasa netral seperti papaya atau jambu air sebaiknya perlu ditambahkan asam untuk menambah atau memperbaiki flavor atau aroma selai. Cara pengolahan Bahan-bahannya antara lain ; Buahan-buahan, Gula pasir, air bersih dan lainnya Alata -alatnya ; Pisau, panci, wajan, gelas, pengaduk, belnder/ parut, saringan, botol, kompor dan lainnya Cara Kerja; Buah-buahan yang telah masak dikupas dan dicuci terlebih dahulu sampai bersih, buah dipotong-potong agar mudah untuk dihancurkan dan buang;lah bagian buah yang tidak dibutuhkan. Selanjutnya buah yang telah dipotong-potong tadi dihancurkan dengan menggunakan blender atau diparut. Buah yang telah diblender masukkan kedalam panci dan tambahkan sedikit air , kemudian panaskan dengan kompor. Usahakan api kompor jangan terlalu kebesaran, setelah separoh dari air buahnya menguap, tambahkan gula pasir dengan perbandingan 1:1 atau 3:4 dan panaskan terus diatas kompor hingga adonan tadi mencapai kekentalan tertentu sesuai dengan keinginan kita, selanjutnya selai yang sudah matang tadi tuangkan kedalam toples atau botol khusus selai dalam keadaan masih panas dan tutuplah rapat-rapat. Setelah dingin selai dapat dikonsumsi sebagai pengisian roti atau campuran es krim dan dapat pula dikonsumsi langsung. Demikian sekilas teknik pembuatan selai dari buah-buahan semoga dapat barmanfaat bagi yang membutuhkannya.(mnr)

Kamis, 21 Februari 2013

TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN KELAPA SERTA UPAYA PENGENDALIANNYA

Sejak zaman dahulu kala kelapa telah ditanam dan merupakan bahan makanan yang tumbuh sebagai tanaman pekarangan. Di Indonesaia tanaman kelapa terdapat diseluruh propinsi. Di daerah padat penduduknya seperti di Pulau Jawa dan Pulau Bali, kelapa lebih banyak ditanam sebagai tanaman pekarangan, akan tetapi di daerah luar Pulau Jawa dan Bali tanaman kelapa ditanam secara monokultur pada perkebunan kelapa. Selain itu tanaman kelapa ditanam di daerah pasang surut seperti di Propinsi Riau, Jambi dan Kalimantan Barat. Di Indonesia kelapa merupakan sumber lemak nabati yang utama yaitu berkisar antara 50-70 % dari seluruh kebutuhan konsumsi lemak. Diperkirakan lebih dari satu juta penduduk Indonesia mempunyai nafkah secara langsung dari usaha kelapa. Karena penyebarannya yang merata di seluruh tanah air, maka dapat dikatakan bahwa peranan sosialnya menempati urutan kedua sesudah tanaman padi. Sumbangan komoditas kelapa terhadap Gross National Produk ( GNP ) sebesar 2 %. ( Anonim 1985). Konsumsi kelapa di Indonesia setiap tahunnya selalu meningkat sebesar 4,9 %. Peningkatan ini sesuai dengan pertambahan penduduk dan konsumsi perkapita penduduk Indonesia. Dilain pihak tingkat produksi kelapa setiap tahunnya hanya 3,9 % sehingga untuk menutupi kekurangannya sejak tahun 1980 konsumsi minyak gorerng perlu ditambah dari minyak kelapa sawit sebesar 750.000 ton pertahun ( Anonim 1985). Budidaya tanaman kelapa pada lahan pekarangan bertujuan untuk memperoleh tanaman kelapa yang berpotensi produk tinggi dan cepat menghasilkan, juga untuk merangsang dan menggerakkan petani menanam kelapa di pekarangan. TEKNIK BUDIDAYA Syarat tumbuh tanaman kelapa adalah sebagai berikut : • Curah hujan minimal 1500 mm/tahun, tersebar merata dan musim kering tidak lebih dari 5 bulan. • Suhu rata-rata optimum berkisar 27 -28 derajat celcius. • Kebutuhan sinar matahari • Kebutuhan sinar matahari dala setahun + 200 jam penyinaran , atau Sekurangnya 120 jam penyinaran sebulan. • Tinggi tempat tidak lebih dari 400 meter dari permukaan laut dengan kelembaban berkisar 80 % - 90 % . • Keadaan angin yang bertiup tidak boleh terlampau keras • Tanaman kelapa dapat tumbuh pada berbagai macam tekstur tanah asalkan mempunyai draenase dan aerasi baik dengan pH tanah berkisar antara 5-8 Adapun teknik budidaya kelapa umumnya melalui 3 tahapan yaitu pesemaian , pembibitan , penanaman dan pemeliharaan PESEMAIAN. Pesemaian dapat dilakukan pada tanah pekarangan. Pada bedeng pesemaian seluas 1 meter persegi dapat disemai sebanyak 30 butir kelapa. Agar benih yang disemaikan dapat tumbuh dengan baik, diperlukan beberapa persyaratan teknis yaitu : 1. Lokasi Pesemaian. Lokasi harus dekat dengan sumber air, agar memudahkan penyiraman terutama pada musim kemarau. Tanah diolah dengan garpu atau cangkul sedalam 30cm -40 cm kemudian dibuat bedengan. 2. Seleksi benih dan pelaksanaannya Seleksi benih, Sebelum disemaikan benih kelapa harus diseleksi yang didasarkan pada ciri-ciri sebagai berikut:  Bentuk benih bulat atau bulat lonjong  Benih berasal dari buah yang masak, berwarna coklat dan kandungan air cukup.  Buah mempunyai bobot yang berat.  Keadaan kulit buah , licin serta tidak ada tanda-tanda serangan hama dan penyakit.  Sebaiknya benih yang akan disemaikan telah mengalami penyimpanan selama 1 bulan dihitung setelah tanggal petiknya. Pelaksanaan. Penyayatan( cutting) Sebelum benih disemaikan, lakukan penyayatan pada tonjolan didepan/ berseberangan dengan sisi terlebar. Lebar sayatan + 5 cm, jangan terlalu lebar dan terlalu dalam serta jangan melewati kelopak atau mengenai tempurungnya Tujuan dari penyayatan adalah : - Memudahkan masuknya air kedalam sabut - Memudahkan pemeriksaan kejenuhan air yang diserap sabut pada waktu penyiraman - Memudahkan dan menyeragamkan pertumbuhan tunas. Pengecambahan/ Pendederan Tanah tempat pengecambahan digemburkan. Bila di inginkan, benih sebelum didederkan dapat dicelupkan kedalam larutan insektisida Azodrin 60 EC dengan konsentrasi 0,1 % selama 2 menit. Buah kelapa ditanam agak miring ( 15 %) berderet saling bersinggungan. Bidang sayatan menghadap keatas dengan arah yang sama. bagian yang tertimbun tanah 2/3 bagian buah. Bagian sayatan, sabut serta lembaga tidak boleh tertimbun tanah. Ruangan diantara bibit harus ditimbun dengan tanah sampai padat. Pemeliharaan meliputi penyiangan, pengaturan draenase dan penyiraman. Penyiraman selama musim kemarau dilakukan pagi dan sore sebanyak 4-6 liter permeter persegi setiap hari. Seleksi bibit di Pesemaian. Bibit atau cikal dapat dipindahkan ke pembibitan bila tunas sudah keluar dan mencapai panjang 3-5 cm (berumur kurang lebih 2 minggu ). Sebelum dipindahkan bibit harus diseleksi dahulu untuk memperoleh bibit yang baik dan bermutu. Pembibitan. 1) Untuk memperoleh hasil pembibitan yang baik, digunakan polybag berkuran panjang 40 cm, lebar 50 cm, tebal 0,2 mm. sebelum digunakan polybag diberi lubang dengan diameter 0,5- 1 cm dengan jumlah lubang 36 -48 buah. 2) Tanah untuk mengisi polybag adalah tanah lapisan atas ( top soil ) yang telah digemburkan. Bentuk kantong setelah diisi tanah harus silindris dan bila diletakkan datas tanah harus berdiri tegak lurus. Pengisis polybag, sampai leher kecambah berada dalam satu garis dengan permukaan tanah. 3) Jarak tanam bibit dihitung dari jarak kecambah dalam kantong polybag dengan kecambah dalam polybag berikutnya, adapun jarak antar polybag disesuakan dengan keadaan, dijaga agar antar daun tidak saling bersingungan. 4) Pemeliharaan bibit. a. Penyiraman dilakukan pagi dan sore hari sebanyak 1 liter air per polybag b. Pemupukan dilakukan 1 bulan sekali dengan dosis Urea : 10 Gram, TSP: 10 gram KCl 15 dan Kiserit 10 Gram. Penanaman dan Pemeliharaan. 1. Lokasi penanaman. Lokasi penanaman harus pada tempat yang terbuka ( cukup sinar matahari) dan jarak dari tanaman tahunan lainnya minimal 9 meter dari pokok tanaman. Tanah harus bersih dari sisa tanaman, rumput dan alang-alang. 2. Pembuatan lubang tanaman. - Digali lubang tanaman dengan ukuran 60x60x60 cm - Tanah galian bagian atas ( top soil ) diletakkan disebelah kanan lubang dan tanah galian bagian bawah diletakkan disebelah kiri lubang. - Lubang tanaman dibuat sekurang-kurangnya 1 bulan sebelum penanaman - Jarak tanam sebaiknya 9x9 meter - Pada tanah miring sebaiknya menggunakan sisitim kontur dan daerah pasang surut disesuaikan dengan kondisi tempat . 3. Penanaman. • Penanaman dilakukan pada saat awal musim hujan dan curah hujan mencapai 150 mm pada bulan sebelum penanaman . • Pengangkutan bibit dalam kantong polybag harus hati-hati, agar kantong plastic tidak sobek atau pecah. • Dasar lubang ditimun dengan tanah galian, bagian atas yang sudah dicampur 250 gram TSP dan pupuk kandang secukupnya. Tinggi timbunan tanah dasar lubang, adalah dalamnya lubang tanaman dikurangi tinggi tanah dalam kantong palstik ditambah 10 cm. • Dasar kantong plastic dipotong dengan pisau dari samping dan dibuka. tanaman dimasukkan kedalam lubang tanamn dengan posisi tepat dan tegak lurus pada waktu memasukkan bibit, telapak tangan memegang dasar kantong plastic. • Bagian lubang sekitar tanaman diisi dengan tanah bagian atas 2/3 tinggi kantong. Polybag dibuka pada dua tempat dengan pisau panjang, kemudian ditarik keluar. Selanjutnya lubang ditutup dengan tanah bagian atas dan tanah disekitar lubang tanaman. Tanah di sekelilingnya selebar 100 cm dari lubang tanaman dibuat melandai kearah permukaan tanah sekitar lubang. • Dibuat bedengan tanaman kelapa dengan jarak 100 cm untuk mencegah air hujan masuk kedaerah leher batang. 4. Pemeliharaan a) Bobokor/ merumput Tanah disekeliling pangkal batang dibersihkan/ disiangi baik secara manual maupun kimiawi dengan lebar piringan pohon tergantung kapada lebar tajuk dan atau menurut umur tanaman. b) Pemupukan. Pada saat penanaman, setiap lubang tanam diberi 250 pupuk NPK Setelah tanaman berumur 1 bulan diberi 100 gram Urea secara menyebar pada jarak kurang lebih 15 cm dari pangkal batang. Untuk tanaman yang belum menghasilkan (TBM) dan tanaman menghasilkan (TM) pemakaian pupuk dilakukan 2 kali dalam setahun yaitu pertama pada saat akhir musim hujan dan yang kedua pada awal musim hujan. c) Pembumbunan. Tanaman kelapa yang telah menghasilkan sewaktu-waktu perlu dibumbun. Tujuannya untuk merangsang pertumbuhan akar pada daerah pembumbunan, sehingga pertumbuhan dan perkembangan tanaman baik. Pengendalian Hama Penyakit. Kerusakan tanaman kelapa yang disebabkan oleh hama kumbang nyiur ( oryctes rhinoceros.L ) cukup besar, hal ini menimbulkan kerugian yang sangat besar, namun ada kalanya petani tidak menyadari dampak dari serangan ini. Padahal kerugian yang ditimbulkan bukan hanya dirasakan oleh petani saja, akan tetapi dirasakan juga oleh Pemerintah. Kumbang nyiur atau wangwung ini ternyata tidak hanya menyerang tanaman kelapa di daerah Kabupaten Rembang saja, akan tetapi merupakan hama tanaman kelapa yang banyak merugikan di daerah-daerah seluruh Jawa Tengah. Hama ini merupakan hama yang selalu ada sepanjang tahun dan dapat menurunkan produksi kelapa, dan pada tingkatan yang drastis dapat menimbulkan kematian pada tanaman kelapa. Gejala serangan Bekas serangan hama kumbang nyiur pada tanaman kelapa dapat dilihat dari adanya daun-daun yang terpotong–potong berbentuk segitiga atau berbentuk kipas. Bagian yang terserang adalah pucuk pohon atau pangkal daun muda, yaitu bagian pohon yang banyak mengandung cairan bergizi dan apabila tanaman kelapa terserang pada titik tumbuhnya tanaman bisa mati. Selama hidupnya kumbang nyiur mengalami empat fase yaitu : - Telur kurang lebih 12 hari - Larva 8-16 minggu - Pupa atau kepompong 2-4 minggu - Imago atau dewasa 6-10 minggu. Umumnya setelah berumur 28 hari, kumbang nyiur baru bisa terbang untuk mencari makanan, sehingga siklus hidup kumbang nyiur dari telur hingga dewasa memerlukan waktu selama 4-6 bulan. Kalau kita menengok kebelakang kira-kira pada tahun delapan puluhan, terlihat bahwa disepanjang pantai utara Kabupaten Rembang masih nampak adanya pohon nyiur yang melambai-lambai. Namun pada millennium ketiga ini, nampaknya lambaian nyiur itu sudah tak nampak lagi, kemanakah gerangan perginya nyiur yang selalu melambai-lambai itu… ? Dengan melihat kondisi semacam ini kita merasa prihatin dan terdorong untuk peduli terhadap upaya peningkatan produksi tanaman kelapa di Kabupaten Rembang dengan cara membudidayakan Tanaman kelapa serta upaya Pengendalian Hama Penyakitnya atau yangt dikenal dengan istilah pengendalian Hama Terpadu. I. Tujuan Pengendalian Hama terpadu. Pengendalian hama terpadu tanaman kelapa adalah upaya pengendalian yang dilaksanakan dengan mengutamakan prinsip-prinsip yang berwawasan lingkungan, sehingga diperoleh kesimbangan antara hama dan musuh alami. Dengan cara ini kelestarian lingkungan baik biotik maupun abiotik dapat terpelihara dengan baik dan produksi kelapa pun diharapkan dapat meningkat. II. Kegiatan Utama Pengendalian Hama Terpadu Tanaman Kelapa. Pelaksanaan pengendalian Hama Terpadu tanaman kelapa adalah merupakan kombinasi dari pengendalian hama yang sudah berjalan selama ini, hanya penekanannya yaitu bahwa pengendalian hama terpadu harus menyangkut beberapa aspek antara lain : 1. Berwawasan lingkungan 2. Menjaga keseimbangan antara hama dan musuh alami. 3. Penggunaan pestisida merupakan alteranif terakhir. Jadi pelaksanaan pengendalian hama terpadu pada prinsipnya mengutamakan pencegahan dan pengamatan dini sebelum terjadi adanya serangan hama. Kegiatan Utama Pengendalian hama terpadu. 1. Membersihkan Mahkota daun. Membersihkan mahkota daun merupakan kegiatan pokok, pada kegiatan ini seluruh kotoran yang berupa sisa seludang, bekas guguran bunga maupun ijuk yang ada harus dibersihkan, sehingga mahkota daun menjadi bersih yang dapat mencegah antara lain : a. Bebas hama tupai atau bajing, tikus serta hama lainnya. b. Bebas dari penyakit rontok buah dan penyakit busuk pucuk, karena kelembaban mahkota daun dapat terkendali. 2. Sanitasi Lingkungan. Rumput-rumput yang tumbuh disekitar pohon atau kebun harus dibersihkan, begitu pula sissa-sisa penggilingan tebu, tumpukan jerami, tumpukan pupuk kandang harus juga dibersihkan, Karena tempat inilah yang banyak digunakan sebagai sarang bagi kumbang nyiur untuk meletakkan telurnya dan berkembang biak disana hingga dewasa. 3.. Pengendalian secara Hayati atau Biologis. Pengendalian secara hayati atau biologis yaitu pengendalian hama dengan menggunakan mahluk hidup, baik berupa predator maupun parasit. Contoh pengendalian dengan predator misalnya dengan menggunakan burung hantu yang dapat memakan hama tikus maupun tupai yang sering merusak tanaman kelapa. 4. Pemeliharaan tanaman Hal ini untuk mendapatkan tanaman yang sehat dan kuat, yaitu dengan perawatan secara rutin dan intensif, diadakan pemupukan berimbang serta harus memperhatikan prinsip lima tepat dalam pemupukan yaitu; Tepat jenis, Tepat Dosis, Tepat waktu, Tepat cara dan tepat tempat. 5. Pengendalian secara kimiawi Pengendalian secara kimiawi adalah merupakan alternative terakhir atau pamungkas hal ini dilakukan apabila pengendalian dengan cara lain sudah diupayakan, akan tetapi belum berhasil, maka pengendalian secara kimiawi inilah baru diterapkan, inipun harus dilakukan dengan penuh pertimbangan. Adapun dalam pengendalian secara kimiawi jenis pestisida yang dipergunakan ada tiga jenis yaitu ; 1. Pestisida berbentuk Cairan ( EC ) 2. Pestisida yang berbentuk butiran ( G ) 3. Pestisida Berbentuk Puder ( SP ) Contoh pengendalian hama tanaman kelapa dengan pestisida untuk hama yang sifatnya ekplosif misalnya hama Artona Xatoksanta yaitu dengan jalan menyuntikkan pestisida sistemik kedalam batang tanaman kelapa dengan konsentrasi 100 %. caranya batang pohon kelapa dibor terlebih dahulu sedalam 10-15 cm dengan kemiringan tertentudan kemudian masukkan larutan insektisida tersebut sebanyak 10 cc/ pohon. kemudian lubang tersebut ditutup dengan lilin atau kayu. Dalam waktu sekitar 24 jam insektisida tersebut sudah menyebar kesluruh jaringan tanaman. Selanjutnya insektisida tersebut akan akan aktif sampai dengan waktu satu bulan kedepan. Adapun untuk pestisida yang berbentuk Granuler atau butiran caranya diberikan pada mahkota daun mulai dari daun yang teratas sampai dengan tujuh pelepah daun dibawahnya. Dengan dosis 5-10 gram/ pohon. Perlakuan ini untuk pengendalian hama kumbang nyiur atau wangwung Sedangkan untuk pestisida dalam bentuk tepung atau puder, caranya pestisida dilarutkan terlebih dahulu dengan air dengan dosis dan konsentrasi tertentu, barulah setelah itu disemprotkan dengan menggunakan Hand sprayer kebagian tajuk kelapa yang terserang hama/ penyakit. Pestisida jenis ini biasanya untuk pengendalian Hama Brontespha yang banyak menyerang pada seludang kelapa, sehingga terjadi kegagalan dalam pembuahan kelapa yang mengakibatkan kerugian pada petani. Demikian teknik Budidaya tanaman kelapa di Tanah Pekarangan serta upaya pengendalian hama penyakitnya, semoga tulisan dapat bermanfaat bagi masyarakat membutuhkannya.

KONSERVASI TANAH DAN AIR MERUPAKAN UPAYA UNTUK MELESTARIKAN SUMBERDAYA ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP

Akhir akhir ini kalau kita rasakan keadaan suhu dimuka bumi semakin hari semakin bertambah panas dan membakar, bencana kekeringan terjadi dimana mana dan mengenaskan, sedangkan pada musim penghujan banjir tak terelakkan datangnya sering dengan tiba tiba disertai lumpur yang mengakibatkan pendangkalan waduk waduk dan rusaknya jaringan irigasi, areal persawahan, perumahan penduduk serta infra struktur. Kejadian semacam ini sebagai indikator bahwa upaya Konservasi Tanah dan Air masih perlu ditingkatkan baik intensitas maupun efektifitasnya. Menyitir dari Kitab Suci Al Qur’an Surat Al Qhosos ayat 77, Allah SWT memberi peringatan kepada kita yang artinya: Dan janganlah kamu berbuat kerusakan dimuka bumi, sesungguhnya Allah tidak menyukai terhadap orang orang yang berbuat kerusakan. Begitu pula didalam ayat lain yaitu Qur’an Surat Ar Rum ayat 41 Allah SWT memberi peringatan yang keras kepada kita yang artinya: “Telah tampak kerusakan didarat dan dilaut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar. Manusia yang diciptakan Allah dimuka bumi sebagai Khalifah yang diberi akal dan pikiran mestinya harus terpanggil dan peduli untuk melestariakn bumi ini, sehingga bumi khususnya Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup tidak terjadi kerusakan yang semakin parah. Kalau kita menengok ke belakang sebenarnya Inpres Reboisasi dan Penghijauan telah dimulai hamper tiga dasa warsa yang lalu, tepatnya tahun 1976, akan tetapi nampaknya keberhasilan yang telah dicapai belum dapat mengimbangi lajunya perusakan bumi terutama kerusakan Tanah dan Air yang disebabkan oleh ulah tangan manusia. Adapun guna mengatasi masalah tersebut maka perlu ditingkatkan adanya Gerakan Konversi Tanah dan Air, adapun agar supaya Konversi Tanah dan Air dapat efisien dan efektif perlu adanya persepsi dan partisipasi yang sama antara Pemerintah dengan Masyarakat secara berkesinambungan. Apakah sebenarnya Konservasi Tanah dan Air itu ? Konservasi tanah dan Air adalah merupakan upaya manusia untuk mempertahankan, meningkatkan, dan atau merehabilitir daya guna tanah agar berfungsi sesuai dengan peruntukkannya. Pada Prinsipnya Metode KonservasiTanah dan Air ada lima yaitu 1. METHODE VEGETATIF Methode Vegetatif pada daqsarnya dilakukan melalui penenaman tanaman atau vegetasi, hal ini dikarenakan tanaman mampu untuk mengurangi erosi tanah, dapat menahan twtesan air hujan yag jatuh langsung kepermukaan tanah, dan Dapat memperbesar porositas yang kemudian dapat menambah infiltrasi tanah serta dapat menjadikan proses evavotraspirasi yang dapat mencegah run off atau aliran permukaan. 2. METHODE TEHNIK SIPIL Methode tehnik sipil sering di istilahkan dengan methode mekanik yaitu upaya penanggulangan erosi dan banjir yang untuk terlaksananya kegiatan ini memerlukan campur tangan manusia atau sarana fisik tehnik sipil / mekanik. Dalam hal ini untuk usaha pengendalian banjir contohnya dengan pembuatan Gully Drop, dan Gully plug. Sedangkan untuk usaha pengendalian erosi perlu Terasiring, dan untuk usaha pengawatan air perlu dibuat Dam pengendali dan sumur peresapan. 3. METHODE KIMIA Methode Kimia yaitu ke4giatan Konservasi Tanah dan Air berupa penambahan bahan imia kedalam tanah yang sifatnya tanah labil, sehingga diharapkan dapat memperbaiki struktur tanah, sehingga tanah lebih tahan terhadap erosi adapun bahan kimia yang dipergunakan untuk pengawetan tanah ini disebut Soil Conditioner. 4. METHODE BIOTEKNIK. Methodhe Bioteknik adalah kegiatan Konservasi Tanah dan Air dengan menggunakan bioteknik yaitu rekayasa penggunaan atau pemanfaatan berbagai jenis tanaman, baik batang, cabang, ranting maupun biji bijian atau di kombinasikan dengan berbagai bahan alam maupun buatan yang digunakan untuk membuat bentuk atau jenis bangunan penanggulangan erosi atau longsor. Sasaran metode ini adalah pada lokasi yang rawan erosi terutama pada lahan miring atau tempat tempat yang curam dan rawan longsor. 5. METHODE BIOLOGIS Konversi tanah dan air dengan metode biologis pada hakekatnya adalah upaya menciptakan kondisi yang sesuai untuk tumbuh dan berkembangbiaknya mikro organisma dalam tanah, dimana mikro organisme ini dapat membantu pembentukan struktur tanah yang baik yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman, disamping dapat meningkatkan daya serap dan daya pegang tanah terhadap air. Demikian sekelumit Teknologi Konversi Tanah dan Air semoga tulisan ini dapat menjadi pertimbangan dalam upaya pelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup.